RADARBANYUWANGI.ID – Riuh sorak penonton yang memadati kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, sempat terhenti sejenak ketika sejumlah personel kepolisian tiba di deretan warung kopi. Namun suasana yang semula tegang itu justru berubah cair hanya dalam hitungan menit.
Bukan untuk melakukan penindakan, kehadiran aparat dari Polsek Genteng justru bagian dari strategi pendekatan humanis dalam menyampaikan pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di tengah momen nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026.
Polisi dan warga satu meja, kopi jadi penghubung
Di tengah euforia pertandingan yang ditayangkan di layar kaca, para polisi memilih duduk bersama warga, memesan kopi, dan berbincang santai di warung sekitar RTH Maron. Cara ini dinilai lebih efektif dibanding sosialisasi formal yang kaku.
Anggota Polsek Genteng, Aiptu Atmari, mengatakan pendekatan ini sengaja dilakukan agar pesan kamtibmas lebih mudah diterima masyarakat.
“Giat ini menyasar warkop di sekitar RTH dan warung lain yang ramai pengunjung,” ujarnya.
Momen nobar jadi pintu masuk pesan keamanan
RTH Maron yang dikenal sebagai titik kumpul warga setiap siang hingga malam menjadi lokasi strategis. Terlebih saat pertandingan besar seperti Piala Dunia, keramaian meningkat drastis.
Atmari menjelaskan, momentum ini dimanfaatkan untuk menyisipkan imbauan terkait keamanan, mulai dari kewaspadaan terhadap pencurian hingga pentingnya menjaga ketertiban di ruang publik.
“Kami sengaja memilih momen nobar Piala Dunia karena di sinilah masyarakat berkumpul secara alami,” katanya.
Antisipasi kriminalitas hingga larangan konvoi
Dalam kesempatan itu, polisi juga mengingatkan pengunjung agar lebih waspada, terutama terkait kendaraan yang diparkir di area terbuka.
Warga diminta memastikan kendaraan dikunci ganda untuk menghindari potensi pencurian. Selain itu, generasi muda juga diimbau tidak larut dalam euforia berlebihan yang dapat memicu gesekan antarpenggemar.
“Jangan sampai euforia bola ini memicu gesekan, judi bola, atau konvoi knalpot brong,” tegas Atmari.
Pendekatan humanis yang disambut positif
Metode “cangkrukan” yang diterapkan Polsek Genteng mendapat sambutan positif dari pemilik warung kopi dan pengunjung RTH Maron. Suasana yang awalnya hanya fokus pada pertandingan berubah menjadi ruang dialog antara aparat dan masyarakat.
Pendekatan ini dinilai mampu membangun kedekatan emosional sekaligus meningkatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keamanan lingkungan.
Polsek Genteng berharap, pola komunikasi seperti ini dapat terus diperluas agar kesadaran kamtibmas tumbuh dari masyarakat sendiri, bukan semata karena instruksi aparat. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin