RADARBANYUWANGI.ID - Kursi-kursi cukur di Banyuwangi kini tidak lagi sekadar tempat memangkas rambut. Perubahan gaya hidup masyarakat ikut mengubah wajah bisnis pangkas rambut. Tukang cukur tradisional yang dulu mudah ditemukan perlahan mulai tersisih, digantikan barbershop modern dengan konsep kekinian yang menyasar generasi milenial hingga Gen Z.
Fenomena tersebut tampak jelas di wilayah Kecamatan Banyuwangi. Dari penelusuran Jawa Pos Radar Banyuwangi, kini hanya tersisa segelintir tukang cukur tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran bisnis barbershop modern.
Menariknya, hampir seluruh tukang cukur tradisional yang masih eksis dijalankan pria berusia di atas 50 tahun. Mereka mengandalkan pelanggan lama yang tetap setia meski tren gaya rambut dan tempat cukur terus berubah.
Salah satunya Suhainik, 65, tukang cukur tradisional di lingkungan Gapangan, Kelurahan Mojopanggung. Lapak cukur sederhana miliknya berada tidak jauh dari Hotel Aston Banyuwangi.
Pria tersebut mengaku telah menekuni profesi tukang cukur sejak era 1980-an. Selama puluhan tahun, dia tetap mempertahankan konsep pangkas rambut sederhana dengan tarif murah.
“Saya dari dulu sudah jadi tukang cukur. Dulu tarifnya Rp 10 ribu di tahun 2010-an ke atas, sekarang naik jadi Rp 15 ribu sejak 2022. Tapi saya tidak pernah mematok harga pasti, seikhlasnya saja,” ujarnya.
Berbeda dengan barbershop modern yang menawarkan berbagai model rambut kekinian, Suhainik mengaku tidak terlalu mengikuti tren potongan rambut.
Menurut dia, sebagian besar pelanggan hanya meminta model rambut sederhana seperti rapi, cepak, atau botak.
“Biasanya orang yang mau cukur cuma bilang mau rapi, cepak, atau botak,” katanya.
Mayoritas pelanggan Suhainik merupakan kalangan orang tua yang telah menjadi pelanggan tetap selama bertahun-tahun.
“Rata-rata yang cukur di sini adalah orang tua yang sudah jadi langganan dari dulu,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan Andi, tukang cukur tradisional di depan Kantor BMKG Banyuwangi. Dia mengaku profesi tersebut diteruskan dari ayahnya yang juga seorang tukang cukur.
“Saya nyukur karena ikut jejak ayah, yang merupakan tukang cukur,” ungkapnya.
Tarif cukur di tempat Andi kini Rp 20 ribu, naik dibanding tahun sebelumnya yang masih Rp 15 ribu.
Meski masih memiliki pelanggan setia, keberadaan tukang cukur tradisional kini semakin terdesak oleh menjamurnya barbershop modern di Banyuwangi.
Dengan konsep tempat nyaman, interior estetik, pendingin ruangan, hingga pelayanan tambahan seperti hair treatment dan coffee shop, barbershop modern menawarkan pengalaman berbeda dibanding pangkas rambut tradisional.
Tarif yang dipatok pun jauh lebih tinggi, mulai Rp 25 ribu hingga Rp 80 ribu sekali potong.
Salah satu yang berkembang pesat adalah Dkings Barbershop di Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Sobo.
Manajer Dkings Barbershop, Dinul Wikramaditya Syah mengatakan, konsep pelayanan menjadi nilai jual utama yang ditawarkan kepada pelanggan.
“Di Dkings Barbershop bukan sekadar cukur. Kami sediakan juga kafe untuk pelanggan yang menunggu sembari ngopi untuk kenyamanan mereka,” ujarnya.
Menurut Dinul, pelanggan saat ini tidak hanya mencari hasil potongan rambut yang rapi, tetapi juga pengalaman dan kenyamanan saat berada di barbershop.
Dkings menyediakan berbagai paket layanan, mulai cukur rambut anak hingga paket lengkap yang mencakup keramas, masker rambut, hingga serum.
Harga layanan dibanderol mulai Rp 55 ribu hingga Rp 80 ribuan.
“Rata-rata sehari 35 sampai 40 pelanggan yang cukur di sini. Kalau akhir pekan atau menjelang Lebaran serta tahun ajaran baru, bisa sampai 90 orang yang datang,” jelasnya.
Tak hanya mengandalkan jasa cukur, Dkings juga memperoleh pemasukan tambahan dari lini usaha kafe yang berada di dalam barbershop.
“Kalau untuk margin keuntungan sekitar 65 persen dari barbershop serta 35 persen dari kafe. Bahkan ada yang datang hanya untuk nongkrong karena tempatnya estetik,” katanya.
Fenomena serupa juga terlihat di Mr. John Barbershop di Kelurahan Taman Baru. Salah satu pegawainya, Fajar, 24, mengatakan tarif layanan di tempatnya dipatok Rp 20 ribu untuk anak-anak dan Rp 25 ribu untuk dewasa.
“Kalau bersaing di sini yaitu Rp 25 ribu untuk orang dewasa dengan berbagai layanan seperti keramas ataupun mewarnai rambut,” ujarnya.
Persaingan bisnis pangkas rambut di Banyuwangi juga tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi. Inflasi year on year (y-on-y) Maret 2026 salah satunya dipicu sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 1,39 persen terhadap inflasi umum.
Salah satu penyumbangnya adalah jasa cukur rambut yang kini berkembang semakin kompetitif.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan preferensi masyarakat. Jika dulu pangkas rambut identik dengan kursi sederhana dan tarif murah, kini sebagian masyarakat lebih memilih tempat cukur dengan fasilitas lengkap dan suasana nyaman.
Meski demikian, tukang cukur tradisional belum sepenuhnya kehilangan pelanggan.
Bagus Rizky, 24, mengaku memilih cukur di Dkings Barbershop karena faktor kenyamanan dan hasil potongan rambut yang sesuai keinginannya.
“Sudah langganan di sini serta cocok dengan cukurannya,” ujarnya.
Sementara itu, No, 70, tetap setia mencukur rambut di tempat Suhainik dekat Hotel Aston Banyuwangi.
“Sudah langganan dari dulu di Pak Suhainik. Saya selalu potong cepak di sini,” katanya.
Di tengah perubahan tren dan gaya hidup masyarakat, tukang cukur tradisional dan barbershop modern kini berjalan berdampingan. Satu bertahan dengan kesederhanaan dan loyalitas pelanggan lama, sementara lainnya tumbuh lewat inovasi, kenyamanan, dan pengalaman gaya hidup baru. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin