RADARBANYUWANGI.ID – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi mulai memanaskan mesin organisasi. Musyawarah Kerja (Musyker I) PCNU Banyuwangi yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah Purwoharjo, Sabtu (9/5/2026), menjadi momentum penting memperkuat konsolidasi internal sekaligus merumuskan arah gerak organisasi ke depan.
Tidak sekadar forum penyusunan program kerja, Musyker I kali ini juga menandai langkah serius PCNU Banyuwangi dalam membangun tata kelola organisasi yang lebih modern, tertib, adaptif, dan berbasis digital.
Kegiatan diawali sesi upgrading organisasi yang dipandu langsung Sekretaris PWNU Jawa Timur, Ir. Mohammad Faqih. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya penguatan sistem dan tata kelola organisasi sebagai fondasi utama menjaga keberlangsungan jam’iyah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Menurut Faqih, organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya mengandalkan semangat perjuangan. Soliditas struktur, kedisiplinan tata kelola, serta sistem organisasi yang kuat menjadi kunci utama agar gerakan jam’iyah tetap berjalan terarah dan berkelanjutan.
“Keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya tujuan, tetapi juga oleh kuatnya sistem dan tata kelola yang dijalankan bersama,” ujarnya di hadapan peserta Musyker.
Dalam kesempatan tersebut, Faqih juga mengutip maqolah Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA yang dinilai relevan dengan tantangan organisasi saat ini.
“Al-haqqu bilaa nidhoomin yaghlibuhul baathilu bi nidhoomin.”
Yang berarti, kebenaran tanpa sistem akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan baik.
Maqolah itu, menurutnya, harus menjadi pengingat bagi seluruh pengurus NU agar terus memperkuat manajemen organisasi dan menjaga soliditas jam’iyah di semua tingkatan.
“Kalau organisasi tidak dikelola secara tertib, maka sulit untuk bergerak maksimal. Karena itu, penguatan sistem harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Musyker I PCNU Banyuwangi dibuka langsung Rais Syuriah PCNU Banyuwangi KH Fahruddin Manan. Dalam sambutannya, ia menyebut forum Musyker merupakan bentuk nyata kekompakan pengurus dalam menjalankan roda organisasi Nahdlatul Ulama.
Menurut dia, NU lahir dan tumbuh dari tradisi pesantren yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, serta semangat saling menguatkan antarsesama.
“NU adalah rumah besar para pesantren. Karena itu, semangat kebersamaan, saling menguatkan, dan menjaga tradisi harus terus dirawat dalam menjalankan organisasi,” ungkapnya.
KH Fahruddin juga mengingatkan bahwa keberagaman latar belakang pesantren di lingkungan NU harus menjadi kekuatan, bukan justru memunculkan sekat-sekat internal.
Sementara itu, Ketua PCNU Banyuwangi Achmad Turmudzi menegaskan Musyker I menjadi titik awal memperkuat tugas-tugas ke-NU-an di Banyuwangi. Seluruh program organisasi, kata dia, harus dibangun berdasarkan keputusan institusi melalui forum resmi agar memiliki legitimasi dan arah gerak yang jelas.
“Musyker ini menjadi landasan utama menentukan arah organisasi ke depan. Semua program harus terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara organisatoris,” katanya.
Turmudzi juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam pengelolaan organisasi modern. Menurutnya, digitalisasi kini menjadi kebutuhan mendesak agar organisasi mampu bergerak lebih efektif, cepat, dan terukur.
Ia menjelaskan, digitalisasi diperlukan untuk mempermudah inventarisasi aset organisasi, pemetaan potensi warga dan pengurus, hingga pengawasan pelaksanaan program kerja.
“Keberadaan database organisasi yang kuat akan mempermudah proses pengawasan, pelaksanaan, sampai evaluasi program secara lebih efektif dan akuntabel,” tegasnya.
Selain penguatan sistem organisasi, Turmudzi juga menekankan pentingnya reposisi politik PCNU Banyuwangi. Menurut dia, NU harus tetap menjadi rumah besar yang mampu menjalin komunikasi dengan semua pihak tanpa terjebak kepentingan politik praktis tertentu.
“PCNU harus bisa membangun komunikasi dengan seluruh pelaku politik tanpa melihat warna politiknya. NU harus tetap menjadi perekat harmoni sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap NU tidak hanya berperan di bidang keagamaan, tetapi juga mampu menjadi kekuatan sosial yang menghadirkan solusi di bidang ekonomi, budaya, pendidikan, hingga kemasyarakatan.
Musyker I PCNU Banyuwangi dihadiri jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, seluruh MWCNU se-Banyuwangi, lembaga, hingga badan otonom (Banom) NU.
Forum tersebut sekaligus menjadi momentum memperkuat konsolidasi organisasi agar lebih tertata, responsif terhadap perkembangan zaman, serta mampu menjawab tantangan sosial masyarakat secara lebih konkret dan berkelanjutan. (*)
Editor : Ali Sodiqin