Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dzulhijjah dan Jumat Pon Picu Ledakan Nikah, 1.000 Pasangan Menikah di Banyuwangi

M Ksatria Raya • Sabtu, 6 Juni 2026 | 23:15 WIB
Sebanyak 1.000 pasangan menikah di Banyuwangi pada awal Dzulhijjah 2026. Jumat Pon menjadi hari favorit dengan 324 akad nikah. (Ilustrasi ChatGPT)
Sebanyak 1.000 pasangan menikah di Banyuwangi pada awal Dzulhijjah 2026. Jumat Pon menjadi hari favorit dengan 324 akad nikah. (Ilustrasi ChatGPT)

RADARBANYUWANGI.ID – Awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah menjadi momen istimewa bagi ribuan warga Banyuwangi. Dalam sepekan pertama Juni 2026, tercatat sedikitnya 1.000 pasangan menjadwalkan akad nikah. Fenomena ini dipicu kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap bulan Dzulhijjah dan weton Jumat Pon yang diyakini membawa keberkahan dalam membangun rumah tangga.

Data Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi menunjukkan, sebanyak 1.000 pasangan telah mendaftarkan pernikahan pada periode 1 hingga 8 Juni 2026. Puncaknya terjadi pada Jumat Pon, 5 Juni 2026, ketika 324 pasangan melangsungkan akad nikah secara bersamaan di berbagai wilayah Banyuwangi.

Lonjakan angka pernikahan tersebut menjadikan awal Dzulhijjah tahun ini sebagai salah satu periode tersibuk bagi Kantor Urusan Agama (KUA) di Bumi Blambangan.

Dzulhijjah dan Jumat Pon Dianggap Membawa Keberkahan

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Chaironi Hidayat, mengatakan tingginya angka pernikahan tidak lepas dari keyakinan masyarakat Jawa yang memandang kombinasi bulan Dzulhijjah dan Jumat Pon sebagai momentum terbaik untuk memulai kehidupan rumah tangga.

Menurutnya, tradisi tersebut masih sangat kuat di tengah masyarakat Banyuwangi dan diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga.

"Sebanyak 324 pasangan melangsungkan pernikahan pada bulan Dzulhijjah, tepatnya Jumat Pon. Menurut keyakinan masyarakat, itu dipercaya sebagai hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan," ujar Chaironi Hidayat, yang akrab disapa Roni.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, perpaduan bulan Dzulhijjah dengan weton Jumat Pon dipercaya membawa keberuntungan, keharmonisan, serta keberkahan bagi pasangan yang menikah. Karena itu, banyak keluarga sengaja menentukan tanggal akad jauh hari sebelumnya agar bertepatan dengan momentum tersebut.

Rogojampi Jadi Wilayah dengan Pernikahan Terbanyak

Tingginya antusiasme masyarakat terlihat hampir di seluruh kecamatan. Namun, KUA Rogojampi menjadi wilayah dengan jumlah akad nikah tertinggi pada Jumat Pon, yakni mencapai 39 pasangan.

Posisi berikutnya ditempati KUA Srono dengan 26 pasangan, disusul KUA Muncar sebanyak 24 pasangan dan KUA Singojuruh dengan 23 pasangan. Sementara itu, KUA Sempu mencatat 21 pasangan menikah pada hari yang sama.

Berikut jumlah pasangan yang melangsungkan akad nikah pada Jumat Pon di masing-masing wilayah:

Total keseluruhan mencapai 324 pasangan.

Tidak Hanya Jumat Pon, Hari-Hari Sebelumnya Juga Padat

Lonjakan pernikahan ternyata tidak hanya terjadi pada Jumat Pon. Kemenag Banyuwangi mencatat sehari sebelumnya, Kamis (4/6/2026), terdapat 166 pasangan yang melangsungkan akad nikah.

Sementara pada Rabu (3/6/2026), jumlah pasangan yang menikah mencapai 160 pasangan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa awal Dzulhijjah memang menjadi musim hajatan bagi masyarakat Banyuwangi. Banyak keluarga memilih menggelar pernikahan dalam rentang waktu tersebut karena dianggap membawa keberuntungan bagi kedua mempelai.

"Dianggap sebagai bulan dan hari yang baik, sehingga masyarakat berlomba-lomba mengadakan pernikahan pada bulan Dzulhijjah, terutama saat Jumat Pon menurut penanggalan Jawa," kata Roni.

Dipilih Jauh Hari oleh Keluarga

Salah satu pasangan yang menikah pada Jumat Pon adalah Dwi, warga Kecamatan Licin. Ia mengaku tanggal pernikahannya telah ditentukan jauh-jauh hari berdasarkan perhitungan penanggalan Jawa yang diyakini keluarga.

Menurut Dwi, keputusan memilih Jumat Pon bukan sekadar mengikuti tren, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap tradisi keluarga yang masih dijaga hingga saat ini. "Kami melangsungkan pernikahan di Jumat Pon karena menurut penanggalan Jawa merupakan hari yang baik, yang sudah dipilih jauh-jauh hari dari pihak keluarga," ujarnya.

Fenomena 1.000 pasangan menikah dalam sepekan menunjukkan bahwa tradisi budaya dan nilai religius masih memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi. Di tengah modernisasi, kepercayaan terhadap momentum tertentu untuk memulai kehidupan rumah tangga tetap menjadi bagian penting yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#pernikahan Banyuwangi #Dzulhijjah 2026 #akad nikah #kemenag banyuwangi #jumat pon