RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah meningkatnya kesadaran akan pertanian ramah lingkungan, petani di Banyuwangi mulai meninggalkan ketergantungan pada racun tikus dan beralih memanfaatkan predator alami. Burung hantu jenis Tyto alba kini menjadi "pasukan penjaga malam" yang membantu melindungi tanaman padi dari serangan tikus sawah, salah satu hama paling merugikan bagi petani.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya jangka panjang untuk mengendalikan populasi tikus tanpa merusak keseimbangan ekosistem. Program ini mendapat dukungan pemerintah daerah melalui pembangunan Rumah Burung Hantu (Rubuha) di berbagai sentra pertanian.
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Singojuruh Hanry Wiratmokko mengatakan, pemanfaatan Tyto alba menjadi bagian dari strategi pengendalian hama yang lebih berkelanjutan.
"Dulu, kalau belum pakai burung hantu, petani biasanya menggunakan obat kimia atau rodentisida," ujarnya, Senin (22/6).
Menurut Hanry, berbagai metode pernah dicoba petani untuk mengurangi populasi tikus. Mulai dari penyebaran racun, fumigasi menggunakan belerang, hingga gropyokan atau perburuan tikus secara massal. Namun, cara-cara tersebut dinilai belum mampu memberikan solusi jangka panjang.
Racun Tikus Dinilai Merusak Rantai Ekosistem
Penggunaan rodentisida memang dapat menekan populasi tikus dalam waktu singkat. Namun, dampak sampingannya tidak kecil.
Predator alami tikus seperti luwak dan garangan kerap ikut mati setelah memakan tikus yang telah terpapar racun. Selain itu, tikus sawah juga semakin adaptif terhadap berbagai jenis umpan beracun yang ditebar di lahan pertanian.
Kondisi tersebut membuat pendekatan berbasis pengendalian hayati kembali menjadi perhatian. Kehadiran Tyto alba dianggap mampu mengurangi populasi hama tanpa meninggalkan residu berbahaya bagi lingkungan.
"Kalau ekosistemnya seimbang, pengendalian hama akan berjalan lebih alami dan berkelanjutan," jelas Hanry.
Rubuha Dibangun di Tengah Sawah
Untuk menarik kedatangan burung hantu, petani bersama pemerintah membangun Rubuha di area persawahan.
Bangunan tersebut berbentuk kotak kayu berukuran sekitar satu meter yang dipasang di atas tiang besi setinggi 5 hingga 6 meter. Di dalamnya terdapat ruang khusus yang berfungsi sebagai tempat bertengger sekaligus berkembang biak.
Keberadaan Rubuha menjadi penting karena Tyto alba tidak membuat sarang sendiri seperti sebagian besar jenis burung lainnya. Satwa ini membutuhkan tempat berlindung yang aman dan siap huni.
Program pembangunan Rubuha telah dilaksanakan di berbagai wilayah Banyuwangi melalui dukungan Dinas Pertanian dan kelompok tani setempat.
Datang Alami, Bukan Hasil Penangkaran
Menariknya, burung hantu yang menempati Rubuha bukan berasal dari hasil pembelian ataupun penangkaran.
Menurut Hanry, Tyto alba datang secara alami ketika menemukan habitat yang aman dan memiliki sumber makanan melimpah.
"Satu ekor burung hantu memiliki jangkauan perburuan puluhan sampai ratusan meter. Untuk makan sebenarnya cukup dua atau tiga ekor tikus, tetapi insting berburu mereka sangat tinggi. Dalam semalam bisa membunuh 20 sampai 30 ekor tikus," ungkapnya.
Kemampuan berburu tersebut membuat Tyto alba menjadi predator yang sangat efektif dalam menekan populasi tikus sawah.
Tak hanya itu, kehadiran burung hantu juga memberikan efek psikologis terhadap hama. Tikus cenderung menghindari wilayah yang menjadi area perburuan predator tersebut.
Puluhan Rubuha Berdiri di Singojuruh
Efektivitas Tyto alba mendorong pembangunan Rubuha terus bertambah dari tahun ke tahun.
Di Kecamatan Singojuruh, puluhan Rubuha telah berdiri di sejumlah desa seperti Gambor, Alasmalang, dan Gumirih. Fasilitas tersebut dibangun melalui dukungan Dinas Pertanian Banyuwangi.
Sementara itu, di beberapa daerah lain seperti Desa Wringinrejo, masyarakat mulai melakukan pengembangbiakan burung hantu secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan wilayah yang masih kekurangan predator alami tikus.
Ancaman Perburuan Masih Mengintai
Meski manfaatnya semakin dirasakan petani, keberadaan Tyto alba masih menghadapi tantangan.
Burung hantu kerap menjadi sasaran perburuan liar karena bentuk dan penampilannya yang unik. Kondisi itu mendorong sejumlah desa mulai menyusun peraturan desa (Perdes) yang melarang penembakan maupun perburuan burung hantu.
Hanry menegaskan bahwa keberadaan Rubuha tidak hanya bertujuan mengendalikan hama pertanian. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari upaya memulihkan keseimbangan ekosistem yang selama bertahun-tahun terdampak penggunaan bahan kimia.
Dengan semakin banyaknya Rubuha yang berdiri di kawasan persawahan Banyuwangi, petani berharap Tyto alba dapat terus menjadi garda terdepan dalam menjaga produktivitas padi sekaligus menciptakan sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan. (*)
Editor : Ali Sodiqin