RADARBANYUWANGI.ID – Harapan warga akhirnya menemukan titik terang. Setelah hampir setahun ambruk, Jembatan Sungailembu yang menjadi akses vital penghubung Desa Sarongan dan Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, dipastikan segera dibangun permanen tahun ini.
Kabar tersebut meredakan desakan dari kelompok warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Penyelamat Desa Kandangan dan Desa Sarongan. Mereka sebelumnya terus menyuarakan percepatan perbaikan sejak jembatan itu ambruk pada Juli 2025.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Pesanggaran, Didik Eko Wahyudi, memastikan bahwa proyek pembangunan jembatan permanen kini telah memasuki tahapan tender. Seluruh proses pengerjaan direncanakan dilakukan dalam satu paket hingga tuntas.
“Segera diperbaiki menjadi jembatan permanen. Sekarang sudah masuk tahapan lelang,” ujar Didik, Senin (28/4).
Selama proses administrasi hingga pembangunan fisik berlangsung, masyarakat diminta tetap bersabar. Aktivitas penyeberangan sementara masih mengandalkan jembatan darurat yang telah disiapkan pemerintah bersama warga.
Namun, kondisi jembatan darurat tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Pemerintah kecamatan bersama masyarakat secara rutin melakukan perbaikan minor agar tetap aman dilintasi.
Didik menegaskan, langkah tersebut merupakan bentuk respons cepat terhadap kebutuhan warga yang sangat bergantung pada akses tersebut untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan.
“Kami bersama warga dan staf kecamatan rutin melakukan perbaikan. Ini agar jembatan darurat tetap layak digunakan,” tegasnya.
Perbaikan yang dilakukan meliputi pengelasan rangka hingga penambahan material baja pada bagian yang mulai melemah. Upaya ini dilakukan secara berkala, mengingat tingginya intensitas penggunaan jembatan setiap hari.
Tak hanya pemerintah, partisipasi warga juga menjadi kunci keberlangsungan akses sementara tersebut. Ketua Aliansi Masyarakat, Mohammad Arifin, 46, warga Dusun Krajan, Desa Sarongan, mengungkapkan bahwa perbaikan dilakukan secara swadaya.
“Bukan hanya jembatan utama, jembatan darurat untuk roda dua juga rutin kami perbaiki. Kalau tidak begitu, tidak akan bertahan lama,” jelasnya.
Menurut Arifin, kondisi jembatan darurat memang membutuhkan perhatian ekstra karena hanya bersifat sementara namun harus menanggung beban mobilitas harian warga.
Selain memperbaiki jembatan, masyarakat juga melakukan gotong royong memperbaiki akses jalan di sekitar lokasi. Salah satunya dengan pengurukan jalan berlubang yang kerap menghambat distribusi barang dan mobilitas warga.
“Beberapa kali kami iuran untuk menguruk jalan yang rusak di dekat jembatan. Ini bukti kami ikut bergerak bersama,” imbuhnya.
Upaya kolektif antara pemerintah dan masyarakat ini menjadi penopang utama aktivitas warga selama menunggu pembangunan jembatan permanen terealisasi.
Dengan dimulainya proses tender, warga kini berharap pembangunan dapat segera berjalan tanpa hambatan. Jembatan Sungailembu tidak hanya menjadi penghubung antar desa, tetapi juga urat nadi perekonomian kawasan Pesanggaran.
Jika pembangunan berjalan sesuai rencana, kehadiran jembatan permanen nantinya diharapkan mampu mengakhiri ketergantungan pada infrastruktur darurat sekaligus meningkatkan keselamatan dan kelancaran mobilitas warga. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin