RADARBANYUWANGI.ID – Penantian panjang warga Dusun Gumukcandi, Desa Songgon, Kecamatan Songgon, BAnyuwangi, akhirnya mulai menemukan titik terang. Setelah bertahun-tahun dihantui sempadan jalan yang ambrol dan memutus akses vital masyarakat, pembangunan Jembatan Garuda resmi dimulai pada Kamis (2/7). Proyek yang dikerjakan secara gotong royong oleh warga bersama jajaran TNI AD dari Kodim 0825/Banyuwangi itu ditargetkan rampung dalam satu hingga dua bulan.
Jembatan tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur. Bagi masyarakat Gumukcandi, keberadaannya menjadi harapan baru untuk mengembalikan akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga jalur distribusi hasil pertanian yang selama ini terganggu akibat kerusakan jalan.
Sebelum pekerjaan dimulai, warga bersama personel TNI menggelar selamatan sederhana di lokasi proyek sebagai bentuk doa agar proses pembangunan berjalan lancar dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Setelah prosesi tersebut, material bangunan berupa batu belah, pasir, dan semen mulai didatangkan. Personel TNI bersama warga bergotong royong membagi pekerjaan, mulai dari persiapan pondasi hingga penguatan struktur penahan tanah di sisi jalan yang sebelumnya longsor.
Dirancang Kokoh Hadapi Medan Perbukitan
Pembangunan Jembatan Garuda disesuaikan dengan karakter geografis Songgon yang berbukit dan dilintasi sungai berarus deras. Jembatan dirancang memiliki panjang delapan meter, lebar empat meter, serta struktur beton dengan tinggi sekitar enam meter dari permukaan sungai.
Selain membangun badan jembatan, proyek juga mencakup penguatan plengsengan menggunakan konstruksi dinding penahan tanah yang lebih dalam. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko longsor ketika debit sungai meningkat pada musim hujan.
Jika kondisi cuaca mendukung, pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu satu hingga dua bulan sehingga jembatan dapat segera dimanfaatkan masyarakat.
Akses Sekolah dan Puskesmas Lebih Cepat
Camat Songgon, Satrio, mengatakan keberadaan Jembatan Garuda akan memberikan dampak besar terhadap aktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat.
Menurutnya, selama ini ambrolnya sempadan jalan membuat distribusi hasil pertanian dari kawasan Songgon terganggu. Padahal wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu sentra hortikultura sekaligus kawasan wisata alam di Banyuwangi.
"Kami sangat mengapresiasi langkah cepat dan taktis dari Kodim Banyuwangi serta swadaya masyarakat yang luar biasa," ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah jembatan selesai, distribusi komoditas pertanian seperti durian, manggis, hingga padi menuju pusat ekonomi di Banyuwangi diperkirakan menjadi lebih cepat dan efisien.
"Sudah mulai digarap dan digagas oleh Kodim. Ini akan memperlancar mobilitas masyarakat sekaligus mendukung perekonomian," katanya.
Lebih dari itu, Jembatan Garuda menjadi kebutuhan mendesak bagi warga karena selama bertahun-tahun jalur tersebut merupakan satu-satunya akses menuju sekolah, pasar tradisional, hingga Puskesmas Songgon.
Akibat sempadan jalan yang ambrol, masyarakat terpaksa memilih memutar dengan jarak berkilometer-kilometer atau melintasi jalur darurat yang berisiko tinggi.
"Biasanya banyak yang mengambil jalur lain," ujar Satrio.
Dengan hadirnya jembatan baru, waktu tempuh warga dipastikan akan jauh lebih singkat. Anak-anak dapat berangkat ke sekolah dengan lebih aman, aktivitas ekonomi kembali lancar, dan akses menuju fasilitas kesehatan tidak lagi terkendala.
Bagi warga Gumukcandi, pembangunan Jembatan Garuda bukan hanya menghubungkan dua sisi jalan yang sempat terputus. Lebih dari itu, jembatan tersebut menjadi penghubung harapan agar kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan normal setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan ancaman jalan ambrol. (sas/aif)
Editor : Ali Sodiqin