RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah tantangan inflasi pangan dan ketidakpastian global, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember memilih turun langsung ke lahan pertanian. Melalui pemanfaatan teknologi digital dan penguatan kemampuan petani mengendalikan hama, BI Jember berupaya memastikan pasokan bawang merah tetap melimpah sekaligus menjaga stabilitas harga di wilayah Tapal Kuda.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Peningkatan Produktivitas Klaster Pangan Berbasis Digital Farming dan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang menyasar kelompok tani bawang merah di Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi sepanjang Mei 2026.
Program ini menjadi bagian dari strategi BI Jember dalam memperkuat klaster pangan strategis yang selama ini berperan penting menjaga ketersediaan pasokan dan mengendalikan gejolak harga komoditas pangan, khususnya bawang merah.
Kegiatan digelar di tiga lokasi berbeda. Dimulai di Kelompok Tani Sumberarum III Kabupaten Bondowoso pada 18–19 Mei 2026, dilanjutkan Kelompok Tani Bina Karya II Kabupaten Situbondo pada 20–21 Mei 2026, dan ditutup di Kelompok Tani Tunas Harapan Kabupaten Banyuwangi pada 22–23 Mei 2026.
Sebagai salah satu komoditas penyumbang inflasi, bawang merah memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Karena itu, peningkatan produktivitas dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pola budidaya konvensional, tetapi harus didukung teknologi serta kemampuan petani menghadapi ancaman hama dan penyakit tanaman.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) 2026 yang melibatkan Bank Indonesia, pemerintah pusat, pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta berbagai pemangku kepentingan sektor pangan.
GPIPS Wilayah Jawa 2026 sebelumnya telah diluncurkan pada 13 Mei 2026 di Gudang Perum Bulog Buduran, Sidoarjo. Gerakan itu mengusung tema penguatan produksi, pascapanen, dan distribusi guna menjaga stabilitas pangan nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Kepala Perwakilan BI Jember menilai penguatan kapasitas petani menjadi salah satu kunci menjaga pasokan komoditas strategis. Karena itu, pelatihan tidak hanya berfokus pada aspek budidaya, tetapi juga manajemen usaha tani yang berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, BI Jember menggandeng sejumlah mitra strategis. Ansa School Semarang bertugas memberikan pendampingan terkait penerapan digital farming, mulai pemanfaatan teknologi hingga penggunaan data lapangan sebagai dasar pengambilan keputusan budidaya yang lebih presisi.
Sementara itu, Fakultas Pertanian Universitas Jember memberikan materi Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Petani dilatih mengenali gejala serangan organisme pengganggu tanaman, melakukan pengamatan lapangan, hingga menentukan langkah pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan.
Perwakilan Ansa School Semarang, Mamik Arifin, mengatakan digital farming dapat membantu petani mengambil keputusan budidaya secara lebih akurat berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi risiko kegagalan panen.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan di masing-masing kabupaten juga turut terlibat dalam kegiatan ini, terutama pada aspek penguatan kelembagaan petani dan pengembangan kewirausahaan pertanian.
“Kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, akademisi, dan mitra pendamping menjadi kunci dalam memperkuat daya saing petani. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi kelompok tani, baik dari sisi teknis budidaya, manajemen usaha, maupun keberlanjutan produksi,” ujar perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Situbondo.
Selain pelatihan, setiap kelompok tani juga mendapatkan pendampingan demplot budidaya bawang merah seluas satu hektare. Pendampingan dilakukan sejak pencatatan kondisi awal lahan, monitoring pertumbuhan tanaman, evaluasi hasil panen, hingga penyusunan rekomendasi perbaikan untuk musim tanam berikutnya.
Peserta kegiatan terdiri atas anggota kelompok tani, pengurus kelembagaan petani, penyuluh pertanian lapangan, serta petani muda yang diproyeksikan menjadi motor regenerasi sektor pertanian.
Ke depan, BI Jember berharap klaster-klaster pangan binaan mampu berkembang menjadi model pertanian modern yang produktif, adaptif terhadap teknologi, kuat secara kelembagaan, serta mampu menjaga pasokan bawang merah secara berkelanjutan.
Langkah ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju Road to Sekarkijang Creative Fest 2026, agenda unggulan BI Jember yang diarahkan untuk memperkuat daya saing sektor pangan sekaligus mendorong kesejahteraan petani di wilayah kerja Bank Indonesia Jember. (*)
Editor : Ali Sodiqin