Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Produser Senior JTV Banyuwangi Agus Takariyanto Meninggal Dunia, Sosok Low Profil dan Pengayom Junior

M Ksatria Raya • Rabu, 13 Mei 2026 | 07:45 WIB
DIDOAKAN: Jenazah Agusta disalatkan di Masjid Al Mutaqqin, Perumahan Klatak, Kalipuro. Kolega dan teman-temannya ikut mengantar kepergian almarhum ke TPU setempat, Selasa (12/5) pukul 15.00. (Ksatriya Raya/Radar Banyuwangi)
DIDOAKAN: Jenazah Agusta disalatkan di Masjid Al Mutaqqin, Perumahan Klatak, Kalipuro. Kolega dan teman-temannya ikut mengantar kepergian almarhum ke TPU setempat, Selasa (12/5) pukul 15.00. (Ksatriya Raya/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Dunia jurnalistik dan seni budaya Banyuwangi berduka. Produser senior JTV Banyuwangi, Agus Takariyanto, meninggal dunia pada Senin (12/5) pukul 10.00 WIB di RSUD Blambangan. Almarhum tutup usia pada umur 61 tahun setelah diduga mengalami kelelahan akibat aktivitas kerja yang padat beberapa hari terakhir.

Kepergian sosok yang akrab disapa Agusta itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, hingga kalangan budayawan Banyuwangi. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai pribadi sederhana, pekerja keras, dan selalu mengayomi para junior di lingkungan kerja.

Kabar duka pertama kali menyebar melalui pesan yang disampaikan Pemimpin Redaksi JTV Banyuwangi Samsul Arifin ke sejumlah grup WhatsApp.

“Innalillahi wainnailaihi roji’un. Pak Agusta baru saja meninggal dunia di RSUD Blambangan,” tulisnya.

Meninggalnya Agusta mengejutkan banyak pihak. Sebab, beberapa hari sebelumnya ia masih aktif menjalankan tugas peliputan dan produksi siaran langsung bersama tim JTV Banyuwangi.

Direktur JTV Banyuwangi Mema Saskia mengungkapkan, almarhum diduga mengalami kelelahan setelah menjalani aktivitas padat sejak akhir pekan lalu.

“Sabtu dari pagi sampai sore beliau liputan live streaming Muskercab PCNU Banyuwangi di Purwoharjo. Malamnya lanjut ke Tegaldlimo menyiapkan siaran langsung wayang kulit,” ujarnya saat melayat ke rumah duka.

Di mata rekan-rekannya, Agusta bukan hanya sosok senior di dunia televisi, tetapi juga figur yang hangat dan penuh perhatian kepada juniornya.

“Beliau itu senior yang baik sekali, bisa mengayomi junior-juniornya seperti saya,” kata Mema dengan mata berkaca-kaca.

Ia mengenang Agusta sebagai pribadi yang tidak pernah menyakiti orang lain. Bahkan dalam keseharian, almarhum dikenal humoris dan selalu mencairkan suasana.

“Setiap bertemu selalu guyon dan nggak pernah marah,” tuturnya.

Agusta merupakan salah satu figur penting di balik perjalanan JTV Banyuwangi sejak awal berdiri pada 2008. Saat itu, lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta tersebut dipercaya memimpin biro dan terus mengabdi hingga memasuki masa pensiun pada 2017.

Meski telah purnatugas, dedikasinya terhadap dunia penyiaran tidak berhenti. Ia tetap aktif sebagai executive producer JTV Banyuwangi hingga akhir hayatnya.

Karier Agusta di dunia televisi dimulai dari TPI di Jakarta sebelum kemudian bergabung dengan JTV Surabaya. Pada 2008, ia ikut merintis dan membesarkan JTV Banyuwangi.

Tak hanya dikenal di dunia jurnalistik, Agusta juga aktif di bidang seni dan budaya Banyuwangi. Ia tercatat sebagai bagian dari Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dan terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan.

Salah satunya menjadi juri dalam ajang Liga Puisi 2025 yang digelar Radar Banyuwangi. Pengetahuannya tentang seni membuat dirinya dihormati banyak kalangan.

“Pak Agusta itu lulusan institut seni, beliau sangat paham dunia seni. Kami merasa kehilangan. Beliau guru yang baik bagi teman-teman di JTV,” ujar reporter JTV Banyuwangi, Handoko.

Di lingkungan tempat tinggalnya di Perumahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Agusta juga dikenal ramah dan dekat dengan warga sekitar.

Tetangganya, Hamzah, mengatakan sebelum meninggal almarhum masih sempat menjalankan salat subuh berjamaah di Masjid Al Muttaqin dekat rumahnya.

“Paginya sempat mengeluh kedinginan lalu dibawa ke RSUD Blambangan. Sekitar pukul 10.00 kami mendapat kabar beliau meninggal,” ujarnya.

Agusta meninggalkan seorang istri bernama Kanti Rahayu serta dua anak, Gibran dan Rara. Anak perempuannya diketahui bekerja sebagai pengajar tari di Brindo International School milik Yassin Soepardi.

Ucapan belasungkawa juga mengalir dari rekan-rekan di Dewan Kesenian Blambangan. Ketua DKB Hasan Basri menyebut Agusta sebagai sosok low profile yang sangat dihormati.

“Pak Agusta orang baik. Beliau dikenal low profil dan kami semua merasa kehilangan,” katanya.

Jenazah almarhum dimakamkan di TPU Kelurahan Klatak yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah duka. Sejumlah jurnalis, budayawan, sahabat, hingga kolega turut mengantar kepergian sosok yang dikenal sederhana dan penuh dedikasi tersebut.

Kepergian Agusta menjadi kehilangan besar bagi dunia media dan seni budaya Banyuwangi. Sosoknya dikenang bukan hanya karena pengabdian panjang di dunia televisi, tetapi juga karena ketulusan dan kerendahan hatinya dalam membimbing banyak orang. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Agus Takariyanto meninggal #produser JTV Banyuwangi #kabar duka JTV Banyuwangi #budayawan Banyuwangi #Dewan Kesenian Blambangan.