RADARBANYUWANGI.ID – Siang belum terlalu tua ketika suara azan menggema dari Masjid Al-Ma'ruf, Kelurahan Klatak, Kalipuro, Banyuwangi. Lantunannya mendayu, naik turun dengan irama yang lembut namun tegas. Suara itu seolah menembus terik matahari, memanggil umat Islam untuk segera bergegas menunaikan salat duhur.
Pemilik suara emas itu adalah Bunyamin, 62. Sosok sederhana yang baru sekitar tiga bulan menjadi muazin di salah satu masjid termegah di Banyuwangi tersebut.
Meski terbilang pendatang baru, kehadiran Bunyamin langsung mencuri perhatian jemaah. Banyak yang mengaku betah berlama-lama di masjid karena menikmati lantunan azan dan bacaan Al-Qur'an yang dibawakannya.
Namun, suara merdu yang kini didengar warga Banyuwangi ternyata ditempa oleh perjalanan panjang.
Pria kelahiran Ogan Ilir, Sumatera Selatan, tahun 1964 itu mengaku sudah mengenal dunia azan sejak usia belia. Ketika remaja, ia aktif mengikuti berbagai lomba azan di tingkat kelurahan hingga kecamatan di sekitar Palembang.
"Saya baru di Masjid Al-Ma’ruf, awalnya jadi muazin di musala dekat rumah, yaitu Musala Fajrul Falah, masih di wilayah Klatak," ujarnya.
Sejak muda, Bunyamin memang dikenal memiliki bakat olah vokal. Ia bahkan langganan menjadi juara di berbagai perlombaan azan.
Namun baginya, suara indah saja tidak cukup.
Karena itu, ia memutuskan menimba ilmu agama lebih dalam dengan mondok selama 15 tahun kepada seorang ulama bernama Kiai Aliyan di Palembang. Dari sana, ia belajar tajwid, makharijul huruf, hingga berbagai irama bacaan Al-Qur'an.
Setelah dewasa, hidup membawanya merantau ke berbagai daerah. Lombok, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sulawesi pernah menjadi tempatnya mencari nafkah.
Di sela pekerjaan serabutan yang dijalaninya, Bunyamin tak pernah meninggalkan dunia yang dicintainya. Ia tetap menjadi muazin, qari, sekaligus mengisi berbagai acara walimah dan pengajian di lingkungan tempat tinggalnya.
Jika menemukan guru yang lebih baik, ia tak segan belajar kembali.
"Saya pernah belajar di Ustad Asep Edi Yusuf di Sukabumi. Saya juga memperdalam lagi cara mengaji saya," ucapnya.
Bunyamin sadar, menjaga kualitas suara membutuhkan kedisiplinan. Karena itu, ada satu kebiasaan yang ia hindari sejak dulu: minum es.
Menurutnya, kondisi tubuh dan kesehatan tenggorokan sangat menentukan kualitas suara saat mengumandangkan azan maupun membaca Al-Qur'an.
"Yang saya jaga ya suara. Saya menjaga diri supaya tidak minum es. Kalau mau azan atau membaca Al-Qur'an harus dalam kondisi sehat. Kalau sakit saya tidak mau, kualitas suaranya pasti terganggu," tuturnya.
Tahun 2006 menjadi babak baru dalam hidupnya. Bersama sang istri yang berasal dari Situbondo, Bunyamin memutuskan menetap di Banyuwangi.
Di Bumi Blambangan, ia kembali aktif mengisi berbagai kegiatan keagamaan. Salah satu tempat yang sering ia datangi adalah Masjid Ahmad Dahlan.
"Saya kadang mengisi di Masjid Ahmad Dahlan. Pernah menjadi muazin juga, tapi yang paling sering adalah membaca Al-Qur’an saat ada walimah," ungkapnya.
Untuk terus mengasah kemampuan, Bunyamin memiliki cara tersendiri. Ia kerap mendengarkan kaset berisi rekaman qari dan muazin terkenal, lalu menirukan irama yang menurutnya indah.
Kebiasaan itu masih dilakukannya hingga kini, meski usia tak lagi muda.
Merantau ke Banyuwangi juga memberinya pengalaman spiritual baru. Ia menemukan tradisi keagamaan yang berbeda dengan kampung halamannya di Sumatera Selatan.
Di Banyuwangi, ia mengenal tarkhim, mempelajari berbagai doa khas, hingga memahami tradisi masyarakat seperti sedekah bumi, ider bumi, dan petik laut yang sarat nilai religius.
Sejak diajak Haji Nuryasin menjadi muazin di Masjid Al-Ma'ruf, semangat belajarnya justru semakin besar.
"Banyak bacaan yang saya pelajari. Di Sumatera dulu tidak ada tarkhim seperti di Banyuwangi. Saya juga banyak belajar lagi," katanya sambil tersenyum.
Di usia yang memasuki kepala enam, Bunyamin membuktikan bahwa belajar tidak mengenal batas usia. Suara emasnya bukan sekadar anugerah, melainkan hasil dari disiplin, perjalanan panjang, dan kecintaannya yang tak pernah pudar pada syiar Islam.
Dan setiap kali azan berkumandang dari Masjid Al-Ma'ruf, kisah itu kembali hidup dalam setiap nada yang ia lantunkan. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin