RADARBANYUWANGI.ID – Harapan warga di Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi, Jawa Timur, akhirnya menemukan titik terang. Setelah ambruk sejak Juli tahun lalu, Jembatan Sungailembu dipastikan segera dibangun kembali secara permanen pada tahun ini.
Proyek tersebut kini telah memasuki tahap tender dan akan dikerjakan hingga tuntas dalam satu paket pengerjaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Pesanggaran, Didik Eko Wahyudi, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi merespons cepat desakan masyarakat yang selama ini terdampak putusnya akses vital tersebut.
“Sudah masuk tahapan tender. Tahun ini akan dikerjakan dan diselesaikan dalam satu tahap, tidak dicicil,” ujarnya.
Akses Vital Tiga Desa Lumpuh Sejak Jembatan Ambruk
Jembatan Sungailembu merupakan jalur utama yang menghubungkan Desa Sarongan dan Desa Kandangan menuju pusat Kecamatan Pesanggaran. Bahkan, sebagian warga Dusun Sungailembu, Desa Sumberagung, juga bergantung pada akses tersebut.
Sejak jembatan ambruk, mobilitas warga terganggu signifikan. Aktivitas ekonomi, distribusi logistik, hingga akses layanan dasar ikut terdampak.
Ketua Aliansi Masyarakat Penyelamat Desa Kandangan dan Desa Sarongan, Mohammad Arifin (46), menyebut jembatan itu sebagai “urat nadi” kehidupan warga.
“Ini satu-satunya akses utama bagi tiga desa. Dampaknya sangat luas,” tegasnya.
Jembatan Darurat Tak Cukup, Warga Terus Mendesak
Pasca ambruk, pemerintah sempat membangun jembatan darurat. Namun, fasilitas tersebut hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Sementara kendaraan roda empat, termasuk truk pengangkut hasil pertanian, tidak dapat melintas.
Kondisi ini memicu protes warga. Mereka bahkan harus memaksa kendaraan logistik melewati aliran sungai dengan risiko tinggi.
“Kami sempat protes karena mobil dan truk tidak bisa lewat. Padahal warga sangat bergantung pada distribusi hasil tani,” ujar Arifin.
Dampak Ekonomi: Harga Hasil Panen Anjlok
Terbatasnya akses transportasi berdampak langsung pada perekonomian warga. Para petani kesulitan menjual hasil panen dengan harga normal karena biaya distribusi melonjak.
Menurut Arifin, para tengkulak enggan membeli dengan harga wajar karena harus menanggung ongkos angkut yang lebih mahal akibat akses sulit.
“Harga pasti turun. Tengkulak tidak mau ambil risiko biaya kirim tinggi, jadi petani yang dirugikan,” jelasnya.
Selain itu, distribusi kebutuhan pokok ke wilayah tersebut juga kerap terhambat, memicu potensi kelangkaan barang.
Aspirasi Warga Disuarakan hingga Media Sosial
Desakan pembangunan jembatan tidak hanya disampaikan melalui jalur formal, tetapi juga ramai di media sosial. Warga secara konsisten menyuarakan kondisi mereka agar segera mendapat perhatian pemerintah.
Upaya advokasi bahkan telah dilakukan sejak tak lama setelah jembatan ambruk, termasuk audiensi dengan DPRD dan koordinasi dengan pihak kecamatan.
Pemkab Pastikan Pembangunan Tuntas Tahun Ini
Menanggapi tekanan tersebut, Pemkab Banyuwangi memastikan pembangunan jembatan permanen akan menjadi prioritas tahun ini. Dengan sistem pengerjaan satu tahap, diharapkan proyek dapat selesai tanpa penundaan.
Kepastian ini menjadi angin segar bagi warga yang selama hampir satu tahun harus berjuang dengan keterbatasan akses.
Harapan Baru bagi Warga
Dengan dimulainya proses pembangunan, warga kini berharap aktivitas ekonomi dan mobilitas dapat kembali normal. Jembatan permanen diharapkan tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Jika pembangunan berjalan sesuai rencana, Jembatan Sungailembu akan kembali menjadi jalur strategis yang menopang kehidupan ribuan warga di Pesanggaran dan sekitarnya. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin