RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah semakin memudarnya berbagai tradisi menyambut Tahun Baru Islam, Pondok Pesantren Nurul Huda, Peleyan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, Jawa Timur, masih mempertahankan satu amalan yang sarat makna, yakni minum susu bersama pada malam 1 Muharram.
Tradisi yang digelar Senin malam (15/6) itu menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kesucian hati, memulai kehidupan dengan semangat baru, serta mengharap keberkahan di tahun Hijriah yang akan dijalani.
Bagi sebagian masyarakat, malam pergantian tahun Hijriah identik dengan doa bersama, pengajian, atau muhasabah. Namun, tradisi minum susu yang dahulu cukup dikenal di berbagai daerah kini mulai jarang dijumpai. Meski demikian, kebiasaan tersebut tetap dijaga oleh kalangan pesantren karena diyakini mengandung pesan spiritual yang mendalam.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Habib Muhammad Taufiq Al Djufri, menjelaskan bahwa susu dipilih bukan sekadar sebagai minuman, melainkan simbol kesucian, kejernihan hati, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik pada tahun yang baru.
“Susu adalah minuman yang disukai seluruh makhluk. Simbolnya adalah kesucian dan kejernihan dalam segala hal. Harapannya, manusia dapat menjalani kehidupan ke depan dengan hati yang bersih, suci, dan penuh keberkahan,” ujarnya.
Menurut Habib Muhammad, warna putih pada susu memiliki filosofi yang erat dengan nilai-nilai spiritual dalam Islam. Putih melambangkan kebersihan jiwa dan ketulusan hati, sehingga menjadi simbol yang tepat untuk mengawali pergantian tahun Hijriah.
Ia menambahkan, susu juga memiliki makna sebagai lambang kehidupan. Sejak lahir, manusia mengenal susu sebagai sumber nutrisi pertama yang menopang pertumbuhan dan keberlangsungan hidup.
“Susu mewakili kehidupan. Semangat hidup itu dibangun sejak awal melalui air susu ibu yang menjadi sumber kehidupan pertama bagi manusia,” katanya.
Tradisi tersebut, lanjutnya, bukanlah kewajiban agama yang harus dilakukan seluruh umat Islam. Namun, kegiatan itu merupakan bentuk ikhtiar dalam mengharap keberkahan dunia dan akhirat sekaligus menjaga warisan para ulama yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.
Di Pondok Pesantren Nurul Huda, kegiatan minum susu bersama telah menjadi agenda rutin setiap malam 1 Muharram. Para santri berkumpul untuk berdoa, bermuhasabah, lalu menikmati susu sebagai simbol memasuki tahun baru dengan hati yang bersih.
“Sudah beberapa tahun kami membiasakan berkumpul bersama para santri setiap malam 1 Muharram untuk minum susu. Tujuannya tidak lain sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi dan mengingat makna kesucian,” jelasnya.
Menariknya, tradisi serupa juga berkembang dalam budaya masyarakat Madura. Namun, bentuknya mengalami penyesuaian menjadi pembuatan bubur putih yang dikenal sebagai Tajin Sora.
Habib Muhammad menjelaskan, meskipun wujudnya berbeda, makna yang terkandung tetap sama. Warna putih pada Tajin Sora melambangkan kesucian sebagaimana susu. Bubur tersebut biasanya diberi berbagai pelengkap, kemudian dibagikan kepada tetangga sebagai simbol berbagi keberkahan dan mempererat hubungan sosial.
“Tradisi ini juga dilestarikan oleh masyarakat Madura. Hanya saja, bentuknya berkembang dari minum susu menjadi membuat Tajin Sora. Itu merupakan kreativitas masyarakat terdahulu dalam menjaga makna yang terkandung di dalamnya,” tuturnya.
Fenomena berubahnya tradisi dari minum susu menjadi Tajin Sora menunjukkan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi. Di balik semangkuk bubur putih atau segelas susu, tersimpan pesan tentang kesucian, kebersamaan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Pada akhirnya, momentum Tahun Baru Islam bukan hanya pergantian angka dalam kalender Hijriah. Lebih dari itu, 1 Muharram menjadi waktu untuk melakukan refleksi diri, meninggalkan kebiasaan buruk, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan.
Habib Muhammad berharap simbol-simbol berwarna putih yang hadir pada malam pergantian tahun, baik melalui susu, pakaian, maupun Tajin Sora, dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus memperbaiki diri.
“Semoga pergantian tahun yang ditandai dengan simbol-simbol kesucian ini dapat membawa kita semua menuju kehidupan yang lebih bersih, suci, dan penuh keberkahan sebagaimana yang kita harapkan bersama,” pungkasnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin