RADARBANYUWANGI.ID – Upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tidak hanya dilakukan melalui patroli dan penegakan hukum. Polresta Banyuwangi kini menggandeng para tokoh agama untuk menjadi mitra strategis dalam merawat persatuan dan mencegah potensi konflik sosial melalui jalur dakwah.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Lomba Dai Kamtibmas yang digelar di Aula Rupatama Wira Pratama Polresta Banyuwangi, Kamis (5/6). Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026 itu diikuti dai dan daiyah dari berbagai kecamatan di Banyuwangi yang bersaing menyampaikan dakwah bertema keamanan, toleransi, dan kebangsaan.
Lomba tersebut bukan sekadar kompetisi ceramah keagamaan. Polresta Banyuwangi menjadikannya sebagai ruang kolaborasi untuk melahirkan para pendakwah yang mampu menjadi agen perdamaian, penyejuk masyarakat, sekaligus jembatan komunikasi antara kepolisian dan warga.
Kegiatan itu dihadiri langsung Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan, jajaran pejabat utama Polresta Banyuwangi, dewan juri, tokoh agama, serta para peserta yang telah lolos ke tahapan penilaian.
Angkat Tema Kamtibmas, Toleransi, dan Kebangsaan
Berdasarkan dokumentasi kegiatan, para peserta tampil menyampaikan materi dakwah dengan tema yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Materi yang dibawakan tidak hanya berisi pesan-pesan keagamaan, tetapi juga mengangkat pentingnya menjaga keamanan lingkungan, memperkuat toleransi antarumat beragama, menangkal radikalisme, serta memperkokoh nilai-nilai kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat Banyuwangi.
Melalui pendekatan dakwah yang santun dan edukatif, peserta diajak menyampaikan pesan-pesan kamtibmas dengan bahasa yang mudah diterima masyarakat.
Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan menilai peran tokoh agama memiliki posisi yang sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial di tengah masyarakat.
Menurut dia, dai dan daiyah merupakan figur yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat sehingga pesan yang disampaikan sering kali lebih mudah diterima dan dipahami.
“Melalui Lomba Dai Kamtibmas ini, kami ingin memperkuat sinergi antara Polri dan para tokoh agama. Dai memiliki peran penting sebagai mitra dalam menyampaikan pesan-pesan kesejukan, mencegah potensi konflik, serta mengajak masyarakat menjaga keamanan lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Dakwah Jadi Instrumen Pencegahan Konflik
Rofiq menjelaskan, tantangan menjaga keamanan saat ini tidak hanya berkaitan dengan tindak kriminalitas, tetapi juga menyangkut penyebaran hoaks, intoleransi, ujaran kebencian, hingga potensi gesekan sosial yang dapat mengganggu persatuan masyarakat.
Karena itu, pendekatan preventif melalui edukasi keagamaan dinilai menjadi salah satu langkah efektif dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kondusivitas daerah.
Menurutnya, pesan-pesan agama yang disampaikan secara sejuk dan moderat mampu menjadi benteng sosial yang kuat dalam mencegah munculnya konflik maupun perpecahan.
“Dakwah yang menyejukkan dapat menjadi sarana edukasi yang efektif untuk mengajak masyarakat menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan menciptakan lingkungan yang aman,” katanya.
Peserta Dinilai dari Penguasaan Materi dan Pesan Kamtibmas
Sementara itu, Kasat Binmas Polresta Banyuwangi Kompol Basori Alwi mengatakan pelaksanaan lomba berlangsung dengan antusiasme tinggi.
Peserta yang masuk dalam jajaran 10 besar menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam menyampaikan materi dakwah yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.
Menurut Basori, dewan juri melakukan penilaian berdasarkan beberapa aspek utama, mulai dari teknik penyampaian materi, penguasaan tema kamtibmas, kemampuan komunikasi publik, hingga efektivitas pesan yang disampaikan kepada masyarakat.
Selain itu, peserta juga dinilai dari kemampuan mereka membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban secara bersama-sama.
“Para peserta dinilai berdasarkan kemampuan menyampaikan materi, penguasaan tema kamtibmas, serta kemampuan memberikan pesan-pesan yang membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban bersama,” jelasnya.
Lahirkan Dai Kamtibmas di Banyuwangi
Polresta Banyuwangi berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebatas perlombaan seremonial tahunan.
Lebih dari itu, lomba diharapkan mampu melahirkan dai-dai kamtibmas yang dapat menjadi mitra aktif kepolisian dalam menjaga keamanan lingkungan dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
Keberadaan dai kamtibmas dinilai penting karena mampu menjangkau lapisan masyarakat hingga tingkat akar rumput melalui forum pengajian, majelis taklim, maupun kegiatan keagamaan lainnya.
Melalui peran tersebut, pesan-pesan mengenai toleransi, persatuan, pencegahan konflik, serta kepedulian terhadap keamanan lingkungan dapat tersampaikan secara lebih luas.
“Melalui kegiatan ini kami berharap lahir dai-dai kamtibmas yang mampu menjadi jembatan komunikasi antara kepolisian dan masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan di Bumi Blambangan,” tambah Basori.
Perkuat Kolaborasi untuk Banyuwangi yang Kondusif
Lomba Dai Kamtibmas menjadi salah satu bentuk pendekatan humanis yang terus dikembangkan Polresta Banyuwangi dalam membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat.
Melalui kolaborasi dengan tokoh agama, kepolisian berharap tercipta sinergi yang semakin kuat dalam menjaga Banyuwangi tetap aman, damai, dan toleran di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Momentum Hari Bhayangkara ke-80 pun menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi juga merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk para tokoh agama yang selama ini menjadi panutan di tengah kehidupan sosial. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin