RADARBANYUWANGI.ID – Pengurus Cabang Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Banyuwangi menggelar rukyatul hilal penentuan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Pantai Pancur, kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Minggu (17/5). Meski hilal gagal terlihat akibat cuaca dan uap air laut yang menutupi cakrawala, hasil hisab menunjukkan posisi bulan telah memenuhi syarat imkanur rukyat.
Tim rukyatul hilal yang terdiri dari LFNU Banyuwangi bersama Tim Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kantor Kementerian Agama Banyuwangi melakukan pengamatan sejak sore hingga matahari terbenam. Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Polresta Banyuwangi, Pemkab Banyuwangi, organisasi masyarakat Islam, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar.
Ketua LFNU PCNU Banyuwangi Ghufron Mustofa menjelaskan, berdasarkan metode hisab Addurul Anieq, posisi hilal toposentris berada di atas empat derajat dengan elongasi mendekati 10 derajat. Kondisi tersebut dinilai telah memenuhi batas minimal keterlihatan hilal.
“Dari hasil hisab semua hampir sama, rata-rata di atas 4 derajat hilalnya. Bahkan semakin ke barat akan semakin tinggi, bisa sampai lima derajat. Ini menjadi bukti kuat kemungkinan tanggal 1 Dzulhijjah jatuh besok, namun kepastiannya tetap menunggu hasil sidang isbat,” ujarnya.
Menurut Ghufron, secara teoritis hilal seharusnya dapat terlihat dari titik rukyat Pantai Pancur. Namun kondisi atmosfer di kawasan pesisir selatan Banyuwangi menjadi kendala utama.
“Biasanya dari sini Pulau Merah bisa terlihat jelas. Tapi saat rukyat tadi pandangan tertutup uap air laut sehingga hilal tidak tampak,” katanya.
Pantai Pancur selama ini menjadi salah satu lokasi favorit rukyatul hilal di Banyuwangi karena memiliki cakrawala laut selatan yang relatif terbuka tanpa banyak penghalang visual saat matahari terbenam. Selain Pantai Pancur, Banyuwangi sebenarnya memiliki satu titik rukyat lain di kawasan Gumuk Klasi.
“Sebenarnya ada dua lokasi rukyat di Banyuwangi, satunya di Gumuk Klasi. Tetapi akses menuju Pantai Pancur lebih mudah sehingga kegiatan lebih sering dipusatkan di sini,” jelasnya.
Suasana rukyatul hilal di Pantai Pancur juga berlangsung ramai. Sejumlah unsur pemerintahan, aparat keamanan, hingga organisasi masyarakat Islam hadir mengikuti proses pemantauan hilal.
Anggota PCNU Banyuwangi Agus Baihaqi menyampaikan, antusiasme peserta cukup tinggi meski kondisi cuaca kurang mendukung pengamatan.
“Yang hadir dari Pemkab, Polresta, Kemenag, PCNU, LDII, Muslimat NU, Fatayat NU, mahasiswa, dan masyarakat sekitar. Tetapi hilal tidak terlihat karena tertutup mendung,” ungkapnya.
Hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah di Indonesia selanjutnya menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat pemerintah untuk menentukan awal Dzulhijjah 1447 Hijriah. Penetapan tersebut sekaligus menentukan jadwal Hari Raya Idul Adha dan puasa Arafah bagi umat Islam di Indonesia.
Pantai Pancur sendiri dikenal sebagai salah satu titik observasi hilal strategis di ujung timur Pulau Jawa. Lokasinya yang menghadap langsung ke Samudra Hindia membuat area tersebut kerap dipilih untuk pemantauan astronomi, terutama saat penentuan awal bulan hijriah.
Selain faktor posisi hilal, keberhasilan rukyat juga sangat dipengaruhi kondisi atmosfer, ketebalan awan, kelembapan udara, hingga tingkat penguapan air laut. Karena itu, meski secara hisab posisi hilal memenuhi kriteria, pengamatan visual tetap tidak selalu berhasil dilakukan. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin