Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kehabisan Gas Elpiji, Warga Sambimulyo Banyuwangi Ciptakan Kompor Berbahan Uap Pertalite

Zamrozi Wahyu • Rabu, 15 Juli 2026 | 07:05 WIB
Afton, pemuda asal Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo mengubah uap BBM menjadi bahan bakar untuk menyalakan kompor. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
Afton, pemuda asal Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo mengubah uap BBM menjadi bahan bakar untuk menyalakan kompor. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Keterbatasan elpiji memunculkan ide kreatif dari seorang warga Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. Berawal dari kehabisan gas melon di rumah, Afton mencoba memanfaatkan uap bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax sebagai sumber energi untuk menyalakan kompor.

Hasil uji coba yang masih bersifat eksperimen itu diklaim mampu menghasilkan nyala api hingga sekitar satu jam menggunakan 250 mililiter BBM.

Eksperimen tersebut dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan peralatan sederhana. Meski demikian, Afton menegaskan inovasi itu masih dalam tahap percobaan dan belum ditujukan untuk penggunaan secara luas.

Untuk menghasilkan uap BBM, ia menggunakan dua tabung, masing-masing sebagai wadah BBM dan wadah air, yang dihubungkan dengan selang. Sistem tersebut dilengkapi pompa udara (air pump) untuk mendorong udara masuk ke tabung berisi BBM.

Menurut Afton, udara yang dipompa ke dalam tabung akan membawa uap BBM menuju tabung kedua yang berisi air. Tabung air berfungsi sebagai penyaring sekaligus pengaman sebelum uap dialirkan menuju kompor.

"Untuk keamanan, di antara selang dan tabung tidak boleh ada kebocoran. Panjang selang dianjurkan sekitar dua meter," ujarnya.

Ia menjelaskan, tekanan udara menjadi faktor penting dalam menjaga kestabilan nyala api. Karena itu, sistem harus benar-benar rapat agar tidak terjadi kebocoran yang berpotensi membahayakan.

Berdasarkan hasil uji coba sementara, sekitar 250 mililiter Pertalite mampu mempertahankan api kompor selama kurang lebih satu jam. Menurutnya, durasi tersebut masih dapat ditingkatkan apabila menggunakan pompa udara yang lebih stabil serta dilengkapi katup pengatur tekanan.

"Apa yang saya lakukan sifatnya masih percobaan. Dengan menggunakan alat seadanya, inovasi boleh dibilang berhasil dengan mempertahankan api pada kompor 250 mililiter per jamnya," katanya.

Ide tersebut muncul secara spontan ketika keluarganya kehabisan elpiji subsidi atau gas melon untuk memasak. Alih-alih menunggu pasokan gas, Afton mencoba memanfaatkan prinsip penguapan BBM dan berhasil membuat kompor tetap menyala.

Ia mengaku selama uji coba, sistem tersebut sempat digunakan untuk membantu kebutuhan memasak keluarga selama beberapa hari.

"Kemarin sempat kehabisan gas, kemudian mencoba menggunakan kompor uap BBM dan bertahan selama tiga hari. Jika peralatannya lebih lengkap, hal ini bisa jadi alternatif ketika gas melon habis," terangnya.

Meski menunjukkan hasil yang menarik, inovasi tersebut masih berupa eksperimen pribadi dan belum melalui pengujian teknis maupun sertifikasi keselamatan.

Penggunaan BBM sebagai bahan bakar kompor memiliki risiko kebakaran, ledakan, maupun paparan uap yang mudah terbakar apabila peralatan tidak dirancang sesuai standar keselamatan. 

Karena itu, setiap pengembangan lebih lanjut memerlukan kajian teknis dan pengujian oleh pihak yang berkompeten sebelum dapat dipertimbangkan sebagai alternatif penggunaan di masyarakat. (why/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Bangorejo Banyuwangi Kompor uap BBM Inovasi warga pertalite Gas Melon