RADARBANYUWANGI.ID – Fenomena unik terjadi di Banyuwangi pada Jumat (5/6). Dalam sehari, sebanyak 324 pasangan pengantin resmi melangsungkan akad nikah di berbagai kecamatan. Angka fantastis itu menjadikan Jumat Pon yang bertepatan dengan bulan Dzulhijjah sebagai hari dengan jumlah pernikahan tertinggi sepanjang awal Juni 2026 di Bumi Blambangan.
Lonjakan pernikahan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, khususnya di Banyuwangi, perpaduan Jumat Pon dan bulan Dzulhijjah diyakini sebagai momentum istimewa untuk memulai kehidupan rumah tangga. Kombinasi hari dan bulan tersebut dipercaya membawa keberkahan, keharmonisan, serta keberuntungan bagi pasangan yang menikah.
Data Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi mencatat, total terdapat sekitar 1.000 pasangan yang telah menjadwalkan akad nikah selama periode 1 hingga 8 Juni 2026. Dari jumlah itu, hampir sepertiganya memilih melangsungkan pernikahan pada Jumat Pon, 5 Juni lalu.
Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Chaironi Hidayat, mengatakan tingginya angka pernikahan tersebut menunjukkan kuatnya tradisi dan keyakinan masyarakat terhadap penanggalan Jawa yang berpadu dengan momentum bulan Dzulhijjah.
“Sebanyak 324 pasangan melangsungkan pernikahan pada bulan Dzulhijjah di hari Jumat Pon, yang menurut keyakinan masyarakat Banyuwangi dipercaya sebagai hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan,” ujarnya.
Fenomena ini membuat hampir seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) di Banyuwangi bekerja ekstra untuk melayani prosesi akad nikah yang berlangsung secara bersamaan di berbagai wilayah.
Berdasarkan data Kemenag Banyuwangi, KUA Rogojampi menjadi wilayah dengan jumlah pernikahan terbanyak, yakni mencapai 39 pasangan dalam sehari.
Posisi berikutnya ditempati KUA Srono dengan 26 pasangan, disusul KUA Muncar yang mencatat 24 akad nikah.
Sementara itu, KUA Singojuruh melayani 23 pasangan, dan KUA Sempu mencatat 21 pasangan yang menggelar akad nikah pada hari yang sama.
Wilayah lain yang juga mencatat angka tinggi antara lain Kecamatan Banyuwangi dan Kabat masing-masing 20 pasangan, Songgon 14 pasangan, Genteng dan Cluring masing-masing 13 pasangan, serta Glagah, Gambiran, Glenmore, dan Kalipuro yang masing-masing mencatat 12 pasangan menikah.
Chaironi menjelaskan, tingginya angka pernikahan pada bulan Dzulhijjah merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Namun, ketika bulan tersebut bertepatan dengan hari yang dianggap baik dalam penanggalan Jawa seperti Jumat Pon, jumlahnya biasanya meningkat jauh lebih tinggi.
“Dianggap sebagai bulan dan hari yang baik, sehingga masyarakat berlomba-lomba mengadakan pernikahan pada bulan Dzulhijjah, terutama saat Jumat Pon menurut penanggalan Jawa,” katanya.
Data Kemenag menunjukkan, selain Jumat Pon yang mencatat 324 pasangan menikah, jumlah pernikahan juga cukup tinggi pada Kamis (4/6) dengan 166 pasangan. Sedangkan pada Rabu (3/6), tercatat 160 pasangan melangsungkan akad nikah.
Artinya, hanya dalam tiga hari, lebih dari 650 pasangan resmi mengikat janji suci pernikahan di Banyuwangi.
Salah satu pasangan yang memilih menikah pada Jumat Pon adalah Dwi, warga Kecamatan Licin. Ia mengaku tanggal tersebut telah dipilih jauh-jauh hari berdasarkan pertimbangan keluarga dan keyakinan terhadap penanggalan Jawa.
“Kami melangsungkan pernikahan di Jumat Pon karena menurut penanggalan Jawa merupakan hari yang baik, yang sudah dipilih jauh-jauh hari dari pihak keluarga,” tuturnya.
Lima Kecamatan dengan Pernikahan Terbanyak pada Jumat Pon
-
Rogojampi : 39 pasangan
-
Srono : 26 pasangan
-
Muncar : 24 pasangan
-
Singojuruh : 23 pasangan
-
Sempu : 21 pasangan
Fenomena 324 pernikahan dalam sehari ini menunjukkan bahwa tradisi penentuan hari baik masih sangat kuat di tengah masyarakat Banyuwangi. Di era modern, perpaduan antara keyakinan budaya Jawa dan momentum keagamaan tetap menjadi pertimbangan utama banyak keluarga dalam menentukan hari paling sakral untuk memulai bahtera rumah tangga. (ray)
Editor : Ali Sodiqin