RADAR BANYUWANGI – Program padat karya yang digelar Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi tidak hanya menjaga kelancaran jaringan irigasi, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat prasejahtera. Tahun ini, kegiatan pemeliharaan saluran air dilaksanakan serentak di 11 wilayah Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) dengan melibatkan puluhan warga sebagai tenaga kerja.
Di wilayah Korsda Bangorejo, sebanyak 30 warga direkrut untuk melakukan normalisasi saluran irigasi selama 15 hari. Mereka bertugas membersihkan sedimentasi dan gulma yang menghambat aliran air di sejumlah saluran irigasi penopang lahan pertanian di wilayah selatan Banyuwangi.
Kepala Korsda Bangorejo Yadi mengatakan, pekerjaan difokuskan pada saluran irigasi yang mengalami pendangkalan akibat endapan lumpur serta ditumbuhi rumput liar.
Lokasi pekerjaan tersebar di tiga desa, yakni Desa Bulurejo (Kecamatan Purwoharjo) pada Saluran Sekunder NGRO Ngadirejo, BLU 2 Kiri 1, dan BLU 2 Kanan; Desa Temurejo (Kecamatan Bangorejo) di Saluran Sekunder PWO Temurejo; serta Desa Sambimulyo yang menjadi lokasi penyelesaian pekerjaan pada hari terakhir, Selasa (22/7).
“Program padat karya berlangsung selama 15 hari. Hari terakhir kami berada di Saluran Sekunder Sambimulyo untuk menyelesaikan pembersihan sedimen dan gulma yang menghambat aliran air,” ujar Yadi.
Menurutnya, setiap hari para pekerja ditargetkan mampu mengangkat sekitar 40 meter kubik sedimentasi. Namun, karena ketebalan endapan berbeda-beda di setiap titik, penyelesaian satu ruas saluran terkadang membutuhkan waktu lebih dari satu hari.
Selain memperbaiki fungsi jaringan irigasi, program tersebut juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Total ada 30 warga sekitar yang kami libatkan. Seluruhnya berasal dari keluarga prasejahtera sehingga program ini sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi mereka,” katanya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi Cahyanto Hendri Wahyudi menjelaskan, program padat karya tidak hanya dilaksanakan di Bangorejo, melainkan secara serentak di seluruh wilayah kerja Dinas PU Pengairan.
Sepuluh wilayah yang menjadi lokasi pelaksanaan meliputi Korsda Genteng, Kabat, Bangorejo, Srono, Rogojampi, Singojuruh, Cluring, Pesanggaran, Tegaldlimo, Glenmore, dan Banyuwangi dengan total puluhan titik saluran irigasi yang menjadi sasaran pemeliharaan.
Menurut Cahyanto, program tersebut dirancang untuk memberikan manfaat ganda. Selain memastikan jaringan irigasi tetap berfungsi optimal demi mendukung produktivitas pertanian, kegiatan ini juga membantu meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penyediaan lapangan kerja sementara.
“Program ini memiliki manfaat ganda. Di satu sisi saluran irigasi tetap terpelihara sehingga suplai air untuk pertanian lebih optimal. Di sisi lain masyarakat prasejahtera memperoleh kesempatan bekerja dan mendapatkan tambahan pendapatan. Ini menjadi bagian dari upaya kami mendukung sektor pertanian sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Ia juga mengajak masyarakat menjaga saluran irigasi yang telah dinormalisasi dengan tidak membuang sampah maupun material lain ke dalam saluran.
Menurutnya, keberhasilan menjaga fungsi jaringan irigasi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.
“Kami berharap kepedulian masyarakat terus tumbuh. Irigasi yang terawat akan menjamin ketersediaan air bagi petani, meningkatkan hasil panen, dan pada akhirnya ikut menjaga ketahanan pangan Banyuwangi,” harap Cahyanto.
Salah seorang pekerja, Prianto, 35, mengaku bersyukur bisa terlibat dalam program tersebut. Selain memperoleh tambahan penghasilan, ia merasa ikut berkontribusi menjaga infrastruktur yang menjadi penopang utama aktivitas pertanian di wilayahnya. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin