Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tiga Desa di Wongsorejo Banyuwangi Jadi Lokasi Kincir Angin PLTB, Proyek Energi Bersih Mulai Disosialisasikan

Ali Sodiqin • Rabu, 29 April 2026 | 06:00 WIB
SOSIALISASI: Perwakilan pelaksana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) paparan di hadapan perwakilan Desa Bangsring, Bengkak dan Alasbuluh di kantor Kecamatan Wongsorejo, Senin (27/4). (Camat Wongsorejo for Radar Banyuwangi)
SOSIALISASI: Perwakilan pelaksana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) paparan di hadapan perwakilan Desa Bangsring, Bengkak dan Alasbuluh di kantor Kecamatan Wongsorejo, Senin (27/4). (Camat Wongsorejo for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Peta pengembangan energi bersih di Banyuwangi mulai bergerak konkret. Tiga desa di Kecamatan Wongsorejo dipastikan menjadi lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan turbin kincir angin raksasa setinggi 120 meter.

Langkah awal proyek ini telah dimulai melalui sosialisasi kepada pemerintah desa. Perwakilan perusahaan penggarap proyek mendatangi Kantor Kecamatan Wongsorejo, Senin (27/4), untuk memaparkan rencana pembangunan kepada kepala desa dan sekretaris desa.

Tiga desa yang masuk dalam rencana pembangunan tersebut adalah Bangsring, Bengkak, dan Alasbuluh—wilayah yang dinilai memiliki potensi angin memadai untuk mendukung pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.

Camat Wongsorejo, Mohammad Mahfud, menyebut sosialisasi tahap awal ini masih terbatas pada jajaran pemerintah desa. Tahapan berikutnya akan menyasar masyarakat secara langsung.

“Masih sosialisasi awal. Kemarin yang diundang baru kepala desa dan sekretaris desa. Selanjutnya akan dilanjutkan ke masyarakat,” ujarnya.

Menurut Mahfud, studi awal terkait potensi angin telah dilakukan oleh pihak perusahaan. Bahkan, titik-titik lokasi pemasangan turbin sudah dipetakan secara detail.

Proyek PLTB ini digarap oleh PT Bayu Swaranusantara Energi (BSE), yang disebut memiliki afiliasi dengan investor asal Jerman. Pengembangan ini menjadi bagian dari ekspansi energi angin di Indonesia yang sebelumnya lebih banyak berkembang di luar Pulau Jawa.

“Survei potensi angin sudah dilakukan, titik lokasi juga sudah ditentukan. Tinggal tahap sosialisasi ke masyarakat,” jelas Mahfud.

Lokasi di Kawasan Hutan, Minim Dampak Kebisingan

Salah satu perhatian utama dalam proyek ini adalah dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Pemerintah memastikan lokasi pembangunan tidak berada di area permukiman warga.

Turbin kincir angin direncanakan berdiri di kawasan perkebunan dan hutan, sehingga dinilai minim risiko gangguan, termasuk kebisingan dari putaran baling-baling.

“Lokasinya di tengah hutan, bukan di tanah warga. Kami pastikan tidak ada gangguan seperti suara terhadap masyarakat,” tegasnya.

Secara teknis, setiap desa direncanakan akan dipasang minimal dua unit turbin. Dalam satu titik bahkan memungkinkan hingga tiga kincir angin, tergantung kondisi lahan dan potensi angin.

“Tinggi tiang kincir sekitar 120 meter. Ini yang menjadi tantangan, terutama dalam mobilisasi alat berat ke lokasi,” imbuh Mahfud.

Dorong Ekonomi dan Potensi Wisata Baru

Selain sebagai sumber energi listrik ramah lingkungan, proyek PLTB ini juga diproyeksikan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Pemerintah kecamatan menyatakan dukungan penuh terhadap investasi tersebut, terutama karena berpotensi membuka lapangan kerja baru selama tahap konstruksi hingga operasional.

Lebih jauh, keberadaan turbin kincir angin juga dinilai memiliki nilai estetika yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata baru di kawasan Wongsorejo.

“Selain energi, ini juga bisa menjadi daya tarik wisata ke depan,” katanya.

Target Beroperasi 2029

Meski sudah memasuki tahap sosialisasi, realisasi pembangunan PLTB ini diperkirakan masih membutuhkan waktu. Target operasional diproyeksikan sekitar tiga tahun ke depan atau pada 2029.

Pemerintah menegaskan bahwa seluruh proses harus tetap mengedepankan kepentingan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan.

“Prinsipnya tidak merugikan warga. Justru masyarakat sekitar harus mendapatkan dampak positif,” tandas Mahfud.

Dengan masuknya proyek PLTB ini, Banyuwangi semakin memperkuat posisinya sebagai daerah yang serius mengembangkan energi baru terbarukan sekaligus membuka peluang investasi hijau di kawasan timur Pulau Jawa. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#PLTB Banyuwangi #kincir angin Wongsorejo #energi terbarukan Banyuwangi #Desa Bangsring Bengkak Alasbuluh #investasi energi