Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

PPGA Raung Terobos Hutan Jambewangi, Pastikan Sensor GPS Gunung Raung Tetap Akurat

Salis Ali Muhyidin • Rabu, 24 Juni 2026 | 23:00 WIB
Tim PPGA Raung melakukan pengecekan sensor GPS di hutan yang berada di wilayah Dusun Sidomulyo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Selasa (23/6). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
Tim PPGA Raung melakukan pengecekan sensor GPS di hutan yang berada di wilayah Dusun Sidomulyo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Selasa (23/6). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah rimbunnya vegetasi hutan dan medan yang tidak mudah dilalui, tim Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung kembali menembus kawasan Dusun Sidomulyo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Selasa (23/6).

Misi mereka bukan sekadar membersihkan semak belukar, melainkan memastikan stasiun sensor Global Positioning System (GPS) pemantau aktivitas Gunung Raung tetap bekerja optimal di tengah status gunung yang masih berada pada Level II (Waspada).

Perawatan berkala tersebut menjadi bagian penting dari sistem mitigasi bencana vulkanik. Sebab, data yang dikirimkan stasiun sensor GPS berperan besar dalam mendeteksi deformasi atau perubahan struktur tubuh Gunung Raung yang dapat menjadi indikator peningkatan aktivitas vulkanik.

Anggota PPGA Raung Mukijo menjelaskan, lokasi stasiun sensor yang berada di kawasan hutan membuat alat pemantauan rentan terganggu oleh pertumbuhan vegetasi liar. Karena itu, pembersihan area sekitar sensor menjadi agenda rutin yang tidak bisa diabaikan.

Menurutnya, semak belukar dan dedaunan yang tumbuh di sekitar stasiun dapat menghalangi paparan sinar matahari ke panel surya yang menjadi sumber energi utama alat tersebut.

“Kalau panel surya tertutup daun, pasokan daya ke alat otomatis terhambat. Ini bisa mengganggu transmisi data,” ujarnya.

Ancaman lain juga muncul saat musim kemarau. Tumpukan daun kering dan ranting yang berserakan di sekitar lokasi sensor berpotensi menjadi pemicu kebakaran yang dapat merusak perangkat pemantauan.

“Daun-daun kering di sekitar alat itu rawan menjadi konduktor api. Sedikit saja ada percikan, bisa berakibat fatal terhadap material sensor yang ada di sini,” imbuhnya.

Selain membersihkan area sekitar alat, tim PPGA juga melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap berbagai komponen perangkat keras (hardware) stasiun sensor. Jika ditemukan gangguan teknis, perbaikan langsung dilakukan di lokasi untuk memastikan sistem tetap berfungsi normal.

Langkah preventif tersebut dinilai sangat penting mengingat Gunung Raung hingga kini masih berstatus Waspada. Dalam kondisi tersebut, kontinuitas dan keakuratan data menjadi faktor utama dalam mendukung analisis aktivitas vulkanik oleh petugas pemantau.

Data dari stasiun GPS memungkinkan petugas mendeteksi perubahan sekecil apa pun pada tubuh gunung. Informasi tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan perkembangan aktivitas vulkanik serta langkah mitigasi yang diperlukan.

Menariknya, kegiatan perawatan kali ini juga menjadi sarana pembelajaran lapangan. Tim PPGA Raung menggandeng sejumlah mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi di Bali yang sedang menjalani praktik lapangan.

Mereka diajak terjun langsung ke lokasi sensor di tengah hutan untuk mengenal sistem pemantauan gunung api, memahami perawatan instrumen vulkanologi, hingga mempelajari pentingnya data dalam mitigasi kebencanaan.

Melalui perawatan rutin dan kolaborasi lintas akademisi tersebut, PPGA berharap aliran data dari stasiun sensor GPS Jambewangi tetap stabil dan akurat. Keandalan data itu menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung sistem peringatan dini dan menjaga keselamatan masyarakat yang bermukim di kawasan lereng Gunung Raung. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Sensor GPS #desa jambewangi #gunung raung #PPGA Raung #status waspada