RADARBANYUWANGI.ID - Puluhan jeriken dan galon kosong tampak berjajar hampir setiap hari di kawasan perbukitan Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Warga setempat maupun pendatang dari luar daerah rela datang bergantian untuk mengambil air dari sumber mata air penawar yang telah lama dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan.
Bagi masyarakat sekitar, mata air tersebut bukan sekadar sumber air bersih. Airnya dimanfaatkan secara cuma-cuma untuk kebutuhan minum, memasak, hingga mandi. Di sisi lain, berkembang kepercayaan turun-temurun bahwa air dari sumber tersebut dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit.
Keunikan mata air penawar ini terletak pada karakteristik airnya. Meski berada di kawasan pesisir yang umumnya memiliki air tanah bercita rasa payau, air yang mengalir dari sumber tersebut terasa segar saat diminum.
Lokasinya hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari bibir pantai. Namun, suhu air tetap dingin secara alami. Saat dimasukkan ke dalam galon maupun botol, bagian luar wadah dengan cepat dipenuhi embun, sesuatu yang kerap menjadi perhatian para pengunjung.
Di sekitar sumber mata air, suasana tampak teduh dengan pepohonan yang tumbuh di kawasan perbukitan. Pengunjung datang silih berganti membawa wadah berbagai ukuran untuk diisi sebelum kembali ke rumah.
Juru kunci sumber mata air penawar, Mustofa, mengatakan keberadaan mata air tersebut tidak lepas dari cerita yang diwariskan para pendahulu sejak ratusan tahun silam.
Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, dahulu terdapat tiga murid asal Pulau Madura yang menderita penyakit menahun. Sang guru kemudian memerintahkan mereka mencari obat penawar yang berada di ujung timur Pulau Jawa.
Dalam perjalanan, dua murid memilih menghentikan pencarian dan kembali ke Madura karena kelelahan. Sementara seorang murid tetap melanjutkan perjalanan hingga akhirnya menemukan mata air yang memancar dari kawasan perbukitan di Desa Ketapang.
Setelah meminum air tersebut, murid itu dikisahkan pulih dari penyakit yang dideritanya. Cerita itulah yang kemudian diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu alasan masyarakat meyakini mata air tersebut memiliki khasiat.
"Saya mendengar cerita ini sudah dari para pendahulu dulu. Mulai saat itu, mungkin Allah telah menaruh obat untuk penyakit di sini, dan orang-orang merasa cocok setelah minum air di sini," ujar Mustofa, dikutip dari Liputan6.com.
Kepercayaan mengenai khasiat mata air penawar terus hidup di tengah masyarakat hingga sekarang. Tidak sedikit pengunjung yang datang karena mendengar cerita dari keluarga, kerabat, maupun warga yang mengaku merasakan manfaat setelah mengonsumsi air tersebut.
Meski demikian, keyakinan mengenai kemampuan air untuk menyembuhkan berbagai penyakit merupakan kepercayaan yang berkembang di masyarakat dan belum dapat dijadikan bukti ilmiah bahwa air tersebut mampu mengobati penyakit tertentu. Hingga kini, belum terdapat penelitian ilmiah yang secara khusus membuktikan klaim tersebut.
Terlepas dari kisah dan mitos yang menyertainya, sumber mata air penawar di Desa Ketapang tetap memiliki nilai penting bagi warga sekitar sebagai sumber air bersih yang dimanfaatkan setiap hari. Aliran airnya yang tidak pernah berhenti, dipadukan dengan cerita yang diwariskan lintas generasi, menjadikan lokasi ini sebagai salah satu kekayaan alam sekaligus warisan budaya lokal yang masih terjaga di Banyuwangi.
Editor : Lugas Rumpakaadi