Pemkab Banyuwangi menyiapkan strategi khusus untuk mengejar swasembada gula tanpa mengorbankan lingkungan. Penyerapan tebu lokal dimaksimalkan agar target produksi tercapai tanpa memperluas lahan tebu.
RADARBANYUWANGI.ID – Upaya mencapai swasembada gula nasional terus dikebut. Namun, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memilih langkah berbeda: mengejar target tinggi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Melalui Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, strategi khusus disiapkan untuk memastikan produksi gula meningkat tanpa memicu alih fungsi lahan yang berpotensi merusak ekosistem.
Kepala Dispertan Banyuwangi, Danang Hartanto, menegaskan pendekatan yang diambil berfokus pada optimalisasi potensi lokal, khususnya penyerapan tebu dari wilayah Banyuwangi sendiri.
“Dengan hilirisasi tebu, kami tekankan agar penyerapan tebu lokal bisa maksimal. Target satu juta ton bisa tercapai tanpa perlu menambah alih fungsi lahan,” ujarnya saat menghadiri syukuran musim giling di Pabrik Gula Glenmore, Sabtu (2/5).
Musim giling tebu 2026 resmi dimulai pekan ini. Dalam periode tersebut, pabrik gula yang berlokasi di Kecamatan Glenmore itu ditarget menggiling hingga 1 juta ton tebu. Angka ini meningkat signifikan dibanding realisasi tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 900 ribu ton.
Lonjakan target tersebut sempat memicu kekhawatiran. Salah satunya terkait potensi alih fungsi lahan dari tanaman keras menjadi tebu yang dinilai dapat memperparah risiko banjir, selain faktor curah hujan tinggi.
Namun, Dispertan memastikan strategi hilirisasi menjadi kunci untuk menekan dampak tersebut. Selama ini, kebutuhan bahan baku pabrik juga dipenuhi dari luar daerah untuk menjaga stabilitas produksi.
“Selama ini PG Glenmore juga menyerap tebu dari wilayah lain. Dengan strategi ini, kami ingin produksi maksimal dari dalam daerah, tanpa membuka lahan baru,” terang Danang.
Tak hanya fokus pada produksi, Pemkab Banyuwangi juga menyiapkan langkah mitigasi lingkungan. Salah satunya melalui program reboisasi di lahan Perhutani dengan penanaman tanaman keras dan buah-buahan.
“Program penanaman kembali seperti alpukat dan durian terus kami dorong. Ini untuk memastikan keseimbangan lingkungan tetap terjaga,” tambahnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi komoditas strategis seperti gula tidak harus berbanding lurus dengan kerusakan lingkungan. Integrasi antara produktivitas dan keberlanjutan menjadi kunci utama.
Dengan strategi tersebut, Banyuwangi optimistis dapat berkontribusi pada target swasembada gula nasional sekaligus menjaga kelestarian alam di wilayahnya. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin