RADARBANYUWANGI.ID - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Banyuwangi turun ke jalan dan menggelar aksi demonstrasi di dua titik sekaligus, yakni di depan Kantor DPRD Banyuwangi dan Kantor Pemkab Banyuwangi, Jumat (19/6). Mereka membawa sederet tuntutan, mulai persoalan nasional seperti harga bahan pokok dan BBM hingga isu lokal terkait anggaran daerah dan pelaksanaan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Aksi yang diikuti gabungan organisasi kemahasiswaan seperti GMNI, HMI, PMII, serta sejumlah elemen mahasiswa lainnya itu berlangsung sejak siang. Massa datang membawa poster dan spanduk berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Koordinator aksi, Vicky, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang dinilai semakin membebani masyarakat. Salah satu tuntutan utama mereka adalah menghentikan pemborosan APBN dan menurunkan harga kebutuhan pokok serta bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, mahasiswa juga meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sejumlah program strategis nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Evaluasi harus dilakukan secara terukur dan berbasis kajian akademis. Jika terbukti tidak efektif dan gagal mencapai tujuan, maka program tersebut sebaiknya dihentikan dan anggarannya dialihkan untuk memperkuat sektor perekonomian rakyat,” tegas Vicky saat menyampaikan orasi.
Tak hanya menyoroti isu nasional, mahasiswa juga mengangkat berbagai persoalan yang berkembang di Banyuwangi. Mereka mendesak pemerintah daerah untuk mengubah prioritas belanja dengan mengalihkan sebagian anggaran operasional ke belanja modal yang dianggap lebih berdampak terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Massa juga menuntut adanya pengawalan serta audit terhadap pelaksanaan SNBP agar proses seleksi berjalan transparan dan akuntabel.
Suasana demonstrasi sempat memanas ketika massa membakar ban bekas di depan lokasi aksi. Asap hitam membumbung tinggi, sementara para mahasiswa terus bergantian menyampaikan orasi.
Menurut mereka, pembakaran ban bukan bertujuan menciptakan kericuhan, melainkan simbol semangat perjuangan dan bentuk perlawanan terhadap berbagai kebijakan yang dinilai belum berpihak kepada rakyat.
Usai berorasi, massa sempat berupaya mendekati area Gedung DPRD Banyuwangi untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Namun langkah mereka tertahan setelah sejumlah anggota DPRD Banyuwangi keluar menemui para demonstran.
Beberapa legislator yang hadir di antaranya Suwito dari Fraksi Gerindra, Muzzaki dari Fraksi PKB, Wagianto dari Fraksi PDI Perjuangan, serta Marifatul Kamila dari Fraksi Golkar.
Marifatul Kamila yang akrab disapa Rifa mengatakan, aspirasi mahasiswa telah diteruskan kepada pimpinan DPRD. Bahkan, pihaknya memfasilitasi pertemuan antara perwakilan mahasiswa dengan Ketua DPRD Banyuwangi.
“Kita sudah sampaikan ke Ketua DPRD. Ketua berkenan menerima para perwakilan, makanya kita antar untuk menemui ketua di rumahnya,” ujarnya.
Meski diwarnai pembakaran ban dan aksi saling berteriak saat menyampaikan tuntutan, demonstrasi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Mahasiswa berharap tuntutan yang mereka suarakan tidak berhenti sebagai catatan aksi semata, melainkan benar-benar ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin