Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tukang Cukur Difabel di Banyuwangi Ini Bertahan Sejak 1980-an, Dibayar Seikhlasnya dan Tak Kenal Mohawk

M Ksatria Raya • Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30 WIB
TRADISIONAL: Suhainik memotong rambut pelanggan di tempat mangkalnya Lingkungan Gapangan, Kelurahan Mojopanggung, dekat Hotel Aston. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
TRADISIONAL: Suhainik memotong rambut pelanggan di tempat mangkalnya Lingkungan Gapangan, Kelurahan Mojopanggung, dekat Hotel Aston. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah menjamurnya barbershop modern dengan gaya rambut kekinian dan tarif mahal, Suhainik tetap bertahan dengan cara sederhana. Pria difabel berusia 65 tahun itu masih setia memangkas rambut pelanggan di lapak kecil pinggir jalan di Lingkungan Gapangan, Kelurahan Mojopanggung, Banyuwangi.

Tak ada pendingin ruangan, sofa empuk, atau poster model rambut modern di tempatnya. Hanya bangku kayu sederhana, cermin kusam, gunting, dan mesin cukur listrik yang menemani aktivitas sehari-hari pria yang akrab disapa Hilik tersebut.

Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang tukang cukur tradisional yang tetap bertahan meski usia tak lagi muda dan kondisi fisiknya terbatas.

Kaki kanan Hilik tidak berfungsi normal. Setiap hari, ia berjalan dengan bantuan tongkat besi yang selalu bersandar di dekat kursi cukurnya. Meski begitu, keterbatasan tersebut tak membuatnya berhenti bekerja.

Tangannya tetap cekatan memegang clipper dan gunting saat melayani pelanggan yang datang silih berganti.

Lapak cukur sederhana miliknya berada sekitar 140 meter dari Hotel Aston Banyuwangi. Tempat tersebut berdiri di pinggir jalan raya dan nyaris tak berubah sejak pertama kali ditempati.

Di tengah tren barbershop modern yang menawarkan gaya rambut mohawk, french crop, hingga buzz cut, Hilik justru mengaku tak memahami istilah-istilah model rambut kekinian tersebut.

“Saya nggak tahu istilah cukuran sekarang. Kalau ada orang cukur biasanya request mau cukur rapi, panjang dua sentimeter saja atau minta botak yang biasa diminta orang tua-tua,” ujarnya sembari tertawa.

Sebagian besar pelanggan Hilik memang berasal dari kalangan orang tua yang telah menjadi pelanggan tetap selama bertahun-tahun.

Hilik mengisahkan, dirinya mulai menjadi tukang cukur sejak era 1980-an setelah berhenti bekerja sebagai sopir tangki solar yang kala itu menggunakan truk Mercy “nonong”.

“Setelah berhenti jadi sopir tangki solar, saya buka pangkas rambut di trotoar. Dulu cuma pakai gunting kodok. Baru sekitar tahun 2010-an saya menetap di sini,” katanya.

Kemampuan mencukur rambut diperoleh secara otodidak. Saat masih bekerja sebagai sopir tangki, dia sering memangkas rambut rekan-rekannya.

Dari kebiasaan tersebut, Hilik akhirnya mantap menjadikan profesi tukang cukur sebagai pekerjaan utama hingga sekarang.

Keterbatasan fisik yang dialaminya bermula sejak kecil. Saat berusia sekitar lima tahun, Hilik jatuh dari pohon setinggi sekitar tiga meter hingga menyebabkan kaki kanannya tidak dapat berfungsi normal.

“Saya punya keterbatasan di kaki yang membuat saya memakai tongkat untuk kegiatan, tetapi bukan jadi penghalang saya,” ujarnya sambil memegang tongkat besinya.

Pada 2020, lapak cukur miliknya sempat direnovasi oleh Baznas. Sebelumnya, tempat tersebut hanya berupa pondok sederhana di pinggir jalan.

Meski tempatnya kini lebih layak, peralatan yang digunakan Hilik tetap sederhana. Dia hanya mengandalkan mesin cukur listrik dan gunting untuk melayani pelanggan.

Dalam sehari, Hilik biasanya melayani sekitar dua hingga lima pelanggan. Bahkan terkadang tidak ada pelanggan sama sekali.

Meski begitu, dia mengaku tidak pernah mematok tarif cukur secara pasti. Pelanggan bebas membayar sesuai kemampuan.

“Kalau soal harga, saya tidak pernah mematok. Seikhlasnya saja. Tapi kalau ditanya berapa, biasanya saya menjawab Rp 15 ribu,” katanya.

Tak hanya melayani pelanggan di lapak kecilnya, Hilik juga kerap menerima panggilan mencukur ke rumah pelanggan yang sakit dan tidak bisa keluar rumah.

Biasanya, pelanggan tersebut merupakan penderita stroke atau orang yang baru sembuh dari sakit parah.

“Sering dipanggil ke rumah. Biasanya orang sakit yang enggak bisa keluar rumah untuk cukur, seperti penderita stroke ataupun habis sakit parah,” tambahnya.

Untuk menambah penghasilan, Hilik juga menjual bensin eceran dan tembakau rokok di depan tempat cukurnya.

Dari hasil mencukur rambut, dia rata-rata memperoleh Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari. Jika ditambah hasil penjualan bensin dan tembakau, penghasilannya bisa mencapai Rp 100 ribu sehari.

“Sehari biasanya dapat Rp 30 ribu. Alhamdulillah kalau bensin sama tembakau laris bisa sampai Rp 100 ribuan,” ungkapnya.

Di sela aktivitasnya sebagai tukang cukur, Hilik juga mengabdikan diri menjadi marbot musala di lingkungan tempat tinggalnya sejak awal tahun 2000-an.

Dia menjalankan tugas tersebut tanpa menerima bayaran.

“Saya kalau sudah memasuki waktu salat biasanya tutup sebentar untuk azan, ya buat tambahan cari pahala di akhirat,” ucapnya.

Tak hanya itu, Hilik juga merawat cucu laki-lakinya yang kini duduk di bangku kelas 4 SDN Mojopanggung. Sang cucu ditinggal ibunya bekerja di Taiwan.

Setiap pagi, Hilik mengantar cucunya ke sekolah sebelum kembali membuka lapak cukur sederhana miliknya.

“Yang penting sekarang bersyukur. Alhamdulillah penghasilan cukup untuk hidup dan memberi jajan cucu,” katanya.

Salah satu pelanggan setianya, No, warga Kelurahan Mojopanggung, mengaku sudah lama mencukur rambut di tempat Hilik.

Menurut dia, hasil cukuran Hilik sudah cocok dan sesuai dengan gaya rambut yang diinginkannya.

“Sudah cocok di sini. Saya juga tidak suka model yang neko-neko, cukup cepak saja,” ujarnya.

Di tengah derasnya perubahan gaya hidup dan menjamurnya barbershop modern, Hilik tetap bertahan dengan kesederhanaannya. Tanpa promosi media sosial, tanpa interior estetik, dan tanpa mengenal istilah buzz cut ataupun mohawk, pria lansia difabel itu masih setia mencari nafkah dari gunting dan clipper yang telah menemaninya selama puluhan tahun. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#tukang cukur Banyuwangi #Suhainik tukang cukur #tukang cukur difabel #pangkas rambut tradisional #tukang cukur Gapangan