RADARBANYUWANGI.ID – Banyuwangi mulai menyiapkan langkah besar menjadikan budaya lokal sebagai kekuatan ekonomi kreatif dan pengaruh global. Akademisi, budayawan, pegiat media sosial, komunitas adat, hingga anak muda lintas sektor berkumpul di Kantor Bappeda Banyuwangi, Senin (12/5), untuk merumuskan konsep “Hallyu Banyuwangi”.
Diskusi bertema “Menyiapkan Hallyu Banyuwangi: Dari Festival ke Industri, dari Identitas Lokal ke Pengaruh Global” itu menjadi ruang urun rembuk membangun ekosistem budaya yang tidak sekadar berhenti pada festival seremonial, tetapi mampu menjadi mesin ekonomi daerah berbasis identitas lokal.
Istilah “Hallyu Banyuwangi” bukan dimaksudkan meniru South Korea secara mentah. Konsep tersebut justru diarahkan agar budaya lokal Banyuwangi mampu berkembang menjadi kekuatan kreatif modern tanpa kehilangan akar tradisi.
Diskusi dipandu Dewan Pengarah Dewan Kesenian Blambangan sekaligus Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi. Sementara narasumber utama adalah Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Agus Trihartono.
Dalam paparannya, Prof Agus menjelaskan bahwa fenomena hallyu atau Korean Wave bukan sekadar soal musik K-pop maupun drama Korea. Menurutnya, keberhasilan Korea Selatan membangun pengaruh budaya dunia lahir dari strategi nasional yang ditopang ekosistem ekonomi kreatif yang kuat.
“Masyarakat dunia mengenal Korea Selatan bukan karena luas wilayah atau kekuatan militernya, tetapi karena budaya, kreativitas, teknologi, dan narasi global yang dibangun secara sistematis,” ujarnya.
Ia menyebut, budaya di Korea Selatan dikelola sebagai industri nasional. Pemerintah setempat membangun pendidikan kreatif, investasi budaya, dukungan teknologi digital, hingga pemanfaatan platform global seperti YouTube, TikTok, dan Netflix.
“Hallyu menjadi mesin ekonomi. Bahkan dalam momentum tertentu, dampak ekonomi industri kreatif Korea Selatan sangat luar biasa besar,” katanya.
Menurut Agus, Banyuwangi sebenarnya telah memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk membangun ekosistem serupa. Mulai budaya Osing, tari gandrung, kopi Ijen, ritual adat, kuliner, hingga kekayaan alam dan sejarah lokal dinilai memiliki daya tarik global.
“Tidak semua daerah memiliki kekayaan budaya seperti Banyuwangi,” tegasnya.
Ia menilai Banyuwangi tidak memulai dari nol. Selama lebih dari satu dekade terakhir, daerah berjuluk The Sunrise of Java itu sudah membangun fondasi melalui festival budaya, city branding, digitalisasi layanan publik, serta pengembangan pariwisata.
Namun, ia mengingatkan festival semata tidak cukup jika tidak terhubung dengan ekosistem ekonomi kreatif jangka panjang.
“Festival tanpa ekosistem hanya menjadi keramaian sementara. Pertanyaannya, apakah festival itu terhubung dengan UMKM, melahirkan kreator baru, menghasilkan konten digital, dan masuk platform global?” ujarnya.
Prof Agus menyebut formula “Hallyu Banyuwangi” harus bertumpu pada tiga kekuatan utama, yakni teknologi digital, kreator Gen Z, dan identitas budaya lokal yang kuat.
Konsep tersebut meliputi pengembangan kreator budaya digital, promosi global berbasis media sosial, penguatan festival modern, hingga pariwisata sinematik berbasis budaya lokal Banyuwangi.
Dalam forum tersebut, sejumlah peserta juga mengingatkan agar budaya tidak semata dijadikan komoditas ekonomi yang justru menghilangkan akar identitas masyarakat lokal.
Menanggapi hal itu, Samsudin Adlawi menegaskan kekuatan utama Banyuwangi justru terletak pada budaya asli yang masih hidup di tengah masyarakat.
“Semakin Banyuwangi menjadi dirinya sendiri, maka semakin kuat daya pikatnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo Wicaksono mengatakan seluruh masukan dalam diskusi tersebut akan menjadi bahan penyusunan langkah strategis ke depan.
“Kami sudah menginventarisasi ide, masukan, dan gagasan peserta diskusi. Selanjutnya akan dilanjutkan dengan penyusunan rencana aksi,” katanya.
Diskusi tersebut menjadi sinyal bahwa Banyuwangi mulai bergerak membangun budaya bukan hanya sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai kekuatan masa depan yang mampu menggerakkan ekonomi, pariwisata, dan diplomasi budaya daerah di tingkat global. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin