RADARBANYUWANGI.ID – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) mulai menguji kekuatan jembatan kereta api baru di Banyuwangi. Dua lokomotif dengan total bobot lebih dari 180 ton diterjunkan untuk mengetes ketahanan struktur Jembatan BH 275 di jalur antara Stasiun Temuguruh dan Singojuruh.
Pengujian dilakukan sebagai tahapan penting sebelum jembatan anyar tersebut diserahterimakan kepada operator kereta api. Jembatan BH 275 sendiri merupakan pengganti jembatan lama peninggalan Staatsspoorwegen (SS) era kolonial Belanda yang telah berusia lebih dari satu abad.
Kemarin, tim dari DJKA melalui Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya bersama Balai Pengujian Perkeretaapian melakukan uji fungsi dan uji beban secara langsung di lokasi.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengembangan Perkeretaapian Jatim 2 BTP Kelas I Surabaya, Lurianto Lukito, mengatakan pengujian kali ini menggunakan lokomotif CC300 buatan PT INKA milik Balai Perawatan sebagai alat utama pengujian.
“Pada uji fungsi kali ini, tim menguji tingkat kelendutan sekaligus kekuatan struktur jembatan secara maksimal menggunakan dua lokomotif dengan total bobot lebih dari 180 ton,” ujarnya saat dikonfirmasi di lokasi pengujian.
Menurut Lurianto, uji beban menjadi parameter utama untuk memastikan struktur jembatan benar-benar aman dan layak digunakan dalam operasional kereta api jangka panjang.
Terlebih, Jembatan BH 275 kini menggunakan konstruksi baru berupa rangka baja kurung dan fondasi modern yang dibangun ulang menggantikan struktur lama peninggalan kolonial.
“Uji fungsi ini menjadi tahapan pengujian berkala yang akan terus kami monitor secara rutin untuk memastikan struktur baru jembatan tetap kuat sebelum diserahterimakan ke operator,” katanya.
Hasil sementara pengujian menunjukkan performa struktur jembatan dalam kondisi sangat baik. Tidak ditemukan indikasi penurunan kekuatan ataupun gangguan struktur saat menerima beban berat dari lokomotif.
“Dari uji fungsi BH 275 ini terlihat struktur baru berupa rangka baja kurung tetap prima hingga lebih dari 60 tahun mendatang,” tegasnya.
Selain lebih modern, pembangunan jembatan baru ini juga menggunakan teknologi fondasi berbeda dibanding konstruksi lama era Belanda. Jika sebelumnya fondasi memakai pasangan batu khas bangunan kolonial, kini konstruksi diperkuat dengan metode bore pile.
Metode tersebut dilakukan dengan pengeboran tanah sedalam 25 hingga 27 meter untuk memasang fondasi tiang penyangga utama.
“Fondasi tiang dipasang dengan mengebor tanah sedalam 25 sampai 27 meter,” jelasnya.
Dengan sistem konstruksi baru tersebut, kekuatan Jembatan BH 275 diproyeksikan mampu bertahan hingga 100 tahun ke depan. Modernisasi ini juga menjadi bagian dari upaya peningkatan keselamatan dan keandalan infrastruktur perkeretaapian nasional, khususnya di lintas selatan Jawa Timur menuju Banyuwangi.
Penggantian jembatan tua peninggalan kolonial ini diharapkan mampu mendukung operasional kereta api yang lebih aman, stabil, dan mampu menopang beban perjalanan kereta modern dengan intensitas yang semakin tinggi. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin