Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pedagang Pelabuhan Muncar Menjerit, Retribusi dan Biaya Listrik Naik Berkali-kali Lipat

Zamrozi Wahyu • Jumat, 19 Juni 2026 | 05:40 WIB
Sejumlah lapak berderet di kawasan Pelabuhan Muncar kemarin (18/6). Sejak beberapa hari terakhir tarif retribusi lapak di lokasi tersebut naik. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
Sejumlah lapak berderet di kawasan Pelabuhan Muncar kemarin (18/6). Sejak beberapa hari terakhir tarif retribusi lapak di lokasi tersebut naik. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kenaikan tarif retribusi lapak di Pelabuhan Muncar memicu keluhan para pedagang. Jika sebelumnya biaya tempat berjualan hanya sekitar Rp 140 ribu per bulan, kini sejumlah pedagang harus merogoh kocek hingga Rp 800 ribu per bulan, tergantung luas lapak dan biaya tambahan yang dikenakan.

Kenaikan tarif tersebut mulai dirasakan pedagang sekitar dua pekan terakhir. Mereka mengaku tidak punya banyak pilihan selain mengikuti ketentuan baru meski beban biaya usaha meningkat cukup tajam.

Salah seorang pedagang tetap di kawasan Pelabuhan Muncar yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, tarif lapak kini dihitung sebesar Rp 1.000 per meter persegi per hari. Besaran itu belum termasuk biaya listrik dan kebersihan yang juga harus dibayar setiap bulan.

"Itu belum biaya listrik dan kebersihan," ujarnya.

Menurut dia, rata-rata ukuran lapak pedagang di kawasan pelabuhan lebih dari 4x4 meter atau sekitar 16 meter persegi. Dengan luas tersebut, biaya retribusi yang harus dibayar bisa mencapai sekitar Rp 480 ribu per bulan.

Namun, setelah ditambah biaya listrik dan kebersihan, total pengeluaran yang harus ia keluarkan mencapai Rp 800 ribu per bulan.

"Saya kena Rp 800 ribu per bulan untuk sewa lapak, listrik, hingga kebersihan. Padahal sebelumnya hanya Rp 140 ribu," katanya.

Kenaikan yang mencapai lebih dari lima kali lipat itu dinilai sangat memberatkan. Sebab, mayoritas pedagang di kawasan Pelabuhan Muncar hanya menjual makanan dan minuman dengan omzet yang tidak selalu stabil.

"Iya kalau ramai terus. Kalau sepi bagaimana," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Made, salah satu pedagang pendatang yang setiap tahun berjualan di kawasan Pelabuhan Muncar. Ia mengaku terkejut karena tarif yang harus dibayar tahun ini jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Menurut pria asal Kecamatan Genteng itu, menjelang perayaan Petik Laut Muncar 2025 lalu, biaya sewa lapak untuk area seluas empat meter persegi hanya sekitar Rp 300 ribu.

"Tahun ini tiba-tiba naik menjadi Rp 800 ribu," katanya.

Selain biaya lapak, Made juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk penerangan. Setiap lampu yang digunakan dikenai biaya listrik sebesar Rp 2.500 per hari.

Bagi pedagang musiman maupun pendatang, kenaikan berbagai komponen biaya tersebut menjadi pertimbangan serius untuk tetap berjualan di kawasan pelabuhan pada tahun-tahun mendatang.

"Ini tinggal lihat omzet akhir. Jika merugi, mungkin tahun depan para pedagang pendatang tidak ke sini lagi," ujarnya.

Para pedagang berharap ada evaluasi terhadap kebijakan tarif baru tersebut. Mereka memahami adanya penyesuaian retribusi, namun berharap kenaikannya tidak terlalu tinggi agar usaha kecil tetap dapat bertahan.

Apalagi, Pelabuhan Muncar selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Banyuwangi yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan, kuliner, dan perdagangan. Jika biaya usaha terus meningkat tanpa diimbangi kenaikan omzet, bukan tidak mungkin jumlah pedagang di kawasan itu akan berkurang pada masa mendatang. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Pedagang Muncar #Retribusi lapak #Tarif sewa #Pelabuhan Muncar #petik laut