RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah menjamurnya barbershop modern dengan konsep kekinian dan tarif yang terus naik, tempat pangkas rambut sederhana milik Syarif Hidayatullah Mansuri tetap bertahan. Bahkan, usaha cukur rambut yang berada di dekat area kuburan itu masih ramai pelanggan setiap hari.
Tempat pangkas rambut bernama “Roy” tersebut berada di samping kuburan Bendo, sekitar 50 meter di sebelah barat Kantor Kelurahan Pengantigan, Banyuwangi. Meski lokasinya berada di gang sempit dan jauh dari kesan modern, pelanggan tetap datang silih berganti.
Tarif murah menjadi salah satu alasan utama warga tetap setia mencukur rambut di tempat tersebut. Saat banyak barbershop mematok tarif mulai Rp 25 ribu hingga puluhan ribu rupiah, Pangkas Rambut Roy masih memasang harga Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu.
Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin (9/5), tempat pangkas rambut berukuran sekitar 2x2 meter itu tampak dipenuhi pelanggan. Sedikitnya lima orang terlihat mengantre menunggu giliran dicukur.
Nuansa lawas masih sangat terasa di tempat tersebut. Poster model rambut jadul masih menempel di dinding. Di sudut ruangan juga tersedia koran Jawa Pos Radar Banyuwangi yang biasa dibaca pelanggan sambil menunggu antrean.
Syarif Hidayatullah Mansuri atau yang akrab disapa Roy mengatakan, usaha pangkas rambutnya mulai dibuka sejak tahun 2004. Saat pertama kali membuka usaha, tarif cukur rambut yang dipatok hanya Rp 3 ribu.
“Dulu awal buka tahun 2004 tarifnya masih Rp 3.000, kalau sekarang susah bisa dapat Rp 12.000 untuk orang dewasa,” ujarnya.
Roy mengaku kemampuan mencukur rambut diperoleh secara otodidak. Sebelum membuka usaha sendiri, dia kerap diminta teman dan tetangga untuk mencukur rambut secara pribadi.
Sebelum fokus menjadi tukang cukur, Roy juga sempat menjalani berbagai pekerjaan. Mulai menjadi kuli bangunan hingga bekerja di usaha katering.
“Dulu kalau tempat katering lagi sepi, saya sambil nyukur rambut. Lama-lama akhirnya fokus buka pangkas rambut,” ujar pria berusia 50 tahun itu.
Ayah dua anak tersebut mengatakan, lokasi usaha pangkas rambutnya saat ini bukan tempat pertama ketika membuka usaha pada 2004. Awalnya, tempat cukur rambut berada tidak jauh dari lokasi sekarang.
Namun karena terjadi sengketa lahan, dia akhirnya berpindah ke tempat yang kini digunakan hingga sekarang.
Meski hanya menempati ruangan kecil sederhana, pelanggan Roy tetap bertahan. Bahkan sebagian besar sudah menjadi pelanggan lama selama bertahun-tahun.
Untuk operasional, Roy membuka usaha mulai pukul 08.00 hingga 12.00. Setelah istirahat, pangkas rambut kembali buka pukul 13.30 sampai sekitar pukul 16.00.
Dia juga tidak memiliki jadwal libur tetap. Jika ada keperluan mendesak atau kondisi kesehatan kurang fit, tempat pangkas rambut akan tutup sementara.
“Kalau ada acara mendesak atau saya sakit ya ditutup pangkas rambutnya, jadi sesuka hati,” katanya sambil tersenyum.
Dalam sehari, Roy mengaku bisa melayani sekitar 20 pelanggan. Mayoritas pelanggan merupakan orang dewasa. Sementara pelanggan anak sekolah mulai berkurang dibanding beberapa tahun lalu.
Tarif yang dipasang pun tergolong sangat murah dibanding rata-rata tempat pangkas rambut lain di Banyuwangi.
“Untuk anak-anak hingga tingkat SMP dikenakan tarif Rp 10 ribu, sedangkan dewasa Rp 12 ribu. Kalau untuk semir rambut plus cukur dipatok Rp 20 ribu,” jelasnya.
Salah satu pelanggan setia Pangkas Rambut Roy, Kiyat, 66, warga Kelurahan Pengantigan, mengaku sudah menjadi pelanggan sejak tarif cukur masih Rp 3 ribu.
Menurut dia, selain murah, hasil cukuran Roy juga sudah cocok sehingga dirinya tetap bertahan menjadi pelanggan hingga sekarang.
“Sudah langganan di sini sejak harganya masih Rp 3.000. Biasanya kalau saya cukur sekalian semir rambut juga,” ujarnya.
Di tengah persaingan usaha barbershop modern yang semakin ketat, Pangkas Rambut Roy menjadi bukti bahwa pelayanan sederhana, harga terjangkau, dan kedekatan dengan pelanggan masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Banyuwangi. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin