Transformasi drastis terjadi di Desa Songgon, Banyuwangi. Lokasi bekas tempat pembuangan sampah (TPS) yang dulunya kumuh dan berbau kini berubah menjadi lingkungan bersih, bahkan mulai dilirik sebagai destinasi. Program Banyuwangi Hijau (BWH) menjadi kunci perubahan berbasis partisipasi masyarakat.
RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mengakselerasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program Banyuwangi Hijau (BWH). Salah satu titik keberhasilan program ini terlihat di desa-desa sekitar Kecamatan Songgon yang berada dekat Tempat Pengelolaan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS 3R) Balak.
Program tersebut membawa perubahan signifikan, tidak hanya pada kebersihan lingkungan, tetapi juga tata kelola persampahan hingga pola pikir masyarakat. Area yang sebelumnya menjadi titik pembuangan sampah kini kembali ke fungsi semula, bahkan berkembang menjadi ruang publik yang produktif.
Kepala Desa Songgon, Qoderi, mengungkapkan bahwa sebelum adanya program Banyuwangi Hijau, warga terbiasa membuang sampah di tepi Sungai Binaung.
“Dulu panjangnya sekitar 70 meter penuh sampah, baunya luar biasa menyengat,” ujarnya.
Kondisi tersebut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga merusak estetika desa. Tumpukan sampah rumah tangga dan pasar di pinggir jalan menjadi pemandangan sehari-hari.
Namun, sejak bergabung dalam program Banyuwangi Hijau, perubahan mulai terlihat. Sistem pengangkutan sampah kini dilakukan rutin dua kali sepekan, disertai pemilahan sejak dari sumber.
“Hasilnya sangat terasa. Lingkungan jadi bersih, warga tidak lagi buang sampah ke sungai. Bahkan sempat dikembangkan wisata arung jeram di lokasi itu,” tambah Qoderi.
Saat ini, sekitar 400 kepala keluarga di Desa Songgon telah berpartisipasi dalam program tersebut. Warga tidak hanya menjadi pengguna layanan, tetapi juga terlibat aktif dalam pengelolaan sampah mandiri.
Rini Setyawati, 41, warga setempat, mengaku perubahan yang terjadi sangat signifikan. TPS liar yang hanya berjarak dua meter dari rumahnya kini sudah bersih total.
“Dulu baunya sangat menyengat, apalagi saat hujan. Sekarang bersih dan enak dilihat,” katanya.
Secara keseluruhan, sejak diluncurkan pada 2023 hingga kuartal pertama 2026, program Banyuwangi Hijau telah menjangkau sekitar 500 ribu jiwa. Hingga 30 April 2026, tercatat 73 desa telah terlayani.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Dwi Handajani, menyebut capaian tersebut sebagai hasil penguatan sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.
“Ini bukan sekadar angkut sampah, tapi membangun budaya baru. Kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah terus meningkat,” jelasnya.
Dalam operasionalnya, TPS 3R Balak didukung 127 tenaga kerja yang menangani pengumpulan hingga pengolahan sampah. Hingga April 2026, total 15.304 ton sampah berhasil dikumpulkan.
Dari jumlah itu, 8.548 ton merupakan sampah organik yang diolah melalui komposting dan metode lain, sementara 3.623 ton sampah anorganik didaur ulang melalui kemitraan dengan sektor pengelola material.
Selain itu, Banyuwangi juga mulai mengembangkan Refuse Derived Fuel (RDF), bahan bakar alternatif berbasis sampah. Kepala UPT Persampahan DLH Banyuwangi, Amrulloh, menyebut RDF telah diuji coba ke industri semen.
“Sudah empat kali dikirim ke pabrik semen di Tuban, rata-rata 20 ton per pengiriman,” ujarnya.
Ke depan, program Banyuwangi Hijau akan memasuki fase ketiga dengan target penambahan layanan ke 39 desa baru pada tahun ini. Secara bertahap hingga 2028, cakupan diproyeksikan mencapai 159 desa.
Meski demikian, tantangan masih ada, terutama terkait konsistensi masyarakat dalam memilah sampah.
“Masih sering ditemukan sampah tercampur. Ini yang terus kami edukasi,” kata Amrulloh.
Perwakilan Project STOP Banyuwangi Hijau, Prasetyo Ibnu Toat, menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada partisipasi warga.
“Kami dorong pemilahan dari rumah tangga, didukung edukasi berkelanjutan dan teknologi digital untuk monitoring layanan,” ujarnya.
Transformasi eks TPS menjadi ruang bersih dan produktif ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat mampu menghadirkan perubahan nyata—bahkan mengubah masalah menjadi potensi destinasi baru. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin