Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Misteri 16 Tukik Mati di Pantai Grajagan Banyuwangi, Ahli Ungkap Dua Dugaan Penyebab

M Ksatria Raya • Jumat, 10 Juli 2026 | 08:30 WIB
SISAKAN TANDA TANYA: Kematian belasan tukik di Pantai Grajagan Rabu lalu (8/7) bisa akibat kelelahan menuju laut atau keracunan di perairan. (Bagong for Radar Banyuwangi)
SISAKAN TANDA TANYA: Kematian belasan tukik di Pantai Grajagan Rabu lalu (8/7) bisa akibat kelelahan menuju laut atau keracunan di perairan. (Bagong for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Penemuan 16 bangkai tukik atau anak penyu di sekitar sarang penetasan Pantai Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, masih menyisakan tanda tanya. Meski dipastikan telah berhasil menetas dari telur, seluruh tukik ditemukan mati sebelum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan kematiannya. Dugaan sementara mengarah pada faktor kelelahan saat menuju laut hingga kemungkinan keracunan setelah memasuki perairan.

Temuan tersebut terjadi pada Rabu (8/7). Di sekitar lokasi masih ditemukan pecahan cangkang telur yang menunjukkan tukik baru saja menetas, diduga pada malam sebelumnya.

Founder Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF), Wiyanto Haditanodjo, mengatakan terdapat dua kemungkinan yang dapat menjelaskan kematian belasan tukik tersebut. Namun, menurutnya, semua dugaan itu masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan ilmiah.

Pria yang akrab disapa Wiwit itu menjelaskan, kemungkinan pertama berkaitan dengan posisi sarang yang terlalu jauh dari garis pantai. Kondisi tersebut membuat tukik harus menempuh perjalanan cukup panjang melewati hamparan pasir sebelum mencapai laut.

Perjalanan itu, kata dia, bukan perkara mudah. Saat suhu pasir tinggi akibat cuaca panas, energi tukik yang baru menetas bisa terkuras sehingga berujung kematian sebelum sempat menyentuh air laut.

"Kalau sarangnya terlalu jauh dari bibir pantai, tukik harus berjalan cukup jauh. Medannya juga tidak mudah, apalagi saat cuaca panas. Kondisi itu bisa menyebabkan tukik kelelahan hingga mati sebelum mencapai laut," ujarnya.

Kemungkinan kedua, lanjut Wiwit, justru terjadi setelah tukik berhasil mencapai laut. Ia menduga satwa tersebut bisa saja mengalami keracunan atau faktor lain di perairan hingga akhirnya mati. Bangkainya kemudian terbawa arus dan kembali terdampar di pesisir.

"Kalau sudah sampai laut, ada kemungkinan mengalami keracunan atau penyebab lain sehingga mati, lalu terbawa arus hingga terdampar di pantai," katanya.

Penyebab Tidak Bisa Dipastikan dari Pengamatan Visual

Wiwit menegaskan, penyebab kematian tukik tidak dapat disimpulkan hanya dari kondisi fisik bangkai di lapangan.

Menurutnya, apabila yang ditemukan masih berupa telur, penyebab kegagalan menetas umumnya lebih mudah diperkirakan, seperti telur tidak dibuahi atau dimangsa predator. Namun, ketika telur sudah menetas menjadi tukik, analisis penyebab kematian membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam.

"Untuk memastikan penyebab kematiannya harus dilakukan pemeriksaan di laboratorium DKP. Tidak bisa diidentifikasi langsung di lapangan," jelasnya.

Karena itu, pemeriksaan laboratorium oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah kematian disebabkan penyakit, pencemaran, keracunan, atau faktor lingkungan lainnya.

Tidak Semua Tukik Bertahan Hidup

Berdasarkan pengalaman konservasi yang dijalankan BSTF, seekor penyu lekang mampu menghasilkan sekitar 40 hingga 150 butir telur dalam sekali bertelur. Dalam satu musim reproduksi, seekor induk bahkan dapat bertelur hingga tiga kali sehingga jumlah telur yang dihasilkan bisa melampaui 300 butir.

Meski demikian, peluang hidup tukik hingga dewasa memang sangat kecil.

Selain ancaman predator, tingkat kelangsungan hidup tukik dipengaruhi kondisi lingkungan, kualitas habitat pantai, hingga berbagai ancaman yang ada di lautan.

"Memang tidak semua telur berhasil menetas dan tidak semua tukik bisa bertahan hidup sampai besar. Banyak faktor yang memengaruhi kelangsungan hidupnya," tutur Wiwit.

Warga Temukan Bangkai di Sekitar Sarang

Sebelumnya, warga setempat, Agung Rohmat, menemukan 16 bangkai tukik di sekitar lokasi sarang penetasan di Pantai Grajagan pada Rabu (8/7).

Saat ditemukan, bangkai-bangkai tersebut berada tidak jauh dari pecahan cangkang telur yang masih berserakan di sekitar sarang. Melihat kondisinya, Agung menduga seluruh tukik baru menetas pada malam sebelumnya.

"Ada 16 bangkai anak penyu. Kalau dilihat dari kondisinya, kemungkinan anak penyu tersebut menetas tadi malam karena masih ada sisa pecahan telur di dekat bangkai. Bangkai penyu tersebut langsung saya kubur," ujarnya.

Hingga kini, penyebab pasti kematian belasan tukik tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Temuan ini menjadi perhatian pegiat konservasi karena Pantai Grajagan merupakan salah satu lokasi pendaratan penyu di Banyuwangi yang selama ini rutin dipantau untuk menjaga keberlangsungan populasi satwa laut dilindungi tersebut. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Tukik mati #BSTF Banyuwangi #Penyu Lekang #konservasi penyu #pantai grajagan