RADARBANYUWANGI.ID – Panorama hutan pinus, udara sejuk lereng pegunungan, dan lanskap alam yang masih asri menjadikan Kecamatan Sempu sebagai magnet wisata baru di Banyuwangi. Dalam beberapa tahun terakhir, destinasi wisata berbasis alam tumbuh bak jamur di musim hujan dan berhasil menarik ribuan pelancong setiap pekan. Namun di balik geliat ekonomi yang mulai dirasakan warga, tersimpan ancaman bencana yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Fenomena menjamurnya wisata alam baru itu mendapat perhatian serius dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur. Instansi tersebut mulai mengintensifkan edukasi dan pelatihan mitigasi bencana bagi para pengelola destinasi wisata maupun pengunjung di kawasan Sempu.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan agar perkembangan sektor pariwisata tidak mengabaikan aspek keselamatan.
“Ini sebagai langkah preventif kami,” ujar anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jawa Timur, Ismanto.
Wisata Alam Berkembang, Risiko Ikut Meningkat
Menurut Ismanto, sebagian besar destinasi wisata baru di Sempu memanfaatkan potensi alam berupa kawasan perbukitan, hutan pinus, tebing, aliran sungai, hingga lereng pegunungan. Kondisi tersebut memang menawarkan daya tarik visual yang kuat bagi wisatawan.
Namun pada saat bersamaan, lokasi-lokasi tersebut juga memiliki tingkat kerawanan tertentu terhadap bencana alam seperti longsor, pohon tumbang, banjir bandang, maupun cuaca ekstrem.
Karena itu, BPBD Jatim menilai pengelola wisata harus memiliki pemahaman yang cukup terkait kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
“Destinasi-destinasi baru ini rata-rata berada di area tebing, bantaran sungai, atau kawasan rawan longsor. Kami mengimbau seluruh pengelola segera menyiapkan segala keperluan mitigasi bencana,” tegasnya.
Pengelola Dilatih Membaca Tanda Bahaya
Dalam kegiatan yang digelar selama sepekan terakhir tersebut, para pengelola wisata mendapatkan berbagai materi dasar kebencanaan.
Mulai dari cara membaca tanda-tanda alam yang berpotensi menimbulkan bencana, menyusun peta risiko kawasan wisata, menentukan jalur evakuasi, hingga simulasi penanganan pertama saat kondisi darurat terjadi.
“Kami juga melakukan sosialisasi di sejumlah tempat wisata lain. Pekan ini difokuskan di Kecamatan Sempu,” jelas Ismanto.
Pelatihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapan pengelola sehingga dapat mengambil keputusan cepat ketika terjadi situasi yang membahayakan wisatawan.
Tak Cukup Pasang Rambu Evakuasi
BPBD Jatim menegaskan bahwa mitigasi bencana tidak cukup hanya dengan memasang papan petunjuk arah evakuasi.
Pengelola wisata juga didorong menyediakan perangkat pendukung keselamatan lain seperti alat komunikasi darurat, perlengkapan penyelamatan, pelampung untuk wisata berbasis air, hingga sistem pemantauan cuaca yang terhubung dengan informasi resmi dari BMKG.
Menurut Ismanto, kesiapan tersebut menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan destinasi wisata.
“Jangan sampai menunggu ada kejadian baru kelabakan. Keamanan wisatawan adalah investasi jangka panjang. Jika pengelola siap, wisatawan juga akan merasa aman,” katanya.
Keselamatan Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan
Meningkatnya popularitas wisata alam di Sempu memang membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Warung, area parkir, jasa wisata, hingga pelaku UMKM mulai merasakan dampak positif dari bertambahnya kunjungan wisatawan.
Namun, keberhasilan sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh keindahan panorama yang ditawarkan. Faktor keselamatan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana kini menjadi indikator penting yang turut menentukan kepercayaan wisatawan.
Karena itu, BPBD Jatim berharap seluruh pengelola wisata alam di Banyuwangi mulai menjadikan mitigasi bencana sebagai bagian dari standar pelayanan. Sebab, di balik pesona hutan pinus dan panorama pegunungan yang memikat, keselamatan tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh ditawar. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin