Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Khusnan Abadi di Mata Purnomo: Pernah Bertengkar Soal Parkir, Berakhir Sepiring Nasi dan Persahabatan

Ali Sodiqin • Jumat, 12 Juni 2026 | 20:39 WIB
Almarhum Khusnan Abadi.
Almarhum Khusnan Abadi.

RADARBANYUWANGI.ID – Kabar wafatnya Khusnan Abadi, mantan anggota DPRD Banyuwangi, Sekretaris DPC PKB Banyuwangi, sekaligus mantan wartawan Radar Banyuwangi, meninggalkan duka mendalam bagi banyak sahabat seperjuangannya.

Salah satunya Purnomo, Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi, yang menyimpan banyak kenangan tentang sosok yang dikenalnya sebagai politisi disiplin, keras dalam prinsip, tetapi hangat dalam persahabatan.

Bagi Purnomo, Khusnan bukan sekadar rekan politik. Almarhum adalah teman perjalanan yang menemaninya sejak kembali dari perantauan dan menetap di Banyuwangi pada 2013.

Kala itu, Khusnan datang langsung ke rumahnya di Jambewangi. Bukan sekadar silaturahmi, tetapi membawa pesan khusus dari sahabat di tingkat pusat agar Purnomo ikut membantu perjuangan PKB di Banyuwangi.

"Saya hanya tersenyum dan bilang siap. Karena saya tahu siapa yang mengirim pesan itu lewat Blackberry, media sosial paling canggih waktu itu," kenang Purnomo sambil tertawa kecil.

Dari pertemuan itulah keduanya semakin sering berinteraksi dalam berbagai aktivitas politik dan organisasi. Ketika sejumlah kader PKB dilantik menjadi anggota DPRD Banyuwangi, Khusnan menjadi salah satu yang mendapat amanah sebagai wakil rakyat.

Oleh: Purnomo, Alumnus Sekolah Kebijakan Publik di Universitas Brawijaya Malang Tinggal di Curahjati
Purnomo, Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi.

Sementara Purnomo memilih jalur pengabdian berbeda. Ia aktif di Garda Bangsa, organisasi sayap PKB, menggerakkan kader hingga ke tingkat bawah.

Meski berada di medan perjuangan yang berbeda, hubungan keduanya tetap terjalin erat. Banyak suka dan duka yang mereka lalui bersama.

Salah satu hal yang paling diingat Purnomo adalah karakter Khusnan yang sangat disiplin dalam mengelola biaya politik. Setiap pengeluaran selama proses pencalegan dicatat dengan rinci dan dihitung secara detail.

"Semua kegiatan ditulis dan dijumlah. Berapa keluar uangnya, berapa kebutuhannya. Saya sampai berpikir, kok banyak sekali yang saya keluarkan, tapi saya kok tidak jadi," ujarnya sambil mengenang masa-masa itu dengan senyum.

Di balik ketegasannya, Khusnan juga dikenal sebagai sosok yang setia menjaga loyalitas kader. Ada satu pesan yang hingga kini masih diingat Purnomo.

"Mas Pur, sampean tetap istiqomah di partai ya. Jangan seperti tokoh lain yang tidak menerima kekalahan lalu membuat masalah," kenangnya menirukan pesan almarhum.

Pesan itu bukan sekadar nasihat politik. Bagi Purnomo, kalimat tersebut menggambarkan cara pandang Khusnan tentang perjuangan, bahwa politik tidak selalu tentang menang dan kalah, melainkan soal menjaga komitmen terhadap jalan yang telah dipilih.

Banyak kegiatan mereka lakukan bersama setelah kontestasi politik usai. Keduanya kerap mendatangi para calon legislatif yang gagal lolos ke parlemen untuk memberikan semangat agar tidak larut dalam kekecewaan.

Namun hubungan persahabatan itu tidak selalu berjalan mulus. Purnomo mengaku pernah terlibat perdebatan sengit dengan Khusnan saat polemik parkir di Genteng menjadi isu hangat.

Saat itu keduanya berada di posisi yang berbeda. Purnomo melontarkan kritik keras melalui media sosial, sementara Khusnan tidak sependapat.

"Mas Pur, hapus tulisanmu di media sosial," kata Khusnan saat itu dengan nada tegas.

Perdebatan sempat memanas. Namun seperti dua sahabat lama yang sama-sama memahami dinamika politik, pertengkaran itu tak berlangsung lama.

Sekitar sepekan kemudian, hubungan keduanya kembali cair.

"Mungkin karena kami sama-sama politisi. Tahu kapan harus bertengkar dan kapan kembali makan sepiring nasi bersama," tutur Purnomo.

Bagi Purnomo, kenangan itu menjadi bukti bahwa perbedaan pandangan tidak pernah menghapus persahabatan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Kini, setelah kabar duka itu datang, yang tersisa hanyalah jejak-jejak cerita, nasihat, serta perjalanan panjang yang pernah mereka lalui bersama.

Di mata Purnomo, Khusnan Abadi akan selalu dikenang sebagai sosok yang teguh dalam perjuangan, disiplin dalam bekerja, keras ketika memperjuangkan keyakinannya, namun tetap membuka ruang persahabatan di tengah perbedaan.

"Selamat jalan, Mas Khusnan. Terima kasih atas semua pelajaran, kebersamaan, dan persahabatan yang pernah kita rajut. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah panjenengan dan menempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya," pungkas Purnomo. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#tokoh Banyuwangi #Khusnan Abadi #Purnomo Banyuwangi #PKB Banyuwangi #DPRD Banyuwangi