RADARBANYUWANGI.ID – Suasana tenang di Pondok Pesantren Ponpes Sabiluzzadil Muttaqien mendadak berubah tegang pada Jumat (19/6) pagi. Seekor anjing liar berukuran cukup besar masuk dan bersembunyi di kamar mandi (MCK) pesantren, memicu kepanikan pengurus dan santri.
Kejadian ini terjadi di Dusun Karanganyar, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, saat salah satu pengurus hendak menggunakan fasilitas MCK. Begitu pintu dibuka, hewan tersebut sudah berada di dalam ruangan dalam kondisi siaga.
Khawatir rabies, pengurus langsung lapor Damkar
Pengurus pesantren, Fahrurazi, mengatakan pihaknya tidak berani mengambil tindakan sendiri karena khawatir anjing tersebut bisa menyerang atau membawa penyakit berbahaya seperti rabies.
“Kami khawatir anjing itu mendadak agresif atau menggigit, jadi langsung lapor Damkar,” ujarnya.
Karena kondisi tersebut dinilai berisiko, pengurus segera menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Sektor Genteng untuk meminta bantuan evakuasi.
Bukan kejadian pertama, ada gangguan satwa liar
Fahrurazi mengungkapkan, gangguan satwa liar di lingkungan pesantren bukan kali pertama terjadi. Selain anjing liar, kawasan sekitar juga kerap didatangi kawanan monyet berukuran besar yang cukup meresahkan aktivitas santri.
“Kadang ada monyet liar yang mondar-mandir dan mengganggu lingkungan pesantren,” katanya.
Kondisi ini membuat pihak pesantren berharap adanya perhatian lebih lanjut dari instansi terkait agar lingkungan pendidikan tetap aman dan steril dari gangguan hewan liar.
Evakuasi sempat kejar-kejaran di kebun
Setelah menerima laporan, tim rescue Damkarmat Sektor Genteng langsung meluncur ke lokasi. Proses evakuasi tidak berjalan mudah karena anjing sempat kabur ke area kebun di sekitar pesantren.
“Anjing sempat lari, tapi akhirnya berhasil dievakuasi,” kata Fahrurazi.
Petugas kemudian melakukan penyisiran sebelum akhirnya berhasil mengamankan hewan tersebut tanpa melukai warga maupun satwa.
Teknik penjeratan khusus untuk hindari stres
Petugas Damkarmat Sektor Genteng, Irfan Muhlisin, menjelaskan proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati agar tidak membuat anjing semakin agresif. Tim menggunakan perlengkapan pelindung dan alat penjerat khusus (dog catcher).
“Dengan teknik yang tepat, leher anjing berhasil kami jerat dan dievakuasi keluar,” ujarnya.
Direlokasi jauh dari permukiman
Setelah berhasil diamankan, anjing liar tersebut langsung dibawa menggunakan armada rescue untuk direlokasi ke lokasi yang lebih aman dan jauh dari permukiman maupun area pesantren.
“Rencananya akan kami tempatkan di area yang jauh dari aktivitas warga agar tidak menimbulkan keresahan lagi,” pungkas Irfan.
Peristiwa ini menambah daftar gangguan satwa liar di kawasan pendidikan Banyuwangi dan menjadi pengingat pentingnya pengawasan lingkungan sekitar permukiman dan lembaga pendidikan. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin