RADARBANYUWANGI.ID – Aktivitas di kawasan Pelabuhan Muncar tidak seramai biasanya dalam beberapa hari terakhir. Banyak perahu nelayan yang memilih bersandar di dermaga daripada melaut. Penyebabnya, hasil tangkapan ikan terus menurun seiring datangnya musim paceklik yang mulai dirasakan para nelayan di pesisir selatan Banyuwangi.
Kondisi tersebut membuat sebagian nelayan memilih menghentikan sementara aktivitas melaut. Waktu yang tersedia dimanfaatkan untuk melakukan perawatan kapal, memperbaiki alat tangkap, hingga menyiapkan perlengkapan menghadapi musim ikan berikutnya.
Tokoh nelayan Muncar, Kasim, mengatakan hasil tangkapan nelayan dalam beberapa pekan terakhir relatif minim. Situasi itu membuat banyak nelayan memutuskan beristirahat sambil melakukan pekerjaan perawatan armada.
“Masuk musim paceklik, banyak nelayan yang libur,” ujarnya.
Menurut warga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar itu, penurunan hasil tangkapan sudah dirasakan hampir seluruh kelompok nelayan. Bahkan, dari lima perahu yang berada dalam kelompoknya, hanya satu hingga dua perahu yang masih mampu memperoleh hasil tangkapan.
Kasim menduga kondisi cuaca dan perubahan musim menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberadaan ikan di perairan Muncar. Fenomena tersebut sebenarnya bukan hal baru karena setiap tahun nelayan menghadapi pola serupa saat memasuki pertengahan tahun.
“Mungkin El Nino atau apa. Namun ketika musim panas pada Juni hingga Agustus biasanya tangkapan memang minim. Biasanya hasil tangkapan kembali melimpah pada September,” katanya.
Khawatir Dampak Overfishing
Selain faktor cuaca, nelayan juga menyoroti tingginya aktivitas penangkapan ikan saat musim lemuru pada awal tahun lalu. Menurut Kasim, saat musim lemuru pada Januari hingga Februari, perairan Muncar dipadati nelayan dari berbagai daerah yang turut berburu ikan.
Tingginya intensitas penangkapan tersebut memunculkan kekhawatiran terjadinya overfishing atau penangkapan ikan berlebihan yang dapat mengganggu regenerasi sumber daya ikan di laut.
“Waktu musim lemuru lalu banyak nelayan pendatang dari luar daerah sehingga tangkapan bisa melebihi batas. Yang kami khawatirkan, musim paceklik berkepanjangan karena ikan yang belum waktunya ditangkap, banyak yang ditangkap,” ujarnya.
Kekhawatiran itu muncul karena keberlanjutan hasil tangkapan nelayan sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem laut. Jika stok ikan berkurang akibat eksploitasi berlebihan, masa pemulihan populasi ikan bisa berlangsung lebih lama.
Menunggu Musim Ikan Kembali Melimpah
Hal serupa dirasakan Miswan, nelayan Muncar lainnya. Ia mengaku beberapa waktu terakhir hasil tangkapan yang diperoleh jauh dari harapan. Karena itu, banyak nelayan memilih mengurangi frekuensi melaut untuk menekan biaya operasional.
Menurut Miswan, nelayan kini hanya bisa berharap kondisi perairan segera membaik sehingga populasi ikan kembali melimpah. Ia memperkirakan hasil tangkapan akan mulai meningkat setelah tradisi petik laut digelar seperti tahun-tahun sebelumnya.
Di tengah musim paceklik, aktivitas perbaikan kapal dan alat tangkap menjadi pemandangan yang mendominasi kawasan pelabuhan. Bagi para nelayan, masa sulit ini bukan hanya soal menurunnya pendapatan, tetapi juga momentum untuk mempersiapkan armada agar siap kembali beroperasi saat musim ikan tiba.
Sambil menunggu perubahan musim, para nelayan berharap cuaca segera bersahabat dan stok ikan di perairan Muncar kembali pulih. Sebab, kehidupan ribuan keluarga di kawasan pesisir Banyuwangi masih sangat bergantung pada hasil laut yang menjadi sumber penghidupan utama mereka. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin