RADAR BANYUWANGI – Jarak yang jauh dari pusat pemerintahan tak lagi menjadi hambatan bagi warga di lereng hutan Desa Wongsorejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, untuk mengurus dokumen administrasi kependudukan (adminduk). Melalui inovasi Jemput Adminduk Warga Dusun di Desa (Jamu Desa), pemerintah desa menghadirkan layanan langsung ke permukiman warga, bahkan hingga malam hari menyesuaikan aktivitas para petani.
Program ini menjadi solusi bagi ribuan warga di Dusun Karangrejo Utara dan Karangrejo Selatan yang selama ini harus menempuh perjalanan lebih jauh menuju kantor desa. Kedua dusun tersebut berada di kawasan utara Desa Wongsorejo dan berbatasan langsung dengan hutan produksi Perhutani.
Alih-alih menunggu warga datang, petugas desa justru mendatangi titik-titik pelayanan yang dipusatkan di rumah kepala dusun, rumah ketua RT, hingga rumah warga. Dengan pendekatan jemput bola, masyarakat dapat mengurus berbagai dokumen kependudukan tanpa meninggalkan pekerjaan mereka terlalu lama.
Sekretaris Desa Wongsorejo, Yoyok Iwandani, mengatakan layanan Jamu Desa dilaksanakan secara rutin setiap dua pekan sekali dengan melibatkan enam petugas.
"Tujuannya agar masyarakat tidak perlu jauh-jauh datang ke kantor desa hanya untuk mengurus dokumen kependudukan. Kami yang mendatangi mereka," ujarnya.
Layanan yang diberikan mencakup berbagai kebutuhan administrasi kependudukan, mulai penerbitan Kartu Keluarga (KK), akta kelahiran, hingga dokumen kependudukan lainnya.
Menariknya, petugas juga membawa printer portabel sehingga dokumen yang telah selesai diproses dapat langsung dicetak di lokasi pelayanan.
"Kalau sistem kependudukan sedang tidak antre, dokumen bisa langsung dicetak saat itu juga. Kalau harus antre di sistem, paling lambat selesai dalam waktu 1x24 jam," jelas Yoyok.
Program Jamu Desa tidak hanya menyasar warga di permukiman. Pemerintah desa juga mendatangi sekolah-sekolah di wilayah Karangrejo setelah menemukan masih ada pelajar yang belum memiliki akta kelahiran.
Langkah tersebut dilakukan agar seluruh anak memiliki dokumen dasar yang menjadi syarat penting dalam mengakses layanan pendidikan maupun administrasi lainnya.
"Kami jemput bola ke sekolah karena masih ada siswa yang belum memiliki akta kelahiran. Padahal dokumen itu sangat penting untuk berbagai keperluan pendidikan," katanya.
Pelaksanaan pelayanan pun dibuat fleksibel mengikuti ritme kehidupan masyarakat. Mengingat sebagian besar warga bekerja sebagai petani, petugas kerap membuka layanan hingga malam hari agar warga tetap bisa mengurus dokumen setelah pulang dari sawah atau kebun.
"Kalau siang banyak warga masih bekerja di sawah atau kebun. Makanya pelayanan sering kami lanjutkan sampai malam supaya mereka tetap bisa terlayani," ungkapnya.
Menurut Yoyok, inovasi Jamu Desa diharapkan mampu meningkatkan kepemilikan dokumen administrasi kependudukan di Desa Wongsorejo. Dengan dokumen yang lengkap, masyarakat akan lebih mudah mengakses berbagai layanan pemerintah, mulai pendidikan, kesehatan, hingga bantuan sosial.
"Harapan kami seluruh warga memiliki dokumen kependudukan yang lengkap sehingga hak-hak administrasinya bisa terpenuhi dengan baik," pungkasnya.
Melalui pendekatan jemput bola ini, Pemerintah Desa Wongsorejo menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik tidak selalu ditentukan oleh kedekatan geografis. Dengan menghadirkan layanan langsung ke tengah masyarakat, warga di kawasan terpencil pun memperoleh hak yang sama untuk mengakses administrasi kependudukan secara cepat, mudah, dan inklusif. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin