Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ritual Oncoran dan Ider Bumi Kembali Hidupkan Spirit 1 Muharram, Warga Penataban Keliling Desa Membawa Obor

Ali Sodiqin • Rabu, 17 Juni 2026 | 04:00 WIB
Warga Penataban, Giri, Banyuwangi menggelar ider bumi di malam 1 Muharram. Simbol harapan dan keselamatan. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Warga Penataban, Giri, Banyuwangi menggelar ider bumi di malam 1 Muharram. Simbol harapan dan keselamatan. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Cahaya obor menembus gelap malam di Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Banyuwangi, Senin (15/6). Ratusan warga berjalan mengelilingi kampung dalam ritual Oncoran dan Ider Bumi yang telah diwariskan turun-temurun sebagai ikhtiar memohon keselamatan, keberkahan, dan perlindungan di momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.

Tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan budaya religius Banyuwangi itu kembali digelar dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, hingga warga dari berbagai lingkungan. Mereka membawa obor menyusuri jalan-jalan kampung sembari melantunkan doa, zikir, dan kalimat-kalimat thayyibah.

Ritual dimulai selepas rangkaian kegiatan keagamaan yang telah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya. Warga bergerak mengelilingi desa dalam formasi menyerupai tawaf. Di sejumlah titik, rombongan berhenti sejenak untuk mengumandangkan adzan sebagai simbol seruan kebaikan dan permohonan perlindungan kepada Sang Pencipta.

Tokoh Kelurahan Penataban, Akhmad Sholihin, mengatakan tradisi oncor-oncoran lahir dari ikhtiar para ulama terdahulu ketika wilayah tersebut menghadapi berbagai musibah dan wabah penyakit. Melalui doa bersama dan istighfar, masyarakat berharap memperoleh keselamatan dan keberkahan.

“Dulu banyak kejadian dan musibah. Para ulama kemudian melakukan ikhtiar dan istighfar bersama, memperbanyak kalimat-kalimat thayyibah agar Allah memberikan ampunan dan keselamatan, khususnya bagi warga Penataban,” ujarnya.

Menurut Sholihin yang juga Ketua Takmir Masjid Uswatun Hasanah Penataban itu, tradisi tersebut terus dijaga sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus sarana memperkuat nilai spiritual masyarakat di tengah perkembangan zaman.

Tidak hanya menggelar oncor-oncoran, rangkaian peringatan 1 Muharram di Penataban juga diawali dengan Khotmil Quran yang melibatkan masjid, musala, organisasi keagamaan, kelompok pemuda, serta masyarakat setempat. Setelah itu, warga melaksanakan ziarah ke makam para ulama dan tokoh yang berjasa merintis berbagai tradisi keagamaan di wilayah tersebut.

“Ini menjadi cara kami mengenang jasa para pendahulu sekaligus menjaga warisan nilai-nilai yang mereka tinggalkan,” katanya.

Api Sebagai Simbol Cahaya Kehidupan

Di balik nyala obor yang dibawa warga, tersimpan makna filosofis yang terus dijaga hingga kini. Sholihin menjelaskan, api pada masa lalu berfungsi sebagai penerang jalan ketika listrik belum menjangkau permukiman warga. Seiring waktu, api kemudian dimaknai sebagai simbol harapan agar kehidupan masyarakat selalu berada dalam jalan yang terang.

“Api itu simbol terang, bukan hanya menerangi malam tetapi juga menjadi harapan agar kehidupan semakin terang. Sekarang bentuknya bisa bermacam-macam, yang terpenting maknanya tetap sebagai penerang,” jelasnya.

Karena itu, ritual oncoran tidak dipandang sekadar tradisi budaya. Bagi masyarakat Penataban, kegiatan tersebut merupakan bentuk doa kolektif yang menyatukan warga dalam harapan yang sama.

“Ini bukan hanya untuk warga Penataban, tetapi doa keselamatan untuk semuanya. Harapannya Allah memberikan ampunan dan keselamatan bagi masyarakat serta Indonesia,” tambahnya.

Dilanjutkan Bersih Desa

Rangkaian peringatan Tahun Baru Islam di Penataban belum berakhir. Pada Selasa (16/6), warga dijadwalkan melanjutkan kegiatan dengan tradisi bersih desa yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Acara tersebut akan diisi pembacaan sejarah tradisi, doa bersama para ulama, serta kegiatan gotong royong sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur memasuki tahun baru Hijriah.

Di tengah modernisasi yang terus bergerak, Oncoran dan Ider Bumi menjadi bukti bahwa masyarakat Banyuwangi masih menjaga kearifan lokal yang sarat nilai religius. Bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga merawat doa dan harapan agar kehidupan tetap diberi keselamatan sepanjang tahun yang baru. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#tradisi Banyuwangi #Oncoran Penataban #Ider Bumi #tahun baru islam #1 Muharram