Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Warga Sarongan Banyuwangi Siaga Hadapi Banjir dan Longsor, Relawan Cek Seluruh Peralatan Darurat

Salis Ali Muhyidin • Jumat, 5 Juni 2026 | 03:00 WIB
SIAGA: Anggota FPRB mempersiapkan peralatan penanggulangan bencana di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kamis (4/6). (Feri for Radar Banyuwangi)
SIAGA: Anggota FPRB mempersiapkan peralatan penanggulangan bencana di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kamis (4/6). (Feri for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Ancaman banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang yang kerap menghantui wilayah selatan Banyuwangi mendorong warga Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), warga bergerak lebih awal dengan memastikan seluruh personel dan peralatan tanggap darurat dalam kondisi siap digunakan kapan saja.

Langkah antisipatif tersebut dilakukan menyusul tingginya risiko bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi saat curah hujan meningkat. Desa Sarongan yang berada di kawasan hutan dan memiliki sejumlah aliran sungai menjadi salah satu wilayah yang rentan terdampak banjir maupun longsor ketika hujan deras mengguyur dalam waktu lama.

Kesadaran terhadap potensi ancaman itu membuat para relawan FPRB Desa Sarongan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sarana dan prasarana penanggulangan bencana yang tersimpan di Kantor Desa Sarongan.

“Mulai potensi banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang memicu pohon tumbang kami waspadai. Karena itu kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan,” ujar Kepala Dusun Sukamade, Feri Nafaro.

Seluruh Peralatan Darurat Dicek Satu per Satu

Dalam kegiatan tersebut, para relawan memeriksa seluruh perlengkapan yang selama ini menjadi andalan saat terjadi kondisi darurat. Tidak hanya melakukan pengecekan visual, mereka juga memastikan seluruh peralatan dapat berfungsi dengan baik ketika dibutuhkan.

Beberapa alat utama seperti chainsaw untuk evakuasi pohon tumbang dan genset sebagai sumber listrik cadangan dinyalakan secara langsung. Langkah itu dilakukan untuk memastikan mesin tetap dalam kondisi prima dan tidak mengalami kendala teknis saat digunakan di lapangan.

Selain itu, ketersediaan bahan bakar juga menjadi perhatian khusus. Seluruh tangki peralatan dipastikan terisi penuh sehingga siap digunakan sewaktu-waktu apabila terjadi bencana.

“Kesiapan alat adalah setengah keberhasilan dalam penanganan bencana. Karena itu kami tidak ingin ada kendala saat kondisi darurat terjadi,” kata Feri.

Menurut dia, kesiapan logistik dan peralatan menjadi faktor penting dalam mempercepat proses penanganan bencana, terutama pada jam-jam awal kejadian yang sering kali menjadi periode paling krusial untuk penyelamatan warga.

Bukan Sekadar Formalitas

Feri menegaskan, kegiatan pemeriksaan peralatan tersebut bukan sekadar agenda rutin atau formalitas belaka. Pengalaman menghadapi berbagai kejadian bencana sebelumnya menjadi pelajaran penting bahwa kondisi alat yang tidak optimal dapat memperlambat proses evakuasi dan memperbesar risiko di lapangan.

Karena itu, pihaknya berupaya memastikan setiap alat dapat beroperasi secara maksimal ketika diperlukan.

“Bencana datang tanpa pemberitahuan. Kalau kita tidak siap, dampaknya bisa lebih besar. Karena itu kami harus memastikan semua perlengkapan benar-benar siap digunakan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kesiapan peralatan tidak hanya berkaitan dengan keselamatan masyarakat yang terdampak, tetapi juga menyangkut keamanan para relawan yang bertugas di lapangan.

Tim Disiagakan di Lokasi Rawan Bencana

Selain memastikan kesiapan sarana dan prasarana, FPRB Desa Sarongan juga telah menyusun strategi penanganan apabila terjadi bencana. Personel relawan dibagi ke dalam beberapa sub-unit yang memiliki tugas berbeda sesuai kebutuhan di lapangan.

Sejumlah titik rawan telah dipetakan sebagai lokasi prioritas pengawasan dan penempatan personel. Salah satunya berada di kawasan penyeberangan Kali Sukamade yang selama ini menjadi area yang berpotensi mengalami peningkatan debit air saat hujan deras.

Relawan yang bertugas di jalur utama akan difokuskan untuk menangani pohon tumbang yang menghambat akses transportasi warga. Sementara tim lainnya disiapkan untuk membantu proses penyeberangan warga dan melakukan evakuasi apabila kondisi darurat terjadi.

“Kami sudah membagi personel menjadi beberapa sub-unit. Ada yang fokus menangani pohon tumbang di jalur utama, ada yang bertugas membantu penyeberangan dan evakuasi warga jika diperlukan,” jelasnya.

Budaya Siaga Bencana Terus Diperkuat

Langkah yang dilakukan FPRB Desa Sarongan menjadi bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana di tingkat masyarakat. Dengan kesiapsiagaan yang lebih baik, risiko korban jiwa maupun kerugian akibat bencana diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin.

Di tengah meningkatnya potensi cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, kesiapan masyarakat menjadi salah satu faktor utama dalam memperkuat ketahanan desa menghadapi berbagai ancaman bencana alam.

Melalui pengecekan peralatan, penguatan koordinasi relawan, hingga penempatan personel di lokasi rawan, warga Desa Sarongan menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi gerakan bersama masyarakat untuk melindungi lingkungan dan keselamatan sesama warga. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Desa Sarongan Banyuwangi #kesiapsiagaan bencana #FPRB Sarongan #banjir dan longsor Banyuwangi #relawan tanggap bencana