RADARBANYUWANGI.ID – Hujan deras yang mengguyur wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, pada Senin sore (27/4) menyebabkan jalan raya di Dusun Krajan, Desa Gentengwetan, Kecamatan Genteng, tergenang cukup parah.
Buruknya sistem drainase ditengarai menjadi penyebab utama meluapnya air hingga menutup badan jalan.
Genangan yang cukup tinggi membuat ruas jalan utama tersebut berubah menyerupai aliran sungai. Kondisi ini memaksa sejumlah pengendara menepi karena kendaraan mereka mogok akibat terendam air.
Drainase Tak Mampu Tampung Debit Air
Salah satu pengguna jalan, Ahmadi (51), warga Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, menyebut genangan terjadi karena kapasitas drainase yang tidak memadai.
“Gorong-gorong terlalu kecil, jadi saat hujan deras air langsung meluap ke jalan,” ujarnya saat menepi karena sepeda motornya mati di tengah genangan.
Ia menambahkan, titik genangan cukup parah berada di sekitar Balai Benih Ikan Genteng, tepatnya di sebelah utara kawasan kampus Universitas Islam Ibrahimy.
Menurutnya, hujan dengan intensitas tinggi membuat saluran air tidak mampu menampung debit yang masuk secara tiba-tiba, sehingga meluber ke jalan raya.
Pengendara Diminta Waspada, Jalan Licin dan Berlubang Tertutup Air
Pengguna jalan lain, Riyan, mengungkapkan kondisi jalan yang tertutup air sangat berbahaya. Selain licin, banyak lubang jalan yang tidak terlihat karena tertutup genangan.
“Banyak pengendara akhirnya berhenti meski sudah pakai jas hujan. Mereka khawatir motornya mogok,” katanya.
Situasi tersebut membuat arus lalu lintas sempat tersendat, terutama bagi pengendara roda dua yang paling terdampak.
BPBD: Genangan Terjadi di Sejumlah Wilayah
Anggota Pusdalops BPBD Banyuwangi, Ismanto, menyampaikan bahwa genangan tidak hanya terjadi di Gentengwetan. Sejumlah wilayah lain juga mengalami kondisi serupa akibat hujan deras yang merata.
“Di Kecamatan Kalibaru dan Glenmore juga terjadi genangan, terutama di daerah dengan drainase yang kurang baik,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya curah hujan tinggi, tetapi juga infrastruktur drainase yang tidak memadai.
Minim Resapan Air Perparah Banjir
Selain faktor gorong-gorong yang sempit, perubahan fungsi lahan juga memperburuk kondisi. Banyak halaman rumah dan area pertokoan yang kini tertutup paving atau cor beton, sehingga mengurangi daya serap air ke tanah.
“Air langsung mengalir ke saluran, tapi kapasitasnya tidak cukup, akhirnya meluap ke jalan,” ujar Ismanto.
Warga Diminta Aktif Bersihkan Drainase
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, BPBD mengimbau masyarakat agar lebih proaktif dalam menjaga kebersihan saluran air. Normalisasi drainase secara rutin dinilai penting untuk mencegah penyumbatan.
Selain itu, pemerintah daerah juga didorong untuk melakukan evaluasi terhadap ukuran gorong-gorong yang dinilai sudah tidak sesuai dengan kebutuhan saat ini.
“Drainase yang kecil harus diajukan untuk pelebaran agar mampu menampung debit air saat hujan deras,” tegasnya.
Potensi Terulang Masih Tinggi
Dengan kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan deras, genangan di titik-titik rawan diperkirakan bisa kembali terjadi. Tanpa perbaikan infrastruktur dan kesadaran kolektif warga, persoalan banjir lokal ini akan terus berulang setiap musim hujan.
Hingga berita ini ditulis, air di sebagian ruas jalan mulai surut. Namun, bekas genangan masih menyisakan lumpur dan membuat permukaan jalan licin, sehingga pengguna jalan diimbau tetap berhati-hati. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin