Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Waisak 2570 BE di Banyuwangi Meriah, Rupang Buddha 100 Kg Diarak 2 Kilometer Diiringi Penari Gandrung

Zamrozi Wahyu • Selasa, 2 Juni 2026 | 07:20 WIB
KELILING KAMPUNG: Umat Buddha Vihara Dhamma Mukti, Dusun Sidomukti, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran mengadakan kirab rupang diiringi gandrung pada Minggu sore (31/5). (Nanang for Radar Banyuwangi)
KELILING KAMPUNG: Umat Buddha Vihara Dhamma Mukti, Dusun Sidomukti, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran mengadakan kirab rupang diiringi gandrung pada Minggu sore (31/5). (Nanang for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE) di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, berlangsung semarak dan sarat makna budaya. Ratusan umat Buddha mengarak rupang atau patung Buddha seberat sekitar 100 kilogram mengelilingi kampung sejauh dua kilometer dengan diiringi penari Gandrung, Minggu sore (31/5).

Perpaduan antara ritual keagamaan dan kesenian khas Banyuwangi itu menjadi daya tarik tersendiri dalam perayaan Waisak tahun ini. Arak-arakan berlangsung mulai pukul 14.45 hingga 17.30 dan menyedot perhatian warga yang memadati ruas jalan desa.

Desa Yosomulyo dikenal sebagai salah satu wilayah dengan jumlah penganut agama Buddha terbanyak di Banyuwangi. Karena itu, setiap perayaan Waisak selalu berlangsung meriah dan menjadi agenda yang dinantikan masyarakat setempat.

Salah satu Romo Vihara Dhamma Mukti, Sumardiyanto, mengatakan kirab rupang Buddha merupakan bagian penting dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak yang telah dilaksanakan secara turun-temurun selama puluhan tahun.

“Kirab ini diikuti ratusan umat Buddha Vihara Dhamma Mukti,” ujarnya, Senin (1/6).

Dalam prosesi tersebut, rupang Buddha dipikul secara bergantian oleh umat. Patung itu kemudian diarak mengelilingi perkampungan sejauh kurang lebih dua kilometer sambil diiringi lantunan doa dan irama musik pengiring.

Yang menarik, panitia memasukkan unsur budaya lokal Banyuwangi dalam prosesi keagamaan tersebut. Sejumlah penari Gandrung mengenakan kostum lengkap dengan omprog atau mahkota khas Banyuwangi berada di barisan terdepan kirab.

Menurut Sumardiyanto, keterlibatan penari Gandrung menjadi simbol harmonisasi antara nilai spiritual dan budaya daerah.

“Dalam kirab itu penari Gandrung membawa puja,” katanya.

Dia menjelaskan, secara tradisi kirab rupang Buddha sebenarnya dilakukan dengan mengelilingi vihara sebanyak tiga kali. Namun umat Buddha di Vihara Dhamma Mukti memilih mengembangkan tradisi tersebut dengan mengarak rupang mengelilingi kampung agar masyarakat dapat turut merasakan suasana perayaan Waisak.

“Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan Siddhattha Gautama yang telah memberikan kesehatan dan rezeki kepada umat manusia,” ujarnya.

Tradisi kirab keliling kampung tersebut bukan hal baru. Menurut dia, kegiatan itu telah berlangsung sejak era 1980-an dan terus dipertahankan hingga sekarang sebagai bagian dari identitas umat Buddha di Desa Yosomulyo.

Selain menjadi ungkapan rasa syukur, kirab juga dimaknai sebagai sarana mempererat persaudaraan antarumat sekaligus memperkenalkan nilai-nilai toleransi kepada masyarakat luas.

Tak hanya itu, penyelenggara juga menjadikan kirab sebagai upaya pelestarian budaya lokal. Kesenian Gandrung yang menjadi ikon Banyuwangi sengaja dihadirkan dalam prosesi keagamaan agar tetap dikenal oleh generasi muda.

“Hal ini merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya Banyuwangi,” terangnya.

Sebelum mengikuti kirab, umat Buddha terlebih dahulu menjalani serangkaian ibadah dan pembinaan spiritual. Salah satunya melalui pelaksanaan puasa Atthasila yang dianjurkan selama satu bulan menjelang Hari Raya Waisak.

Dalam menjalankan Atthasila, umat diajak meningkatkan pengendalian diri dengan mematuhi sejumlah aturan moral. Di antaranya tidak membunuh makhluk hidup, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, tidak mengonsumsi minuman keras, tidak makan pada waktu yang tidak diperbolehkan, serta menghindari hiburan dan penggunaan perhiasan berlebihan.

Selain itu, umat juga dianjurkan untuk tidak menggunakan tempat tidur maupun tempat duduk yang mewah sebagai bentuk latihan kesederhanaan.

“Boleh makan pada pukul 06.00, kemudian makan lagi pada pukul 11.00 sampai pukul 12.00, lalu dibolehkan makan kembali pada keesokan harinya,” jelas Sumardiyanto.

Rangkaian perayaan Waisak tahun ini juga berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya kirab dilaksanakan lebih dahulu pada pagi hari, kali ini umat mengawali kegiatan dengan puja bakti yang dipimpin seorang samanera sebelum melaksanakan kirab pada sore hari.

“Tahun ini berbeda dari yang sebelumnya. Kalau yang lalu kirab dulu dan dilakukan pagi hari. Saat ini dilakukan puja bakti dulu lalu kirab di sore hari,” pungkasnya.

Perayaan Waisak 2570 BE di Desa Yosomulyo menjadi bukti kuatnya harmoni antara agama dan budaya di Banyuwangi. Tradisi kirab rupang Buddha yang dipadukan dengan kesenian Gandrung tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat di Bumi Blambangan. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Penari Gandrung Banyuwangi #Waisak 2570 BE Banyuwangi #Kirab Rupang Buddha #Desa Yosomulyo Gambiran #Vihara Dhamma Mukti