Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Long Weekend Bertepatan Padangan, Nelayan Muncar Banyuwangi Pilih Libur Melaut

Zamrozi Wahyu • Senin, 4 Mei 2026 | 00:00 WIB
PERBAIKAN: Sejumlah nelayan memanfaatkan waktu libur melaut untuk memperbaiki jaring dan kapal di kawasan Pelabuhan Muncar, Minggu (3/5). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
PERBAIKAN: Sejumlah nelayan memanfaatkan waktu libur melaut untuk memperbaiki jaring dan kapal di kawasan Pelabuhan Muncar, Minggu (3/5). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Libur panjang Hari Buruh yang berlanjut hingga akhir pekan tidak hanya dinikmati kalangan pekerja formal. Para nelayan di wilayah Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, juga ikut “libur” melaut.

Namun, keputusan tersebut bukan semata karena long weekend, melainkan bertepatan dengan fenomena alam yang sudah lama dikenal nelayan, yakni musim padangan atau fase bulan purnama.


Tradisi Libur Saat Bulan Purnama

Salah satu nelayan Muncar, Miswan, mengatakan bahwa musim padangan memang menjadi momen di mana para nelayan memilih tidak melaut.

“Bukan hanya ASN yang libur waktu tanggal merah, para nelayan juga ikut libur karena bertepatan dengan padangan,” ujarnya.

Menurutnya, nelayan, khususnya yang menggunakan kapal slerek, biasanya menghentikan aktivitas melaut selama dua hingga empat hari saat bulan purnama.


Ikan Sulit Ditangkap

Fenomena padangan berdampak langsung terhadap hasil tangkapan ikan. Cahaya bulan yang terang membuat ikan cenderung berada di kedalaman laut atau sulit terdeteksi.

Nelayan lainnya, Mansur, asal Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, menjelaskan bahwa kondisi ini sudah menjadi pengetahuan turun-temurun di kalangan nelayan.

“Selama purnama ikan sembunyi di kedalaman laut, jadi sulit ditangkap,” katanya.

Akibatnya, aktivitas melaut dianggap tidak efektif karena hasil tangkapan minim.


Waktu untuk Perawatan Kapal

Meski tidak melaut, para nelayan tetap produktif dengan memanfaatkan waktu untuk melakukan perawatan alat dan kapal.

Miswan menyebut, berbagai aktivitas dilakukan selama masa padangan, mulai dari memperbaiki jaring, mengecek mesin, hingga mengecat kapal.

“Biasanya diisi dengan pekerjaan lain seperti perbaikan kapal dan alat tangkap,” jelasnya.

Kegiatan ini dinilai penting untuk memastikan kapal dan peralatan siap digunakan kembali saat musim tangkapan membaik.


Siklus Alam yang Sudah Dipahami

Musim padangan merupakan bagian dari siklus alam yang telah lama dipahami oleh nelayan tradisional.

Fase bulan purnama memengaruhi perilaku ikan dan kondisi laut, sehingga nelayan menyesuaikan pola kerja mereka berdasarkan pengalaman dan pengetahuan lokal.


Harapan Pasca Padangan

Setelah fase bulan purnama berakhir, nelayan biasanya kembali melaut dengan harapan hasil tangkapan meningkat.

“Setelah padangan selesai, ikan mulai muncul lagi dan tangkapan biasanya lebih banyak,” ujar Mansur.


Antara Libur dan Strategi

Fenomena ini menunjukkan bahwa “libur” bagi nelayan bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi merupakan bagian dari strategi adaptasi terhadap kondisi alam.

Di tengah long weekend nasional, nelayan Muncar justru memanfaatkan momen ini untuk beristirahat sekaligus mempersiapkan diri menghadapi musim tangkap berikutnya.


Kearifan Lokal Tetap Relevan

Praktik menghentikan aktivitas saat padangan menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih relevan dalam menentukan ritme kerja nelayan.

Dengan memahami siklus alam, nelayan tidak hanya menjaga efisiensi usaha, tetapi juga turut menjaga keberlanjutan sumber daya laut.(why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Banyuwangi nelayan #bulan purnama #musim padangan #long weekend #Nelayan Muncar