RADARBANYUWANGI.ID – Tradisi bersih desa di Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, kembali digelar meriah tahun ini. Di tengah efisiensi anggaran yang dilakukan banyak daerah, Pemerintah Desa (Pemdes) Wringinrejo tetap mempertahankan ritual tahunan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri desa sekaligus upaya menjaga warisan budaya dan spiritual masyarakat.
Rangkaian kegiatan bersih desa berlangsung selama empat hari, mulai Rabu (6/5) hingga Sabtu (9/5). Beragam agenda religius dan budaya digelar, mulai khotmil Qur’an, selawat bersama, ziarah makam pendiri desa, hingga pagelaran wayang kulit sehari semalam yang menjadi puncak acara.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi simbol rasa syukur masyarakat, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan warga lintas generasi di Desa Wringinrejo.
Kepala Desa Wringinrejo Muadim mengatakan, kegiatan bersih desa diawali dengan pembacaan selawat dan khotmil Qur’an yang dilakukan para perangkat desa serta kader PKK.
Menurut dia, tahun ini Pemdes Wringinrejo menggelar dua kali khataman Al-Qur’an sebagai bagian dari rangkaian doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan desa.
“Yang pertama oleh kader PKK, kemudian sehari setelahnya perangkat desa. Kegiatan ini rutin setiap tahun,” ujarnya.
Muadim menegaskan, tradisi bersih desa tetap dipertahankan karena memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat bagi masyarakat Wringinrejo. Salah satu alasan utamanya adalah penghormatan kepada pendiri desa yang berjasa membuka kawasan tersebut hingga berkembang menjadi permukiman seperti sekarang.
Pendiri Desa Wringinrejo diketahui bernama Mbah Mohammad Ikrom, sosok yang diyakini memiliki peran besar dalam babat alas dan pembangunan awal desa.
“Pendiri desa ini adalah Mbah Mohammad Ikrom. Kami tentu tidak bisa melupakan jasa beliau dalam babat alas sampai membangun desa kami ini,” katanya.
Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, perangkat desa dan masyarakat juga menggelar ziarah makam pendiri desa. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian bersih desa yang terus dijaga turun-temurun.
Muadim berharap, kegiatan ziarah dan doa bersama dapat menjadi pengingat perjuangan para pendahulu sekaligus menumbuhkan semangat pengabdian dalam melayani masyarakat.
“Harapannya ini jadi penyemangat dalam melayani masyarakat dengan tulus. Kemudian bagi seluruh masyarakat desa, lewat bersih desa dan doa bersama ini semoga selalu dilimpahi kesejahteraan,” ucapnya.
Puncak kegiatan bersih desa ditandai dengan pagelaran wayang kulit sehari semalam yang digelar hingga Minggu dini hari. Ratusan warga, baik dari Desa Wringinrejo maupun luar desa, tampak memadati lokasi pertunjukan untuk menyaksikan hiburan tradisional tersebut.
Bagi masyarakat setempat, wayang kulit bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan bagian sakral dari tradisi bersih desa yang tidak bisa dipisahkan.
“Wayangan ini jadi pemungkas, ketika tidak ada wayangan tidak sah disebut bersih desa,” tegas Muadim.
Menurut dia, tradisi pagelaran wayang sehari semalam sudah berlangsung sejak masa kepala desa pertama, M. Talban, pada 1914 silam. Sejak saat itu, pertunjukan wayang selalu menjadi penutup resmi setiap ritual bersih desa di Wringinrejo.
“Dari kades pertama sudah ada wayangan dan selalu digelar sehari semalam,” pungkasnya.
Keberlangsungan tradisi bersih desa di Wringinrejo menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Tradisi tersebut juga menjadi bukti bahwa nilai religius, sejarah, dan budaya masih hidup serta terus diwariskan kepada generasi muda Banyuwangi. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin