Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Krisis Solar di Banyuwangi Barat, Sopir Truk Tebu Berburu BBM Hingga Tengah Malam

Salis Ali Muhyidin • Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:07 WIB
ANTRE: Sejumlah teuk mengantre bbm solar di SPBU Krikilan, Kecamatan Glenmore. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
ANTRE: Sejumlah teuk mengantre bbm solar di SPBU Krikilan, Kecamatan Glenmore. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Sanksi pembekuan pasokan solar bersubsidi di SPBU Kalibaru memicu efek domino di wilayah Banyuwangi Barat. Ratusan sopir truk pengangkut tebu hingga armada operasional perkebunan kini harus berburu solar ke kecamatan tetangga.

Antrean kendaraan mengular di SPBU Krikilan, Kecamatan Glenmore, bahkan para sopir harus menunggu hingga larut malam demi mendapatkan jatah bahan bakar.

SPBU Krikilan Jadi Tumpuan Sopir Truk

Dampak penghentian penyaluran solar subsidi di SPBU Kalibaru semakin terasa dalam beberapa hari terakhir. Hampir seluruh kendaraan besar yang biasa mengisi BBM di Kalibaru kini beralih menuju SPBU Krikilan di Kecamatan Glenmore.

Akibatnya, antrean truk tampak mengular sejak sore hingga malam hari. Kendaraan dari berbagai wilayah berdatangan untuk mendapatkan solar yang masih tersedia.

Situasi ini tidak hanya menghambat aktivitas distribusi barang, tetapi juga mengganggu operasional angkutan hasil panen tebu dan kebutuhan sektor perkebunan yang sangat bergantung pada bahan bakar bersubsidi.

Sopir Truk: Antre Sampai Lewat Isyak

Salah seorang sopir truk tebu asal Desa Setail, Kecamatan Genteng, Matrawi (50), mengaku kondisi tersebut sangat melelahkan.

Menurutnya, sebelum pasokan solar di Kalibaru dihentikan, proses pengisian BBM berlangsung normal tanpa antrean panjang.

Namun kini, hampir seluruh armada pengangkut tebu memilih mengisi solar di SPBU Krikilan.

"Antreannya luar biasa panjang karena solar di Kalibaru kosong. Banyak sopir yang akhirnya numpuk di sini (SPBU Krikilan). Kami terpaksa mengantre sampai lewat waktu Isyak baru bisa dapat jatah solar," ujarnya.

Waktu kerja para sopir pun ikut berubah. Setelah berjam-jam mengantre, mereka masih harus melanjutkan perjalanan menuju kawasan perkebunan untuk mengangkut hasil panen tebu.

"Kalau tidak mengantre, kami tidak bisa mengantar muatan. Roda ekonomi bisa berhenti," katanya.

Pasokan Masih Ada, Tetapi Diserbu Kendaraan

Matrawi menyebut beberapa SPBU lain masih memiliki stok solar bersubsidi, seperti SPBU Setail di Kecamatan Genteng dan beberapa titik di Glenmore.

Namun, seluruh lokasi tersebut kini dipenuhi kendaraan dari berbagai daerah sehingga antrean tetap tidak terhindarkan.

"Di Genteng kayaknya sudah aman. Informasi dari teman-teman, SPBU Setail sudah jual lagi. Hanya Genteng Wetan yang masih belum," ungkapnya.

Penjualan Solar Melonjak Drastis

Pengawas SPBU Krikilan, Mulyono, membenarkan lonjakan permintaan solar yang terjadi beberapa hari terakhir.

Menurutnya, pasokan dari Pertamina sebenarnya masih berjalan seperti biasa. Namun, meningkatnya jumlah kendaraan dari Kalibaru membuat stok cepat habis.

"Rata-rata penjualan solar di tempat kami sekitar 8.000 liter per hari. Akhir-akhir ini selalu habis tak tersisa karena langsung diborong oleh para sopir truk yang mengantre," jelas Mulyono.

Ia mengatakan kondisi tersebut terjadi hampir setiap hari sejak pasokan solar subsidi di SPBU Kalibaru dibekukan.

Efek Domino Mulai Mengganggu Aktivitas Ekonomi

Kondisi ini menunjukkan dampak berantai dari penghentian distribusi solar di satu SPBU terhadap wilayah sekitarnya.

Selain memperpanjang waktu kerja sopir, antrean panjang juga meningkatkan biaya operasional armada angkutan dan berpotensi menghambat distribusi hasil perkebunan, terutama komoditas tebu yang tengah memasuki musim panen.

Para sopir berharap penyaluran solar subsidi di Kalibaru segera kembali normal sehingga distribusi kendaraan tidak lagi menumpuk di SPBU wilayah tetangga. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#SPBU Krikilan #Banyuwangi Barat #SPBU Kalibaru #truk tebu #Solar Subsidi