Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pengurus MWC NU Wongsorejo Dilantik, Hadirkan Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin

Syaifuddin Mahmud • Senin, 8 Juni 2026 | 15:11 WIB
Jajaran pengurus PCNU Banyuwangi yang dipimpin Ketua Tanfidziyah Achmad Turmudzi dan pengurus MWC NU Wongsorejo berfoto bersama dengan Dr KH Abdullah Syamul Arifin usai pelantikan, Minggu malam (7/6). (Syaifuddin/Radar Banyuwangi)
Jajaran pengurus PCNU Banyuwangi yang dipimpin Ketua Tanfidziyah Achmad Turmudzi dan pengurus MWC NU Wongsorejo berfoto bersama dengan Dr KH Abdullah Syamul Arifin usai pelantikan, Minggu malam (7/6). (Syaifuddin/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - PCNU Banyuwangi melantik kepengurusan MWC NU Wongsorejo, Minggu malam (7/6). Pelantikan berlangsung di kantor Kecamatan Wongsorejo dihadiri ratusan warga nahdliyin. Yang menarik, panitia juga menghadirkan ulama nasional dari Ketua Lembaga Dakwah PBNU Dr KH Abdullah Syamsul Arifin, MA  yang juga Pengasuh PP Darul Arifin, Jember.

Seperti diketahui, satu bulan lalu, PCNU Banyuwangi melaksanakan Konferensi MWCNU Wongsorejo.  Peserta konferensi berhasil memilih KH Hasan Bashori sebagai Ketua Tanfidziyah dan Ustad Sholihin ditetapkan Ahwa sebagai Rosi Syuriyah. 
Masa khidmat 2026–2031.

Pelantikan pengurus MWC Wongsorejo dikemas dalam nuansa pengajian Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Kehadiran Gus AAB - sapaan Dr KH Abdullah Syamsul Arifin, MA- memberi penguatan spiritual dan organisatoris bagi kepengurusan baru MWCNU Wongsorejo dalam mengemban amanah organisasi.

Ketua MWCNU Wongsorejo H Hasan Bashori, menyampaikan bahwa kehadiran Gus AAB sebagai bentuk motivasi bagi para pengurus baru agar memiliki keteguhan dalam menjalankan roda organisasi. “Berorganisasi di NU itu tidak cukup hanya pintar, tetapi juga harus benar dalam sikap, lurus dalam niat, dan tegar menghadapi tantangan. Karena itu kami menghadirkan beliau untuk memberikan penguatan ruh perjuangan kepada para pengurus,” ungkapnya.

Prosesi pelantikan dan pembaiatan dipimpin langsung oleh Ketua PCNU Banyuwangi H Achmad Turmudzi, yang hadir bersama jajaran pengurus cabang. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya merawat soliditas internal pasca konferensi, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi eksternal demi kemaslahatan umat.

Menurutnya, dinamika perbedaan pandangan dalam konferensi merupakan hal yang wajar dalam organisasi besar seperti NU. Namun setelah proses demokrasi organisasi selesai, seluruh elemen harus kembali dirangkul dan disatukan. “MWCNU Wongsorejo harus mampu mengedepankan sikap merangkul semua pihak, baik di lingkungan internal NU mulai dari badan otonom, lembaga, hingga ranting-ranting. Setelah konferensi tentu ada dinamika dan perbedaan pandangan, tetapi itu harus dijahit kembali menjadi kekuatan bersama agar konsolidasi organisasi berjalan lebih mudah,” pesannya.

Achmad Turmudzi juga mengingatkan pentingnya membangun hubungan baik dengan seluruh unsur eksternal, termasuk pemerintah dan elemen masyarakat, dengan tetap menjaga independensi organisasi. “NU harus menjaga jarak yang sama dengan seluruh partai politik. Jangan terlalu dekat, jangan terlalu jauh. Posisi ini penting agar NU tetap menjadi rumah besar umat dan kemaslahatan warga Nahdliyin dapat tercapai dalam suasana damai, teduh, dan penuh persaudaraan,” tegasnya.

Sementara itu, dalam tausiyah kebangsaan, Dr KH Abdullah Syamsul Arifin mengajak seluruh pengurus dan warga Nahdliyin untuk memahami kembali hakikat berdirinya Nahdlatul Ulama sebagaimana dicita-citakan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Ia menegaskan bahwa NU lahir bukan untuk kelompok tertentu, melainkan sebagai ruang besar yang merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial maupun latar belakang.

“NU yang didirikan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari bukan organisasi yang hanya memikirkan kelompok sendiri. NU hadir untuk merangkul seluruh komponen rakyat. Tidak hanya diri kita yang diajak berkhidmah, tetapi semua unsur masyarakat, yang miskin maupun kaya, yang lemah maupun kuat. Karena NU adalah organisasi penuh keberkahan,” tuturnya di hadapan jemaah.

Gus AAB mengingatkan bahwa menjadi pengurus NU bukan sekadar jabatan struktural, melainkan amanah perjuangan yang membutuhkan keikhlasan, kesabaran, dan pengorbanan. Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari banyaknya program, tetapi dari sejauh mana NU mampu menghadirkan manfaat nyata bagi umat.

“Jangan jadikan NU sebagai alat kepentingan pribadi atau kelompok. Jadikan NU sebagai wasilah khidmah. Ketika pengurus mampu mengedepankan keikhlasan dan menjaga persatuan, insyaallah keberkahan akan turun dan masyarakat akan merasakan manfaat kehadiran NU,” tambahnya.

Pelantikan MWCNU Wongsorejo tersebut juga menjadi momentum konsolidasi besar warga nahdliyin setempat. Kehadiran para kiai, tokoh masyarakat, pengurus badan otonom, ranting NU, hingga unsur pemerintahan menunjukkan kuatnya harapan terhadap kepengurusan baru untuk semakin mengokohkan peran NU dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan penguatan ideologi Aswaja An-Nahdliyah di wilayah Wongsorejo.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Nahdlatul Ulama Banyuwangi #MWCNU Wongsorejo #Gus AAB #Aswaja An Nahdliyah #pcnu banyuwangi