RadarBanyuwangi.id – Lesung, yakni berbahan batang kayu besar dengan berbagai ukuran.
Yang tengahnya dilubangi sepanjang batang kayu.
Lesung digunakan sebagai wadah saat menumbuk padi.
Alu, masih berbahan kayu panjang seperti tongkat.
Namun biasanya ditengah tongkat tersebut ukurannya agak mengecil dan ujung-ujungnya sama besar.
Panjang pendeknya juga bervariasi.
Mbok Othek, para ibu-ibu yang rata-rata sudah berusia lanjut.
Merekalah yang akan memegang Alu, dan memukulkan ke Lesung.
Satu Lesung bisanya ada tiga atau empat Mbok Othek.
Dulu
Mbok Othek, Lesung dan Alu merupakan satu kesatuan dalam proses penumbukan hasil panen pertanian.
Terutama padi.
Setelah padi dipanen, akan dikupas dari kulitnya dengan cara ditumbuk.
Padi dimasukkan ke lubang Lesung selanjutnya Mbok Othek akan menumbuk menggunakan Alu.
Proses itu dikerjakan secara bersama-sama, secara beramai-ramai dan secara gotong royong.
Budaya Indonesia secara turun temurun.
Sambil menumbuk padi, terkadang para ibu-ibu atau Mbok Othek biasanya saling bercanda, saling bercerita dan kadang terkekeh bergembira.
Saat istirahat atau senggang untuk mengusir kebosanan para Mbok-mbok akan memukul Alu di Lesung namun dengan menata ritme dan irama.
Kompak dan rancak munculah bunyi-bunyian yang sangat nyaman didengar.
Sekarang
Saat ini era modern, memanen padi kadang sudah menggunakan mesin besar atau traktor.
Untuk mengupas padi tidak lagi menggunakan Lesung dan ditumbuk.
Tetapi menggunakan mesin giling padi, atau selep.
Ada yang berkapasitas kecil, seperti mesin giling daging tapi juga ada yang berkapasitas besar, dan berada dalam sebuah pabrik.
Disinilah tugas atau peran dari Mbok Othek mulai tergeser.
Yang dulunya menumbuk untuk mengupas padi, sekarang digantikan mesing giling.
Namun manusia sebagai mahluk sosial dan mudah beradaptasi tentunya tidak menyerah begitu saja.
Saat ini, Mbok Othek, Lesung dan Alu masih dalam satu kesatuan.
Hanya kegiatan dan waktunya saja yang berubah.
Mbok Othek mengenakan baju yang sama, biasanya mengenakan baju adat.
Sementara Lesung dan Alu masih tetap sama.
Waktunya, saat acara kegiatan adat, atraksi-atraksi di berbagai tempat wisata.
Bagian Kesenian Adat Banyuwangi
Tidak perlu diragukan lagi.
Banyuwangi gudang dan sumbernya budaya, kesenian dan adat.
Gandrung, Seblang, Kebo-keboan, Petik laut dan lainnya.
Angklung Caruk, Kuntulan, Tari Gandrung, tari Jaran Goyang dan masih seabrek lagi.
Dan salah satunya Mbok Othek.
Atraksi Mbok Othek di Banyuwangi masih sering ditemukan dan disaksikan di Desa Kemiren – Glagah.
Setiap hari Minggu pagi, di desa adat Kemiren terdapat pasar jajanan dan kuliner.
Ditengah-tengah kegiatan itu ada sebuah tempat yang menyediakan atraksi Mbok Othek.
Pengunjung bisa berinteraksi disana.
Mulai sekedar berfoto hingga mencoba bermain memukul Alu.
Mbok Othek juga bisa ditemui disaat kegiatan adat yang diselenggarakan di Kemiren.
Seperti Ider Bumi yang dilaksanakan pada hari kedua Idul Fitri.
Juga saat Festival Tumpeng Sewu, biasanya diselenggarakan menjelang Idul Adha.
Atau, beberapa tempat kuliner, sanggar masih menyediakan atraksi Mbok Othek.
Seperti halnya Sanggar Genjah Arum.
Disaat ada tamu akan disambut dengan Barong Kemiren.
Dilanjut dengan suguhan Mbok Othek.
Kletak kletuk…kletak kletuk mungkin begitu irama yang ditimbulkan dari tumbukan Alu ke Lesung.
Rancak, sederhana namun enak didengar di telinga.
Editor : Gerda Sukarno Prayudha