Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dusun Balian Banyuwangi Jadi Magnet Seni-Budaya dan Ekraf, Kampung Toleransi dengan Potensi Ekonomi Mendunia

Sigit Hariyadi • Senin, 11 Mei 2026 | 03:00 WIB
TOLERANSI: Bupati Ipuk Fiestiandani saat mengunjungi Dusun Patoman Tengah, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari dalam rangkaian Bunga Desa pada Kamis lalu (7/5). (Dini for Radar Banyuwangi)
TOLERANSI: Bupati Ipuk Fiestiandani saat mengunjungi Dusun Patoman Tengah, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari dalam rangkaian Bunga Desa pada Kamis lalu (7/5). (Dini for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Dusun Patoman Tengah, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, tak hanya dikenal sebagai kampung toleransi antarumat beragama. Dusun yang akrab disebut Dusun Balian itu kini berkembang menjadi pusat seni-budaya dan ekonomi kreatif (ekraf) dengan potensi ekonomi yang terus tumbuh hingga menembus pasar luar negeri.

Nuansa khas Bali begitu terasa saat memasuki Dusun Patoman Tengah. Deretan rumah warga dengan arsitektur menyerupai hunian tradisional Bali berpadu dengan keberadaan pura yang berdiri megah di tengah perkampungan. Atmosfer budaya Pulau Dewata semakin kuat karena kehidupan sosial masyarakatnya yang masih kental menjaga tradisi dan nilai gotong royong.

Di balik identitas budaya tersebut, Dusun Balian menyimpan kekuatan sosial yang menjadi perhatian banyak pihak. Warga dengan latar belakang agama berbeda hidup berdampingan secara harmonis dan saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan. Kondisi itu membuat dusun tersebut dikenal luas sebagai Kampung Pancasila di wilayah selatan Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani sempat mengunjungi Dusun Patoman Tengah dalam agenda Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) pada Kamis (7/5) lalu. Dalam kunjungan itu, Ipuk melihat langsung kehidupan masyarakat yang dinilai berhasil menjaga harmoni sosial sekaligus mengembangkan potensi ekonomi berbasis budaya lokal.

Kepala Dusun Patoman Tengah I Gede Yuda Permana mengatakan, kehidupan toleransi di wilayahnya telah terbangun sejak lama dan menjadi budaya sehari-hari masyarakat. Menurut dia, tidak pernah terjadi persoalan serius terkait perbedaan keyakinan di lingkungan warga.

“Kalau umat Hindu ada kegiatan, umat lain ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, jadi saling mengisi,” ujarnya saat mendampingi kunjungan Bupati Ipuk Fiestiandani.

Tidak hanya menjadi simbol toleransi, Dusun Balian juga berkembang sebagai pusat aktivitas seni dan budaya masyarakat. Keberadaan Pura Desa menjadi ruang penting bagi warga untuk menjaga tradisi lokal sekaligus membangun kreativitas generasi muda.

Di lokasi tersebut, anak-anak hingga remaja rutin mengikuti kegiatan belajar agama, tari tradisional, tabuh gamelan, hingga berbagai kesenian daerah lainnya. Aktivitas budaya itu terus dijaga agar identitas lokal tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Bagi masyarakat setempat, ruang budaya memiliki peran penting sebagai wadah pembentukan karakter generasi muda sekaligus sarana pelestarian tradisi leluhur Banyuwangi dan Bali yang hidup berdampingan di kawasan tersebut.

Potensi lain yang berkembang pesat di Dusun Balian berasal dari sektor ekonomi kreatif. Salah satu pelaku UMKM yang cukup dikenal adalah Kayan Suartana, perajin seni ukir kayu dan pasir yang telah menekuni usaha kreatif sejak tahun 2000.

Kayan memulai usahanya sambil aktif sebagai seniman tari dan musik tradisional. Dedikasinya melestarikan budaya melalui karya seni membuat dirinya menerima penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada 2015 silam.

Kini, usaha yang dirintisnya berkembang dengan memproduksi berbagai kerajinan berbahan kayu dan pasir pantai. Produk yang dihasilkan mulai ornamen rumah, dekorasi artistik, hingga patung seni dengan sentuhan budaya Bali dan Banyuwangi.

Hasil kerajinan tersebut tidak hanya dipasarkan di Banyuwangi, tetapi juga telah menembus sejumlah daerah lain seperti Bali, Nganjuk, hingga Jawa Tengah. Permintaan pasar terhadap produk kerajinan bernuansa etnik disebut terus meningkat, terutama untuk kebutuhan dekorasi rumah dan tempat usaha.

Selain sektor seni dan UMKM, masyarakat Dusun Patoman Tengah juga mulai mengembangkan sektor pertanian bernilai ekonomi tinggi melalui budidaya cabai jawa atau cabai puyang.

Salah satu petani, Made Ardana, mengembangkan tanaman tersebut di lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi dengan jumlah tanaman mencapai sekitar seribu pohon.

Menurut Made, cabai puyang memiliki keunggulan karena perawatannya lebih mudah dibanding cabai biasa. Setelah panen, hasil produksi cukup direbus lalu dijemur selama sekitar tiga hari sebelum dipasarkan.

“Perawatannya lebih simpel dibanding cabai biasa. Setelah dipanen tinggal direbus lalu dijemur sekitar tiga hari,” katanya.

Made menjelaskan, satu kilogram cabai jawa basah dapat menghasilkan sekitar tiga ons setelah melalui proses pengeringan. Komoditas tersebut memiliki nilai jual cukup tinggi, yakni mencapai Rp 85 ribu per kilogram untuk produk kering.

Permintaan pasar terhadap cabai puyang juga terus meningkat. Bahkan hasil panen warga disebut telah dipasarkan hingga luar negeri seperti Jepang dan China untuk memenuhi kebutuhan industri kosmetik dan bahan herbal.

Perkembangan sektor seni-budaya, UMKM kreatif, hingga pertanian bernilai ekspor menjadikan Dusun Balian sebagai salah satu wajah baru desa kreatif di Banyuwangi. Di tengah keberagaman masyarakatnya, dusun tersebut berhasil menunjukkan bahwa toleransi sosial dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi berbasis budaya lokal. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Dusun Balian #kampung toleransi #ekonomi kreatif #Desa Patoman #banyuwangi