RADARBANYUWANGI.ID – Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I PCNU Banyuwangi menorehkan sejarah baru dalam tata kelola organisasi Nahdlatul Ulama di Banyuwangi. Forum strategis yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah Purwoharjo, Sabtu (9/5), itu sukses melahirkan sejumlah keputusan penting sekaligus menjadi ajang konsolidasi besar pengurus NU dari berbagai tingkatan.
Tidak sekadar membahas program kerja, Muskercab kali ini tampil berbeda dengan penerapan konsep paperless atau tanpa kertas. Seluruh materi sidang, tata tertib, hingga bahan pembahasan komisi disiapkan secara digital dan dapat diakses peserta melalui perangkat masing-masing. Langkah tersebut menjadi simbol transformasi organisasi menuju tata kelola modern, efektif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Sekitar 300 peserta dari unsur PCNU, MWCNU, lembaga, dan badan otonom (banom) mengikuti rangkaian kegiatan sejak pagi hingga sore hari. Forum berlangsung khidmat namun penuh semangat kebersamaan. Para peserta aktif terlibat dalam sidang komisi yang membahas arah gerak organisasi di bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, hingga penguatan digitalisasi NU.
Ketua Panitia Muskercab Agus Baihaqi mengatakan, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan menghasilkan berbagai keputusan strategis yang segera dijalankan oleh masing-masing lembaga dan banom. Menurutnya, penerapan konsep paperless menjadi salah satu terobosan penting dalam pelaksanaan forum organisasi NU di Banyuwangi.
“Alhamdulillah seluruh rangkaian Muskercab berjalan lancar dan berhasil melahirkan keputusan-keputusan penting yang akan segera dijalankan oleh masing-masing lembaga,” ujarnya.
Selain membahas program kerja, Muskercab juga menghadirkan dua narasumber dari PWNU Jawa Timur yang memberikan wawasan tentang tata kelola organisasi modern serta rencana strategis (renstra) PBNU. Materi tersebut menjadi bekal penting bagi pengurus NU Banyuwangi dalam menghadapi tantangan organisasi di era digital.
Di sektor pendidikan, peserta Muskercab sepakat memperkuat peran Lembaga Pendidikan Ma’arif NU sebagai ujung tombak pengembangan pendidikan berbasis ke-NU-an. Sementara itu, Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNU) didorong memaksimalkan seluruh lini digital dan platform media guna memperluas syiar organisasi.
Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi Ahmad Turmudi menegaskan, Muskercab bukan hanya agenda formal pembuka masa kepengurusan. Forum tersebut akan menjadi ruang evaluasi rutin yang dilaksanakan setiap tahun guna memastikan seluruh program organisasi berjalan optimal.
“Muskercab ini bukan sekadar pembukaan kepengurusan, tetapi akan menjadi forum evaluasi tahunan. Ide dan gagasan besar yang dibahas harus dijalankan bersama oleh seluruh lembaga dan banom,” tegasnya.
Turmudi menyebut, NU memiliki peran besar dalam mendukung pembangunan daerah, baik di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun keagamaan. Karena itu, kekompakan antarstruktur organisasi menjadi kunci utama keberhasilan program-program PCNU Banyuwangi ke depan.
“Kalau seluruh pengurus kompak dan bergerak bersama, organisasi ini akan semakin besar dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, khususnya warga nahdliyin,” tandasnya.
Muskercab tersebut dibuka langsung oleh Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi KH Fakhrudin Mannan dan berlangsung hingga pukul 16.30 WIB. Selama forum berlangsung, berbagai gagasan strategis mengemuka, mulai penguatan kaderisasi, pengembangan ekonomi umat, digitalisasi organisasi, hingga penguatan peran sosial NU di tengah masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi turut menunjukkan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Bupati Banyuwangi diwakili Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Yusdi Irawan. Kehadiran perwakilan pemkab menjadi simbol sinergi antara pemerintah daerah dan NU dalam mendukung pembangunan sosial-keagamaan di Banyuwangi.
Dengan semangat kolaborasi dan modernisasi organisasi, Muskercab I PCNU Banyuwangi diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan NU yang lebih tertata, progresif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat di era digital. (aif)
Editor : Ali Sodiqin