Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kepala Kambing Kendit Berkail Emas Warnai Prosesi Sakral Petik Laut Muncar Banyuwangi

Zamrozi Wahyu • Kamis, 2 Juli 2026 | 02:30 WIB
WARISAN BUDAYA: Nelayan Muncar ramai-ramai mengawal proses pengangkutan larung sesaji berupa kepala kambing dan hasil bumi sebelum dilarung di perairan Sembulungan, Rabu (1/7). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
WARISAN BUDAYA: Nelayan Muncar ramai-ramai mengawal proses pengangkutan larung sesaji berupa kepala kambing dan hasil bumi sebelum dilarung di perairan Sembulungan, Rabu (1/7). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Laut Muncar kembali menjadi pusat perayaan budaya pesisir. Ribuan warga memadati kawasan pelabuhan dan pesisir Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Rabu (1/7), untuk menyaksikan Petik Laut, tradisi sakral masyarakat nelayan yang telah bertahan lebih dari satu abad. Ritual larung sesaji di perairan Sembulungan menjadi puncak acara sebagai ungkapan syukur atas limpahan rezeki laut sekaligus harapan agar musim tangkap berikutnya membawa berkah.

Tradisi tahunan tersebut diawali dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh tokoh agama dan masyarakat. Selanjutnya, sesaji diarak menuju laut menggunakan perahu sebelum akhirnya dilarung di titik pertemuan Laut Jawa dan Laut Bali, tepatnya di sebelah utara perairan Sembulungan.

Prosesi sakral itu berlangsung khidmat, namun tetap semarak karena diiringi berbagai pertunjukan kesenian tradisional yang menghibur ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Mewakili Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Banyuwangi, Suratno, menegaskan bahwa Petik Laut Muncar bukan sekadar agenda tahunan, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai historis dan sosial tinggi.

"Tradisi ini juga menjadi bagian dari identitas budaya Banyuwangi yang harus terus diwariskan kepada generasi muda," ujarnya.

Menurut Suratno, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen terus mendukung penyelenggaraan tradisi-tradisi lokal. Selain menjaga kelestarian budaya, kegiatan tersebut terbukti mampu menggerakkan sektor pariwisata sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.

"Melalui tradisi seperti ini kita ingin budaya tetap lestari, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi ke tingkat yang lebih luas," katanya.

Puncak prosesi berlangsung ketika perahu gitik yang membawa sesaji dilarung ke tengah laut. Lokasi pelarungan dipilih di perairan utara Sembulungan, kawasan yang dipercaya sebagai titik pertemuan Laut Jawa dan Laut Bali.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Banyuwangi, Hasan Basri, mengatakan Petik Laut Muncar merupakan tradisi turun-temurun yang telah dilaksanakan sejak 1901 dan terus dipertahankan hingga kini.

"Ini merupakan bentuk syukur nelayan terhadap hasil laut," ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai hasil bumi turut dilarung sebagai simbol persembahan rasa syukur. Salah satu sesaji yang menjadi ciri khas tradisi tersebut adalah kepala kambing kendit yang dipasangi kail emas.

"Kambing itu berwarna hitam dengan corak putih di bagian perutnya," jelas Hasan.

Selain kepala kambing kendit, beragam hasil bumi juga ikut dilarung sebagai simbol doa agar laut tetap memberikan hasil tangkapan yang melimpah.

"Dengan digelarnya petik laut ini diharapkan hasil tangkapan ikan melimpah sehingga nelayan mendapatkan hasil untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan kebutuhan anak-anak sekolah," imbuhnya.

Petik Laut Muncar tidak hanya menjadi ruang spiritual bagi masyarakat pesisir, tetapi juga berkembang menjadi atraksi budaya yang menarik wisatawan. Kehadiran ribuan pengunjung setiap tahun memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima, hingga sektor jasa di kawasan Muncar.

Di tengah modernisasi, tradisi yang telah berusia lebih dari 125 tahun itu tetap menjadi simbol kuat hubungan harmonis masyarakat nelayan Banyuwangi dengan laut, sekaligus bukti bahwa warisan budaya mampu berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi daerah. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Muncar Banyuwangi #tradisi nelayan #HNSI Banyuwangi #larung sesaji #petik laut