RADARBANYUWANGI.ID - Ratusan pelajar dan penari muda di Kabupaten Banyuwangi mulai meningkatkan intensitas latihan menjelang seleksi calon penari Festival Gandrung Sewu 2026. Pembinaan dilakukan melalui sanggar seni hingga koordinator wilayah (korwil) kecamatan untuk mempersiapkan penampil terbaik dalam pagelaran kolosal di pesisir Pantai Marina Boom pada Oktober mendatang.
Seleksi penari Gandrung Sewu tahun ini menjadi ajang penting bagi generasi muda Banyuwangi untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menjaga keberlangsungan seni tradisi khas Bumi Blambangan. Berbagai wilayah kini mulai mematangkan persiapan, salah satunya Kecamatan Kalipuro.
Para calon peserta dari wilayah Kalipuro menggelar latihan gabungan secara rutin. Selain menyamakan detail gerakan, latihan tersebut juga difokuskan untuk membangun stamina dan kesiapan mental sebelum menghadapi proses penilaian tim penguji pada 23 Juli mendatang.
Pelatih pendamping tari Kalipuro, Rita Munikasari, S.Sn, menyampaikan bahwa latihan tahun ini memiliki tantangan berbeda dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Perubahan materi tari menjadi salah satu faktor yang harus diantisipasi para peserta.
"Perbedaannya memang terletak pada tari Gandrung yang digunakan untuk seleksi. Tahun kemarin menggunakan tari Gandrung Gurit Mangir, sedangkan untuk tahun ini menggunakan tari Gandrung Kembang Dermo," ujar Rita.
Menurut dia, tingginya minat pelajar untuk mengikuti seleksi menjadi modal positif dalam regenerasi penari Gandrung. Namun, sebagian peserta masih membutuhkan waktu untuk menguasai seluruh rangkaian gerak tari yang menjadi materi ujian.
"Tantangannya, banyak anak yang sebenarnya sangat berminat ikut seleksi, tetapi mereka masih belum hafal dengan gerakan tari Gandrung Kembang Dermo ini," jelasnya.
Perubahan materi seleksi tersebut berkaitan dengan tema besar Festival Gandrung Sewu 2026, yakni Kembang Dermo. Tema ini mengangkat filosofi bunga sakral dalam tradisi Seblang masyarakat Osing yang dikenal dengan istilah Sak Dermo.
Filosofi tersebut menggambarkan nilai keberkahan, perlindungan, serta keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Nilai budaya itu kemudian diterjemahkan melalui gerak tari yang akan dibawakan ribuan penari dalam satu panggung besar di tepi Selat Bali.
Proses seleksi dilakukan secara ketat untuk memastikan kualitas penampilan, keseragaman gerak, serta ketepatan formasi dalam pertunjukan kolosal. Setiap peserta dituntut tidak hanya memiliki kemampuan menari, tetapi juga mampu beradaptasi dengan karakter tari yang telah ditentukan.
Festival Gandrung Sewu sendiri menjadi salah satu agenda budaya unggulan Banyuwangi yang masuk dalam kalender wisata nasional Kharisma Event Nusantara (KEN). Selain memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, festival ini menjadi ruang pembinaan bagi seniman muda agar warisan budaya Banyuwangi tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Editor : Lugas Rumpakaadi