Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perjuangan Abdul Malik Antar Makanan Bergizi di Jalur Ekstrem Bondowoso, Jatuh Berkali-kali Demi Anak-Anak

Ali Sodiqin • Selasa, 5 Mei 2026 | 22:30 WIB
PENUH TANTANGAN: Abdul Malik, petugas distribusi MBG dari SPPG Wringin II mengantarkan makanan kepada siswa di SDN Banyuwulu 4 Bondowoso. (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
PENUH TANTANGAN: Abdul Malik, petugas distribusi MBG dari SPPG Wringin II mengantarkan makanan kepada siswa di SDN Banyuwulu 4 Bondowoso. (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

RADARBANYUWANGI.ID – Di balik program distribusi makanan bergizi, ada kisah perjuangan yang jarang terlihat. Abdul Malik (29), petugas distribusi dari SPPG Wringin II, Bondowoso, Jawa Timur, setiap hari mempertaruhkan keselamatannya demi memastikan bantuan sampai ke tangan anak-anak di pelosok.

Motor yang dikendarainya melaju pelan di jalur berbatu. Ban kerap tergelincir, sementara di sisi kiri menganga jurang dan di kanan berdiri tebing curam. Sedikit saja lengah, risiko terburuk bisa terjadi.

Namun, medan ekstrem itu sudah menjadi rutinitas bagi Abdul Malik selama tiga bulan terakhir. Hampir setiap hari ia menempuh jalur tersebut dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

“Sepanjang jalan batu semua. Ada tanjakan juga,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari Radar Jember.

Perjalanan singkat itu tak pernah mudah. Jalan yang tidak rata membuatnya kerap kehilangan keseimbangan. Bahkan, dalam sehari, ia bisa terjatuh lebih dari sekali.

Beruntung, hingga kini ia belum mengalami luka serius. Refleks cepat menjadi kunci keselamatannya setiap kali insiden terjadi.

“Enggak sampai luka. Untungnya langsung lompat,” katanya.

Momen paling menegangkan terjadi saat hujan turun. Jalan tanah bercampur batu berubah menjadi licin. Rem tak lagi bekerja optimal, membuat motor mudah tergelincir.

“Pernah kepleset. Ngerem, tapi licin, akhirnya jatuh,” kenangnya.

Kondisi semakin berbahaya karena jalur yang dilalui berada di area rawan. Di satu sisi jurang terbuka, sementara sisi lainnya tebing tinggi.

“Kalau ke kiri, langsung jurang. Waktu itu saya lompat ke kanan, ke arah tebing,” tuturnya.

Dalam setiap perjalanan, Abdul Malik membawa muatan yang tidak ringan. Ia mengangkut paket makanan bergizi menggunakan box khusus yang dipasang di motor agar tetap aman selama perjalanan.

“Kalau pakai ompreng pasti tumpah,” ujarnya.

Motor yang digunakan pun merupakan fasilitas kerja, bukan milik pribadi. Dalam sehari, ia harus menghabiskan sekitar tiga hingga empat liter bahan bakar untuk menyelesaikan distribusi.

Meski penuh risiko, Abdul Malik tetap menjalani pekerjaannya tanpa keluh. Baginya, ada alasan kuat yang membuatnya terus kembali menembus jalur berbahaya itu setiap hari.

Di balik jalan berbatu, tanjakan terjal, dan ancaman jurang, ia menemukan makna pengabdian.

“Kasihan anak-anak. Mereka lebih membutuhkan,” ucapnya lirih.

Kisah Abdul Malik menjadi potret nyata perjuangan di balik distribusi bantuan di daerah pelosok. Di saat banyak orang menikmati akses mudah, masih ada mereka yang harus bertaruh nyawa demi memastikan bantuan benar-benar sampai ke yang membutuhkan.

Perjuangan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tanpa akses jalan yang layak, risiko bagi para petugas lapangan akan terus membayangi.

Namun, selama kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terjangkau, Abdul Malik dan petugas lain tetap berada di garis depan—menembus batas, demi memastikan tak ada yang tertinggal. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Bondowoso ekstrem #distribusi makanan bergizi #Abdul Malik #jalan rusak desa #kisah inspiratif petugas lapangan