RADARBANYUWANGI.ID – Keterbatasan ekonomi dan minimnya pemahaman mengenai layanan kesehatan membuat Turiyanto (59), warga Dusun Resomulyo, Desa Gentengwetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, nyaris terlambat mendapatkan penanganan medis. Saat kondisi tubuhnya terus melemah dengan perut yang membesar tidak wajar, ia justru sempat dibawa ke dukun sebelum akhirnya dievakuasi pemerintah desa ke RSUD Genteng.
Peristiwa itu bermula ketika Turiyanto mendadak jatuh sakit sejak Senin (7/7). Pria kelahiran 1967 yang masuk kategori warga miskin tersebut tinggal bersama seorang anaknya. Di tengah kondisi keluarga yang rentan dan tidak memiliki pendamping yang merawat secara intensif, kerabat memilih membawa Turiyanto ke orang pintar karena khawatir tidak mampu menanggung biaya rumah sakit.
Namun, informasi tersebut segera sampai ke Pemerintah Desa Gentengwetan. Menilai kondisi warganya membutuhkan pertolongan medis secepatnya, aparat desa langsung bergerak menjemput dan membawa Turiyanto ke RSUD Genteng.
Kepala Desa Gentengwetan, H. Sukri, mengatakan keputusan keluarga membawa Turiyanto ke dukun dipengaruhi keterbatasan ekonomi serta minimnya pendampingan di rumah.
"Awalnya sempat dibawa ke dukun. Memang ini keluarga yang rentan karena di rumah tidak ada yang merawat," ujarnya.
Sukri mengaku ikut mengawal proses evakuasi hingga Turiyanto mendapatkan pemeriksaan di rumah sakit. Berdasarkan hasil diagnosis tim medis, warga tersebut diketahui menderita penyakit lever dan kini menjalani perawatan intensif.
"Dari hasil pemeriksaan dokter, warga kami ini didiagnosis mengalami sakit lever. Saat ini sudah dalam penanganan medis di RSUD Genteng," ungkapnya, Selasa (8/7).
Menurut Sukri, persoalan biaya pengobatan yang sempat membuat keluarga ragu kini telah ditangani pemerintah desa. Aparat desa langsung mengurus administrasi Surat Pernyataan Miskin (SPM) agar seluruh biaya pelayanan kesehatan dapat ditanggung sesuai ketentuan yang berlaku.
"Pihak desa saat ini sudah mengurus Surat Pernyataan Miskin (SPM) untuk membebaskan seluruh biaya rumah sakitnya," tuturnya.
Ia memperkirakan dokumen tersebut segera diterbitkan sehingga proses pengobatan Turiyanto dapat berjalan tanpa hambatan administrasi. Pemerintah desa berharap pasien kini dapat fokus menjalani perawatan hingga kondisinya pulih.
"Yang penting sekarang bisa fokus berobat sampai sembuh," tegas Sukri.
Kasus yang dialami Turiyanto menjadi potret masih adanya warga yang menunda mendapatkan layanan kesehatan karena alasan ekonomi dan kurangnya informasi mengenai akses jaminan kesehatan. Pemerintah Desa Gentengwetan mengimbau masyarakat agar segera memanfaatkan fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan serius, sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah desa jika menghadapi kendala administrasi maupun pembiayaan. (sas)
Editor : Ali Sodiqin