RADARBANYUWANGI.ID – Upaya menekan serangan hama tikus di area persawahan terus dilakukan di Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Senin (25/5), petugas lintas instansi bersama kelompok tani memasang puluhan rumah burung hantu (rubuha) di sejumlah titik persawahan sebagai langkah pengendalian hama yang ramah lingkungan.
Pemasangan rubuha dipusatkan di area persawahan Desa Gambor dan akan diperluas ke beberapa desa lain yang selama ini rawan serangan tikus.
Program tersebut melibatkan unsur Pemerintah Kecamatan Singojuruh, TNI, Polri, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Singojuruh, serta para petani setempat.
Secara total, sebanyak 60 rumah burung hantu akan dipasang di enam desa di wilayah Kecamatan Singojuruh. Masing-masing desa mendapatkan alokasi 10 rubuha.
Enam desa yang menjadi lokasi pemasangan meliputi Desa Gambor, Alasmalang, Singojuruh, Cantuk, Benelan Kidul, dan Gumirih.
Koordinator BPP Singojuruh, Hanry Wiratmoko, mengatakan pemasangan rumah burung hantu dilakukan sebagai langkah antisipasi meningkatnya populasi tikus yang berpotensi merusak tanaman padi petani.
“Saat ini pemasangan dilakukan di Desa Gambor. Rencananya setiap desa yang mendapatkan jatah akan dipasangkan 10 rubuha,” ujarnya.
Menurut Hanry, penggunaan burung hantu sebagai predator alami tikus terbukti efektif membantu mengurangi serangan hama di area pertanian.
Satu ekor burung hantu bahkan mampu memangsa sekitar 10 hingga 20 ekor tikus dalam satu malam.
Karena itu, metode pengendalian hayati seperti ini dinilai lebih aman dan berkelanjutan dibanding penggunaan racun tikus berbahan kimia.
“Untuk melawan hama tikus, burung hantu sangat efektif. Cara ini juga ramah lingkungan,” katanya.
Ia menjelaskan, pemasangan rubuha dilakukan di lokasi strategis agar mudah dihuni burung hantu, terutama di tengah area persawahan dan dekat pepohonan besar.
Lokasi tersebut dianggap ideal karena memudahkan burung hantu memantau dan berburu mangsa pada malam hari.
Selain untuk mengurangi populasi tikus, program ini juga menjadi bagian dari edukasi kepada petani tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Pemerintah berharap metode pengendalian alami dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida maupun racun tikus yang berpotensi merusak lingkungan.
Camat Singojuruh, Iwan Yos Sugiarto, mengatakan pemasangan rubuha merupakan bentuk dukungan pemerintah kecamatan terhadap petani dalam menjaga produktivitas pertanian.
“Kegiatan ini dikoordinasikan langsung oleh BPP Singojuruh,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan rumah burung hantu mampu membantu petani mengurangi ancaman gagal panen akibat serangan tikus yang selama ini menjadi salah satu persoalan utama di sektor pertanian.
Dengan kolaborasi lintas instansi dan kelompok tani, pengendalian hama secara alami diharapkan dapat berjalan efektif sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pertanian di Banyuwangi. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin